
"Mbak," bisik Ozil. "Nanti kita nggak usah pulang ya mbak?"
Nina menatap Ozil dengan tanya.
"Ke hotel aja." Cengir Ozil
Nina mendengus. "Bocah ini selalu semangat, tapi pas di atas ranjang, malah kebingungan. Dasar bocil!" Gumam Nina dalam hati.
****
"Oz!"
"Iya mbak," sahut Ozil dari dalam kamar mandi.
"Buruan Oz, mbak mau pipis nih." Seru Nina dari depan pintu kamar mandi.
"Iya mbak, bentar cebok dulu." Ucap Ozil akhirnya.
Setelah cebok dan menaikkan celananya, Ozil melihat ke lobang ******. Memastikan tak ada lagi tai nya yang tertinggal. Nina dan Ozil memang sengaja memilih hotel, EHEM, losmen maksudnya, yang lebih murah. 100rb permalam. Dengan fasilitas, kamar mandi, kipas angin, tivi dan dua tempat tidur.
"Eh, masih ada?" Gumam Ozil. Mengambil air dengan gayung lalu menyiramnya. Ia lihat lagi, ternyata benda itu masih nonggol juga.
Ozil siram lagi, masih nonggol lagi.
"Ozil! Buruan!" Teriak Nina tak sabar dari luar kamar mandi.
"Iya mbak." Sahut Ozil lalu menyiram banyak-banyak. Ia tersenyum menang melhat benda itu sudah tak terlihat lagi. Namun...
"Iihh, bandel banget sih taik." Gerutu Ozil semakin brutal menyiram hingga habis air dalam bak.
"Akhirnya..." Gumam Ozil setelah benda itu benar-benar hilang terbawa arus.
Ozil membuka pintu setelah menyalakan kran air.
"Lama banget sih." Omel Nina buru-buru masuk ke kamar mandi dan menguncinya.
Ozil melangkah mendekati ranjang di mana Zidan tidur. Tiba-tiba,
"Ozil! Kalau eek tu di siram!" Teriak Nina kesal dari dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Astaghfirullah...." Ozil memegang dadanya.
****
"Makasih ya nak Ben." Ucap bunda begitu membuka pintu rumah.
"Iya Bun, saya pamit dulu ya." Kata Ben setelah meletakkan semua barang bunda dan Dila ke kursi tamu.
"Nggak mau nginep sini?" Tawar bunda.
"Enggak bun, besok sudah ke sini lagi kok sama mama, papa." Tolak Ben halus. "Besok pagi juga masih ada urusan di resto."
"Ya sudah. Hati-hati di jalan ya."
Ben mengangguk. Lalu berganti menatap istrinya.
"Pulang dulu ya," menatap Dila lekat, sedangkan gadis itu mencium tangan Ben Arfa.
"Kabari kalau sudah sampai."
Setelah Ben Arfa pergi, dan mengunci pintu. Dila memberesi barang yang dia dapat dari pasar malam ke dalam kamar. Lalu Dila membersihkan diri. Setelah keluar dari kamar mandi dan masuk lagi ke kamarnya, Dila merebahkan diri ke atas kasur.
Tiba-tiba sorot mata Dila melihat sesuatu bungkusan yang asing. Dila bangkit dan menarik bungkusan itu. Sebuah kotak yang dilapisi beludru. Jantung Dila terpacu, seraya mbukanya. Mata ia melebar, sebuah kalung dengan bandul inisal namanya dan nama Ben. Juga satu buah cincin bermata dan gelang.
Tak lama hp nya berbunyi. Pesan wa masuk ke gawainya. Dila bergegas mbuka pesan yang datang berurutan. Dari Nina dan Ben.
Pertama Dila membuka pesan dari Nina. Yang menyampaikan jika mereka tak pulang dan menginap di hotel. Setelah membalaa pesan dari Nina. Dila membuka pesan dari Ben Arfa.
("Sudah sampai.")
("Suka nggak sama hadiahnya?")
Dua baris pesan dari Ben membuat sudut bibir Dila terangkat.
("Suka. Makasih, mas.") Balas Dila.
("Besok di pakai ya.") Balasan dari Ben Arfa.
("Sama baju yang kemarin kita coba.") Balasan dari Ben.
__ADS_1
Dila tercenung, ia tak ingat pernah menerima baju yang di maksud. Belum sempat menanyakan, Ben sudah mengirimi pesan lagi.
("Ada diantara tumpukan barang mu, harusnya ada di bawah kalung.") Pesan dari Ben.
Dila tak menjawab pesan itu, ia lebih dulu mencari diantara tumpukan boneka dan beberapa barang hasil dari menang permaianan tadi.
Ada satu yang terbungkus paperbag bertuliskan sebuah nama butik. Dila mengambil paperbag itu. Lalu mengambil baju di dalamnya. Dila mengulas senyum.
"Mungkin mas Ben Serius dengan ucapannya. Dia manis sekali." Gumam Dila memeluk baju berwarna hijau pastel itu."Setidaknya, dia sudah berusaha, walau kadang mungkin dia masih menyimpan kenangan tentang mbak Nina."
***
"Mbak Nina,"
"Hemm..."
"Mbak Nina, ayok."
"Aku ngantuk Ozil."
"Yah, udah pesan hotel juga.' gumam Ozil terdengar menggerutu.
Sebenarnya, Nina nggak benar-benar mengantuk. Ia hanya mengusili Ozil saja. Nina mengulas senyum di wajahnya yang tidur miring membelakangi Ozil.
"Mbak Nina."
Nina bergeming.
"Mbak Nina."
Ozil mencondongkan tubuhnya mendekati Nina. Buru-buru Nina memejamkan mata.
"Yah, malah tidur." Ozil mendessaah pelan lalu menjatuhkan tubuh di samping Nina tidur.
Hening, Nina masih menunggu Ozil bergerak.
"Dia apa malah ikutan tidur?" Gumam Nina dalam hati.
Nina masih menunggu, namun Ozil seperti tak melakukan gerakan apapun. Nina penasaran apakah Ozil sungguh tidur atau tidak, Nina membalikkan tubuhnya menghadap Ozil.
__ADS_1
"Ea.... Mbak Nina... Pura-pura tidur kan?" Ozil melengeh sembari menunjuk Nina dengan jari. Berbaring miring menghadap Nina dengan sebelah tangan menyangga kepalanya.