
"UMM.. pak, aku pingin nambah ternak pak." Ucap Ozil.
"Boleh, Zil, ini lele juga sudah stabil kan?"
"Udah pak."
"Kamu mau nambah ternak apa?" Tanya bapak.
"Ayam pak." Jawab Ozil mantap.
"Oohh, ya bagus kalau mau ternak ayam. Kirain mau ternak anaknya Nina.."
"Itu juga mau pak." Ozil nyengir sembari menggaruk kepala nya.
"Kamu belajar dulu Zil yang bener sama Nina." Bapak terkekeh."jangan malah nontonin Vidio.. " bapak menjitak kepala Ozil. "Bikin malu bapak aja." Omel pak Bahdim.
"Aduh pak, nggak mbak Nina, nggak bapak. Bisa nggak sih nggak jitak kepala? Udah jadi bapaknya Zidan ini." Protes Ozil sewot.
"Iya, lupa bapak Zil."kekeh pak Bahdim. "Terus masalah ayam nya gimana?"
"Iya masih rencana sih pak. Tapi aku juga udah dapat tempatnya pak, salah satu teman ku juga ada yang seorang pembibit ayam." Jelas Ozil."juga trik biar kandang ayam nya nggak bau sampai ke luar."
"Bapak sih terserah kamu,Zil. Bapak dukung. Modal kamu udah ada?" Tanya bapak Bahdim yang selalu mendukung apapun yang Ozil lakukan.
"Kalau dana patungan sama mas Kedira." Jelas Ozil lagi. Kedira adalah anak tertua pak Bahdim yang tinggal di kota Magelang.
"Ya udah sih, terserah kalian aja. Kalau kamu butuh apa-apa, bilang aja sama bapak. Bapak lakukan sebisa bapak."
"Doa aja pak, buk. Biar lancar usahanya Ozil." Pinta Ozil.
"Iya, selalu kok Zil." Jawab ibunya. "Semua orang tua itu pasti mendoakan yang terbaik buat anaknya."
"Sekarang kamu sudah punya istri. Minta doa sama istrimu." Saran Pak Bahdim mengingatkan."Ingat Zil. Di balik pria sukses itu, ada istri Soleha yang mendoakan."
"Denger tuh mbak. Mbak harus doa in aku." Ozil menatap istrinya.
"Iya Ozil." Nina tersenyum.
****
Malam telah tiba, Ozil melepas lelah dengan bersantai di teras rumah dan bermain gitar.
🎶"Saat aku lanjut usia
Saat ragaku terasa tua
Tetaplah kau slalu di sini
Menemani aku bernyanyi"🎶
Satu bait lagu seila on seven yang Ozil nyanyikan, sembari melirik manja pada Nina yang asyik dengan ponselnya.
__ADS_1
"Mbak! Liat sini dong. Suami lagi nyanyi juga. Malah sibuk main hp." Protes Ozil menatap Nina.
"Embak lagi balasin karyawan, Oz. Bentar." Elak Nina, meski sebenarnya dia sendiri tak konsen dengan apa yang ia ketik karena nyanyian Ozil yang lucu. Biasa orang bernyanyi lagi romantis, ini nyanyi lagu lanjut usia.
Merasa terabaikan, Ozil kembali memetik gitarnya. Mulai menyanyikan bait ke dua.
🎵"Saat rambutku mulai rontok
Yakinlah ku tetap setia
Memijit pundakmu hingga kau tertidur pulas"🎵
"Mbak Nina....." Panggil Ozil, melirik Nina yang senyum-senyum sendiri."mbak Nina WA nan sama siapa sih? Senyum-senyum."
"Karyawan embak lah." Kilah Nina padahal dia tersenyum oleh nyanyian Ozil.
"Ck! Kapan senyum-senyum buat Ozil mbak." Suara Ozil terdengar bete. Meski begitu, Ozil melanjutkan lagi nyanyiannya.
🎵"Genggam tanganku saat tubuhku terasa linu
Kupeluk erat tubuhmu saat dingin menyerangmu
Kita lawan bersama dingin dan panas dunia
Saat kaki tlah lemah kita saling menopang
Hingga nanti di suatu pagi salah satu dari kita mati
Sampai jumpa di kehidupan yang lain"🎵
"Udah Ozil." Nina meletakkan hp di atas meja. Berganti menatap Ozil yang sumringah.
"Duduk sini dong." Ozil menepuk ruang kosong di samping dia duduk.
Nina pun beranjak dan pindah ke sampingnya. "Udah nih."
Ozil nyengir, lalu mulai melanjutkan lagi lagu yang sempat terputus.
