Nikah Yuk Mbak?!

Nikah Yuk Mbak?!
bab 28


__ADS_3

Malam itu, Nina dan Dila tidur dalam satu kamar. Zidan sudah terlelap lebih dulu.


"Jadi itu tadi yang namanya Ben Arfa ya mbak?"


"Hmmm..."


"Ganteng kok."


Nina hanya mengulas senyum.


"Embak nggak makan ganteng, Dil."


"Sepertinya di orangnya kaya. Bapaknya aja bule. Mereka juga ke sini dengan mobil Alphard. Itu kan mobil mahal mbak."


"Kamu tau Dil? Nikah sama orang kaya itu justru membuat mbak takut."


Dila memiringkan tubuhnya dan menatap Nina dari samping. Ia tak mengatakan apapun, namun terlihat jelas dia sangat tertarik ingin tau lebih lanjut.


Nina mengulas senyum menatap adiknya.


"Kenapa mbak takut?" Dila udah tak bisa menahan rasa penasarannya."mbak kan nggak perlu khawatir kelaparan. Nggak perlu khawatir hidup susah. Semua yang mbak mau bisa terpenuhi."


"Hidup nggak selalu tentang materi dan fisik, Dil." Nina menatap langit-langit kamarnya."Kamu tau kenapa dulu mbak milih mas Ozan jadi imam mbak?"


'karena mas Ozan baik." Ucap Dila cepat.


" Nggak cuma itu aja. Dia juga memiliki sifat yang bisa mengimbangi sifat mbak. Bukan pria yang bicara tinggi dan meyombong. Mas Ozan bukan hanya pria yang baik, namun bisa membuat mbak nyaman dan tenang."


"Mas Ben juga baik, aku lihat. Dia juga nggak sombong"


"Iya, dia memang baik. Tapi..." Nina melirik Dila sesaat. "Dia orang kaya, itu yang mbak nggak suka. Mbak takut jika suatu saat nanti kami bermasalah, mbak akan sangat kesulitan pasti untuk bertemu dengan anak kami.


Mbak takut di remehkan karena mereka orang kaya. Kita ini orang susah Dil, bunda juga seorang janda, apa yang bunda bisa lakukan jika kita mendapat perlakuan semena-mena dari keluarga suami. Bunda pasti sangat sedih." Nina menjelaskan dengan panjang lebar.


"Kita nggak pernah tau, Dil. Karakter orang akan seperti apa? Bisa saja baik di awal lalu berubah kemudian. Itu bukan berarti mbak bilang Ben orang yang tidak baik. Mbak hanya punya ketakutan tersendiri yang harus mbak atasi. Selain itu, di hati mbak masih ada mas Ozan." Terang Nina lagi.


"Padahal mas Ozan sudah lama di kuburkan. Tapi, dia masih hidup di hati mbak Nina."


Nina hanya mengulas senyum.


"Mas Ozan pasti sedih mbak Nina masih belum bisa move on. Dan menolak orang sebaik mas Ben."

__ADS_1


"Embak nggak nolak, Dila. Mbak mau istikharah dulu."


"Iya deh, semoga mbak di kasih jalan yang terbaik." Ucap Dila memeluk kakak nya. "Ayo mbak tidur."


"Heemmm...."


Nina memejamkan matanya.


Flash back selesai.


Di sepertiga malam, Ozil terbangun. Berjalan keluar dari kamarnya. Seperti yang bapak pernah bilang, ia harus mengandalkan Sang pencipta disaat seperti ini. Karena hanya pada-Nya lah Ozil harus menyerahkan seluruh hidup dan jalan takdirnya.


Suara gemericik air yang meluncur dari gentong menambah syahdu suara nyanyian malam. Ozil membasuk kedua tangannya. Lalu berlanjut pada rambut, hingga ia menyelesaikan ritual berwudhu nya.


Ozil menggelar sajadah yang menjadi tempatnya bersujud memohon keribaan sang Pencipta. Dan mulai melafalkan ayat-ayat cinta kepada -Nya.


"Allahuakbar."


Dalam malam yang hening, Ozil khusyuk dalam dua rakaat sholat nya. Di iringi Zikir yang panjang dan menguras semua emosinya. Hingga tubuh Ozil bergetar, tangannya menengadah memohon pada yang khalik.


"Ya Alloh, dia lah wanita yang selalu hadir dalam setiap doa-doa ku. Aku telah berusaha untuk meraih cinta nya. Mencoba untuk menghalalkannya menjadi makmum ku. Aku tau, khodar Mu lah yang terbaik untuk kami. Namun, Engkaulah yang maha membolak-balikkan kan hati. Balikkan lah hati mbak Nina untuk memilihku menjadi imamnya.


