Nikah Yuk Mbak?!

Nikah Yuk Mbak?!
bab 36


__ADS_3

"Mbak Nina!"


"Apa setelah kita nikah nanti mbak Nina bakal terus mengunjungi makam mas Ozan?" Tanya Ozil saat ia ikut meluangkan waktu berziarah di makam kakaknya Kamis sore.


"Iya, mbak ingin Zidan tetap tau siapa ayahnya, dan kewajibannya sebagai anak. Yaitu mendoakan dan berziarah ke makam ayahnya, Oz." Terang Nina sembari mencabuti rumput di sekitar pusara mantan suaminya.


Zidan juga ikutan mencabut rumput di antara Nina dan Ozil.


"Kamu nggak keberatan kan?"


Ozil menggeleng. "Enggak mbak. Aku senang, tapi, apa hati mbak masih ada mas Ozan?"


Gerakan tangan Nina terhenti dan menghela nafas kemudian.


"Kalau mbak boleh jujur, ada ruang tersendiri untuk mas Ozan, Oz. Di hati ini, tetap sulit untuk melupakan, ataupun menyingkirkan mas Ozan." Ungkap Nina lalu melanjutkan mencabut rumput dan membersihkan pusara Ozan. "Maaf, Oz."


Walau terasa nyeri, tapi, Ozil tetap berusaha tersenyum.


Malam itu, Nina memutuskan untuk menginap di rumah pak Bahdim. Hujan turun cukup lebat hingga memaksa Nina untuk menginap. Lagi pula, pak Bahdim dan ibu Ana melarang Nina pulang. Terlalu berbahaya berkendara di malam yang hujan.


Malam semakin larut, Nina tidak menutup pintu kamarnya karena sedari tadi, Zidan hanya keluar masuk kamar Nina. Bahkan bocah berusia tiga tahun itu memilih lelap di kamar Ozil. Berhubung, Zidan masih menggunakan Pampers dan sudah cukup penuh, Ozil masuk kekamar Nina untuk mengambil popok yang baru. Dengan langkah pelan agar Nina tak terganggu, Ozil masuk ke dalam kamar. Mengambil popok dan sesekali menoleh memastikan Nina tak terbangun.


Saat ia hendak keluar. Langkah Ozil terhenti. Lalu menatap Nina yang masih pulas di bawah selimut.


"Mbak Nina." Lirih Ozil menatap lekat wajah cantik Nina.


"Mbak lupa ya saat pertama kita ketemu dulu?" Lirih Ozil terus menatap Nina. "Kita sama-sama menjadi korban penculikan anak. Apa mbak lupa saat kita kabur dan di temukan warga?"


Ozil mengulurkan tangannya. Menyingkirkan anak rambut ke belakang telinga Nina. Ozil menelan ludah nya, perlahan mendekat dan hendak mencium pipi wanita yang sebentar lagi menjadi istrinya itu. Namun terhenti tepat beberapa senti sebelum bibirnya menyentuh pipi Nina. Lalu kembali menegakkan punggungnya.

__ADS_1


"Aku sayang sama mbak Nina. Bobok yang nyenyak ya? Aku akan bersabar sampai waktunya kamu tidur di sampingku."


Setelah membisiki itu, Ozil berlalu dari kamar Nina dengan senyum yang terukir di wajahnya.


Keesokan harinya, pak Bahdim yang baru pulang meladang untuk sarapan. Merasa kesulitan melepas kausnya.


"Buk! Buk!"


"Ada apa to pak?" Bu Ana datang mendekat dengan sepiring nasi beserta lauk nya untuk sarapan sang suami.


"Susah e buk ini lepas nya." Keluh pak Bahdim sembari mengangkat tangannya, mencoba melepas kaus yang menempel di tubuhnya.


"Ya ampun pak, makanya nya, ini badan jangan kegedean. Jadi susah kan?" Bu ana menggerutu. Namun tetap mencoba membantu sang suami melepas kausnya.


"Ini kan karena ibuk juga yang bikin." Gumam pak Bahdim tak mau kalah.


"Kok jadi ibuk?"


Karena masih kesulitan melepas kaus, dan pak Bahdim sudah kelelahan karena tangan yang terus terangakt ke atas.


"Naik ke kursi itu buk."


Pak Bahdim pindah berjongkok di depan kursi. Sedangkan Ozil dan Nina hanya senyum-senyum melihat pasangan yang sudah lanjut usia itu bekerja sama melepas kaus dari tubuh pak Bahdim.


"Apa Zil? Cengengesan!" Omel pak Bahdim setelah kaus berhasil lepas dari tubuhnya.


"Di kecilin pak badannya tuh, kek Ozil nih." Ozil mencibir.


"Ck. Kamu belum ngrasain aja Zil. Besok kalau kamu kamu dah nikah, bakal buncit juga kek bapak."

__ADS_1


"Enggaklah pak, aku kan rajin olah raga." Sanggah Ozil menyuap pisang goreng buatan Nina ke mulutnya.


"Hmmm.. nggak percaya kamu." Pak Bahdim mencebik. "Ini badan bapak dulu juga seperti kamu, makanya ibuk kamu ini kepincut sama bapak. Tapi, abis nikah bapak terus dikasih makan sama ibuk kamu ini sampai perut bapak jadi kek gini."


"Udahlah, bapak puasa aja." Bu ana pura-pura ngambek mengambil lagi sarapan yang ia siapkan untuk suaminya.


"Eeh, jangan lah buk, yang bikin perut gendut ini kan nggak cuma makanan dari ibuk." Pak Bahdim mentowel dagu istrinya."karena ibuk kasih yang lain-lain juga."


Bu ana menggelengkan kepalanya dengan wajah sedikit tersipu juga senyum malu-malu di wajahnya.


"Sudah ah, bapak ini. Mau masak aku." Gumam Bu ana lalu masuk kedalam rumah.


Nina dan Ozil di tertawa kecil melihat tingkah orang tua di depannya.


"Mbak, Nina kalau nanti kita dah nikah, terus perut ku jadi buncit kek punya bapak mbak masih mau nggak sama Ozil?"


Nina tersenyum geli mendengar pertanyaan polos Ozil.


"Kok malah ketawa sih mbak?"


"Habis kamu ini nanya nya aneh-aneh."


Pak Bahdim pun ikut tertawa mendengar celotehan Ozil sampai Zidan yang sedang menggambar di dekat Nina terkejut.


"Kamu ingat Zil kapan bapak gendut."


"Nggak tau, sejak Ozil lahir bapak dah gendut." Jawab Ozil asal.


"Ibukmu nggak pernah ninggalin bapak kan sampai sekarang? Itu karena ibukmu cinta sama bapak bukan karena fisik." Bapak terkekeh.

__ADS_1


"Udah pak, tiap hari malah, ninggalin bapak. Tuh, meladang, ke pasar, sekarang ditinggalin ke dapur."


"Yaahhh, itu beda Zil!"


__ADS_2