
"Uuuugggghhhh,, mbak Nina aku tersiksa lahir batiiinnn...."keluuhh Ozill dengan penekanan disetiap kata-nya.
"Kangen bangeettt niihhh...."
Ozil mulai memetik gitarnya lagi, dan bersenandung. kali ini nyanyiin lagunya keris patih.
Bintang malam katakan padanya
Aku ingin melukis sinarmu dihatinya
Embun pagi katakan padanya
Biar kudekap erat waktu dingin membelenggunya
Taukah engkau malam ini
Ku ingin bertemu membelai wajahnya
kupasang hiasan angkasa yang terindah
Hanya untuk dirinya
Lagu rindu ini kuciptakan
Hanya untuk bidadari hatiku tercinta
walau hanya nada sederhana
Ijinkan ku ungkap segala rasa dan kerinduan..
Ozil mendesssaaahh panjang.
"Berat, berat, berat, berat... Emang berat rindu ini..."gumam Ozil menyeruput kopi hitamnya.
"Lebih berat menahan rindu dari pada menahan gunung..... Beraatt.. emang beraatt..." Ozil menggeleng kepalanya sok menjiwai.
"Cieeekk iiillleeeehhhhh! Mau muntah aku dengernya." olok Karim yang tiba-tiba nonggol diteras samping.
Ozil menoleh kearahnya.
"Sejak kapan disitu?" seru Ozil meletakkan kembali cangkir kopinya."kek begu aja tiba-tiba muncul."
"Sejak tadi lah, keenakan nyanyi kamu Zil, makanya nggak ngrasaain kehadiranku."balas Karim santai. "Kamu takoooott puunn sama begu." ejek Karim menjulurkan lidahnya.
"Yah, namanya juga makhluk halus, gimana aku bisa ngrasaiinnya?"oceh Ozil kembali memetik gitarnya.
Karim melompati pagar pembatan dari beton setinggi 50cm itu.
"Bagi kopi Zil."
"Sok tuuhh."menunjuk dengan kepalanya.
Karim menyeruput kopi hitam milik Ozil. Lalu dia duduk disamping Ozil yang sedang memainkan gitarnya.
"Sini! aku yang main!"Seru Karim merebut gitar Ozil.
"Ada rokok nggak?"tanya Ozil menyeruput sisa kopinya.
"Nggak! Anak baek aku mah. Kagak ngrokok."tukas Karim memainkan nada gitar.
"Kamu keberatan kejatuhan rindu siapa Zil?"
"Kejatuhan janda anak satu."
Karim mematung. tiba-tiba saja sahabat Ozil itu membeku.
"Napa kamu?"tanya Ozil heran
"Janda mana Zil?"
"Janda abangku."jawab Ozil enteng.
__ADS_1
"Mbak Nina?" tanya Karim tersentak kaget. wajah Karim masih sangat terkejut. Ozil nggak menjawab, hanya nyengir saja. Lalu mencomot pisang goreng di meja.
"Gilak kamu Zil."
"Mungkin juga, Rim."balas Ozil lagi nyengir.
"Sumpahh..... Kamu kesambet apaan?"
"Kesambet mbak Nina, Rim."
"Waahh,, parah kamu becandanya."
"Seriusan." Ozil mencomot lagi pisang goreng di meja dan menjejalkannya dimulut Karim. Ozil terkekeh.
"Sembarangan. Bisa ngambil sendiri aku."omel Karim mengunyah pisang goreng dimulutnya.
"Jadi kamu blas nggak ada rasa sama Nisa?" tanya Karim menegaskan.
"Apa sih? kita berteman kok."elak Ozil ngleyos mengambil alih gitar ditangan Karim.
"Ckckck... Nggak peka emang kamu mah."
______
Malam itu, selepas Nina mengucap salam dipenghujung sholatnya, suara dering hp membuatnya beranjak. Dengan masih menggunakan mukenanya, Nina mengambil hp yang dia simpan di atas kasur kamarnya.
Panggilan vidio dari nomor Ozil. Nina menggeser tombol biru. Terlihat muka penuh Ozil di layar.
"Ada apa Oz?"
"Zidan mana mba?"
"Ada lagi makan sama utinya tuh."ucap Nina,"Bentar ya mbak panggilin."
"Mbak Nina juga baru selesai sholat ya?" Ozil bertanya ditengah Nina yang berjalan ke ruang tengah.
"Sehati kita ya mbak." di ikuti dengan cengiran diwajahnya.