Tapi jika, khodar Mu berkata tidak. Meski hati ini akan sakit. Aku akan mencoba iklas."


"Ozil."


Ozil menoleh.


"Ayo ikut bapak ke masjid, subuhan di sana saja. Kalau subuh nggak ada yang jamaah." Ajak pak Bahdim sembari memakai sarung.


Ozil mengangguk.


Di rumah Nina.


Sudah hampir empat hari lamanya Nina ber- istikharah. Namun ia masih belum mendapatkan jawaban pasti. Hati nya masih sangat bimbang.


"Haruskah aku menolak keduanya?" Gumam Nina seusai melaksanakan solat malam nya.


Nina memperpanjang zikirnya, maksud hati ingin sekalian menunggu subuh. Namun entah kenapa matanya kali ini serasa sangat berat hingga tertidur di atas sajadah.


Dalam tenang nya malam, Nina bermimpi. Ia bertemu dengan mantan suaminya yang telah meninggal.

__ADS_1


"Mas Ozan?"


"Nina... Mas kangen."


Nina dan Ozan berpelukan melepas rindu yang telah sangat lama terpendam. Aneh nya saat itu, Nina merasa dan tidak ingat jika Ozan telah meninggal. Mereka hanya lama tak bertemu saja.


"Nin, ayo kita ke kepantai." Ajak Ozan mengulurkan tangannya. Nina pun merasa sangat bahagia. Berpiknik dengan suaminya. Hingga hari semakin sore. Dan mereka memutuskan untuk pulang.


"Mas sayang sama kamu, Nin." Ucap Ozan tersenyum.


Nina membuka mata bersamaan kumandang azan subuh. Netra Nina terasa sangat basah rasa rindu nya pada sang suami yang pergi lebih dulu semakin besar.


Di sepertiga malam berikutnya, Nina bermimpi lagi. Pergi dengan Ozan di sebuah taman yang indah. Zidan berlarian dengan riang mengejar kupu-kupu.


"Nina, mas sayang sama kamu. Kamu harus bahagia."


"Bahagia ku terletak pada mu dan Zidan, mas." Jawab Nina menatap manik mata suaminya yang tersenyum teduh padanya.


Nina terjaga.


"Astaghfirullah." Nina bergumam. Nina melihat jam dinding, 2.30 dini hari. Gegas dia mengambil wudhu dan mulai melaksanakan dua rokaat nya.


"Sudah dua malam ini aku memimpikan mas Ozan. Apa aku begitu rindu padanya? Ataukah ini adalah pertanda? Hati ini memang masih terisi mas Ozan. Apakah ini berarti aku harus menolak kedua nya?" Nina bergumam.


****


"Nin, ini sudah hampir seminggu. Kamu udah dapat petunjuk?" Tanya bunda pagi itu.


Nina yang sedang membantu sang bunda mengiris bawang menghentikan gerakan tangannya sesaat. Lalu mulai mengiris lagi.


"Belum Bun." Lirih Nina.


"Kalau bunda boleh kasih pendapat, sebenarnya, bunda lebih suka pada Ozil. Bunda pikir, kita sudah menjadi satu keluarga. Sudah saling kenal dan tak perlu beradaptasi lagi. Sudah jelas pak Bahdim dan keluarga nya menerima kita."


Nina menyimak penuturan sang bunda.


"Tapi, Ben juga tidak buruk. Dia baik, selam bunda mengenal dia dari SMA, bunda sudah merasa kalau dia itu cinta sama kamu. Keluarga Ben juga bunda rasa cukup terbuka. Nggak akan menyia-nyiakan anak bunda. Mereka juga kaya sepertinya. Mobilnya saja bagus. Kata Dila itu harganya satu M."


Nina tertawa kecil. "Sepertinya bunda juga bingung mau pilih mantu yang mana?" Goda Nina


"Iya sih Nin. Kalau dari Ozil lebihnya kita sudah menjadi keluarga. Akan lebih erat lagi jika kamu menikah dengan nya. Tapi, bunda tergiur juga sama harta nya Ben. Ha-ha-ha... Bisalah bunda pamerkan ke tetangga yang julid ntar. Ha-ha-ha..."

__ADS_1


Bunda terus terkekeh-kekeh dengan ucapannya sendiri. Nina pun jadi ikut tertawa.


"Tapi, apapun keputusanmu dan siapapun yang nanti bakal kamu pilih. Bunda tetep dukung kok." Bunda mengusap lengan Nina. Lalu kembali menggoreng ikan bandeng.


__ADS_2