🎵"Saat perutku mulai buncit
Yakinlah ku tetap tersexy
Dan tetaplah kau slalu menanti
Nyanyianku di malam hari."🎵
Meski terputus-putus, namun Nina menikmati lagu yang Ozil nyanyikan kali ini. Sebuah lagu untuk masa depan saat mereka menua bersama nanti. Meski fisik telah berubah, namun tak merubah cinta di antara mereka nanti.
Lagu membuka lagi ingatan Nina akan Ozan, mantan suaminya yang telah meninggal. Mereka sempat membangun mimpi bersama hingga tua nanti. Melihat anak dan cucu yang tumbuh juga lucu.
Tiba-tiba saja air mata Nina menetes. Wajah Ozil yang tengah bernyanyi sembari menatap Nina tertegun.
__ADS_1
"Mbak Nina... Kok nangis?"
Ozil meletakkan gitarnya kesamping lalu memeluk Nina. Membawa kepala wanitanya ke dalam dada.
"Maaf Oz. Mbak ingat mas Ozan." Isak Nina. Meski Ozil adalah mantan adik iparnya dulu, namun setelah mereka menikah, tentu Nina merasa bersalah pada suaminya karena masih menangisi Ozan.
"Nggak papa mbak. Besok ke makam mas Ozan ya kalau mbak Nina rindu?" Kata Ozil mengusap punggung dan kepala Nina. Membiarkan Nina menumpahkan segala perihnya karena kenangan dari sang kakak yang tak kunjung pudar dari ingatan Nina.
Hingga tangis Nina berangsur mereda. Hanya bahunya yang masih sedikit berguncang. Ozil tetap setia memeluk dan menungguinya.
"Udah tenang mbak?"
Dengan wajah yang sembab, Nina memaksa menerbitkan senyumnya. Dengan kedua jempolnya, Ozil mengusap pipi Nina yang basah.
"Mbak Nina cantik kalau tersenyum."
Wajah Nina terasa menghangat, ia tersenyum kecil sembari menundukkan wajahnya.
Ozil mengangkat tangannya dan menyentuh dagu Nina. Memaksa wajah Nina untuk menatap padanya.
"Aku sayang sama mbak Nina. Jangan nangis lagi ya." Ucapnya sebelum Ozil semakin mendekatkan wajah.
Kedua netra Nina menutup, bukan hal yang ia tidak tau jika seorang pria yang sah dan halal untuk nya mulai mendekatkan wajahnya dengan mata yang perlahan menutup.
Bibir lembut nan kenyal menempel di bibir Nina. Memberinya sesapan kecil, dan bergerak mencari celah untuk lidah Ozil masuki. Hembusan nafas Ozil yang semakin cepat membawa irama lain dalam setiap sentuhan lembut bibirnya dan belaian lidah Ozil di mulut Nina.
"Dia mulai pintar." Gumam Nina dalam hati. Dua lidah yang bertemu dan saling membelai itu, lama kelamaan menimbulkan suara kecapan. Hingga tiba-tiba suara sumbang menghentikannya.
"Astaghfirullah! Nina! Ozil!"
Dengan reflek yang cepat Nina dan Ozil saling mendorong seperti pencuri yang ketahuan oleh pemiliknya.
"Pindah ke kamar sana! Malah di teras kalau di lihat tetangga gimana?" Omel Bu Ana menatap tajam anak beserta menantunya.
Nina dengan cepat dan malu mengusap bibirnya yang basah.
"Iya benar, kalian udah sah buat nglakuin itu, tapi ya nggak di luar juga."Bu Ana mengomel.
Nina beranjak tanpa suara menyaut hp dan berjalan masuk ke dalam rumah langsung ke kamar. Dengan di liputi rasa malu.
Ozil yang tak kalah Salah tingkah. Mengambil gitar lalu masuk ke dalam di iringi suara Bu Ana yang menggerutu.
"Walau malam tetep aja kalau di luar di lihat tetangga ya nggak enak. Malu!"
"Sudahlah buk, kayak ibuk nggak pernah mudah aja." Pak Bahdim menyela Omelan sang istri.
"Tapi pak, kita kan juga tau tempat, nggak di teras juga begitu..."
"Iya, iya ibuk ngak pernah salah."
Nina yang udah berada di kamar bersembunyi di bawah selimut, Ozil pun ikut menyelinap masuk bersembunyi di bawah selimut yang sama.
__ADS_1
"Mbak Nina, nggak aman ini. Besok kita kontrak rumah ajalah. Ada bapak sama ibuk nggak aman." Celetuk Ozil tepat di samping Nina.
Nina tertawa kecil membekap mulutnya. "Yah, beginilah jika tinggal sama mertua."