"Kamu ngomong apa sih Oz?"memutar matanya malas.
"Hehehe... Jangan-jangan doa kita juga sama mbak?" ucap Ozil lagi, "Mbak Nina tadi doa apa?"
"Mau tau aja deh. Rahasiaku sama Alloh lah." balas Nina sedikit kesal.
"Ini Zidan kemana sih? Tadi diruang tengah kok."gumam Nina, masih berkeliling rumah.
"Hmmm... Padahal aku mau kasih tau doaku nih."
"Nggak usah."
"Kenapa? Nggak penasaran mbak?"
"Nggak." balas Nina singkat. "Zidannya nggak tau kemana Oz. tadi ada. Apa dibawa utinya yaa?"gumam Nina lagi. Wanita itu kembali kekamar.
"Ya udah. nggak papa mbak. Aku ngobrol sama Mbak Nina aja."
"Hmmmm... kamu mau modusin Mbak ya?"
"Eeh,, mbak tau aja kalau mau dimodusi?"kekeh Ozil
Ini kok malah jadi Ozil yang ngoceh? Bukannya tadi nanyain Zidan. batin Nina heran melepas mukenanya begitu sampai kembali kekamarnya.
"Eh mbak, jangan dilepas mukenanya."
"Kenapa?"Nina meletakkan hp nya di atas sajadah,melepas mukenanya dan melipat.
"Mbak cantik kalau pake mukena, apalagi kalau berdiri satu syaf dibelakangku. Beeuuuhhh.... Ngalah-ngalahin Rasti Tagor, mbak." Ozil meletakan hp nya dengan posisi bersandar pada tembok. Maksudnya sih, biar Nina juga bisa melihat aktifitasnya. Maksudnya gitu.
"Mbak kok nggak kelihatan? Malah liat langit kamar." Ozil melepas Kokonya, ada kaus putih dibalik koko yang dia kenakan. Lalu melepas sarungnya dan dilipat, celana cargo pendek berwarna gelap tampak melekat di tubuhnya.
Nina selesai melipat mukenanya, mengambil hpnya dan menyimpan mukena berikut sajadahnya di lemari. Nina melihat lagi kearah layar hpnya.
__ADS_1
"Mbak. Kita beneran sehati deh mbak. Sama-an make kaus putih." sambil berjalan Ozil menyorotkan kamera hpnya ke tubuhnya seperti Nina yang juga memakai kaus putih.
Nina berjalan lagi keluar dari kamarnya, ternyata Zidan dan utinya baru pulang dari rumah tetangga. Dan sekarang sedang duduk lesehan disamping Utinya yang menyuapinya makan.
"Nih, Zidannya baru balik." Nina menyorot wajah Zidan.
"Dek, Om Ozil tuhh, "ucap Nina melambaikan tangan anaknya ke kamera.
"Zidan! kapan kesini? Om Ozil kangen niihh.." seru bocah itu dari seberang. Ozil sudah nangkring aja diteras, dengan pak Bahdim dan juga bu ana.
"Kamu ini kangen sama Zidan apa sama ibunya?"cibir bapak mengacak kasar rambut anak lelakinya itu.
"Ya dua-dua nya pak." oceh Ozil merapikan rambutnya yang berantakan.
"Mbak Nina kapan kemari?"
"Besok kamis Oz, kamis siang mungkin mau ziarah ke makam Mas Ozan."
"Ooo, kamis ya?"Ozil meningat-ingat. "Besok kamis, aku libur mbak. Aku jemput ya.."
"Eehh, nggak usah!" tolak Nina.
"Jangam bikin malu bapaklah, mepet terus kamu! Belum kerja juga."gerutu bapak terdengar samar. Nina terkekeh.
Percakapan vidiocall itu malah didominasi oleh obrolan Ozil. dan Uti nya hanya sesekali menimpali.
___β¬β¬β¬___
skalian Othor kasih Visualnya ya:
Nina
Usia 25 tahun
pedagang
Ozil Ozura
Usia 18 tahun SMK kelas akhir
Ben Arfa
25 tahun teman SMA Nina
pekerjaan: kanvasing sementara iniπ
Adira
17 tahun adik Nina siswa SMK
Nisa
usia 17 tahun teman kampung Ozil
Reader kuuh , kasih semangat donk, biar aku up terus setiap hari.
like dan komen ya
Terima kasih.
Salam___
π
__ADS_1