Nikah Yuk Mbak?!

Nikah Yuk Mbak?!
bab 35


__ADS_3

"Bang, nanti kita Muncak berapa ya enaknya?" Tanya Ilkay duduk di samping Ben.


"Jam 3 aja." Jawab Ben memberi saran."jadi abis makan malam kita istirahat dulu. Jangan pake acara melek-an sampai larut nanti malah nggak bisa ikut submit."


"Oke bang."


"Ayo makan dulu." Seru Rita membawa panvi berisi mie yang masih panas. Dengan telaten Rita mengambilkan jatah untuk Ben lebih dahulu.


"Untuk tetua." Ucapnya mengedip genit pada Ben yang meringis. Ben menerima piring berisi nasi dan mie dari Rita.


Sedangkan Dila tertawa kecil melihat adegan itu..


***


"Ila, ingat ya, kamu sudah bersuami. Jaga sikap!" Ucap Ben saat mereka hendak submit malam itu.


"Ck! Tau aku. Dasar mata-mata!" Dila cemberut dan melangkahkan kaki lebih cepat.


Setelah berfoto di puncak Merbabu bersama rombongan. Nasri menggenggam tangan Dila.


"Dila, sejak lama aku sudah menyimpan perasaan ini. Dan di atas puncak ini, aku ingin mengatakan....


Aku suka kamu. Bisa kah kita menjadi pasangan? Kamu dan aku berpacaran?"


Dila terdiam lalu menatap Ben yang tak menunjukan ekspresi apapun.


Dalam perjalanan turun.


Dila sempat terpeleset dan terkilir.


"Naiklah. Aku sebagai sweeper harus membawa mu turun sampai ke bawah dengan selamat."


Ben berjongkok membelakangi Dila yang terduduk.


"Iya Dila, biar kerilmu kami bawa bergantian." Ucap Febri yang saat itu menemani Dila.


Dila menghela nafasnya, "aku masih bisa jalan kok."


"Kamu terkilir Ila. Jangan mempersulit temanmu! Naik!"


Dila menatap Febri yang terlihat sedikit terkejut karena Ben Arfa meninggikan suaranya. Lalu berganti menatap Ben yang juga menatapnya.


"Nurut sama su-"


"Iya! Iya aku naik." Sela Dila cepat.


Keril Dila di bawa oleh Febri. Sedangkan. Keril Ben yang awalnya Ben bawa kini berganti di punggung Dila.


Tak ada percakapan diantara mereka. Febri pun berjalan di depan karena Ben sebagai sweeper memastikan tak ada lagi yang tertinggal.


Baik Ben maupun Dila tenggelam dalam pikiran masing-masing. Dila ingat dengan pengakuan cinta dari Nasri di atas puncak. Walau dia juga memiliki rasa pada nya, namun, Dila terpaksa menolaknya. Ia telah bersuamikan Ben sekarang.


Teringat cinta nya harus kandas sementara mereka memiliki rasa yang sama. Membuat air mata Dila menitik.


"Sakit?"


"Iya."


"Cengeng!"


.


.


.


.

__ADS_1


Di sisi lain.


Pagi menjelang ini Ozil sedikit di sibukkan dengan panen lele nya. Dia juga ada janji dengan beberapa tengkulak yang hendak memborong beberapa kolam yang siap panen.


Tentu saja ini menjadi kebahagian tersendiri bagi Ozil.


"Rejekinya orang yang mau nikah, manis banget." Gumam Ozil melengkungkan senyum di wajahnya.


"Mas Ozil!"


Ozil menoleh ke arah suara yang memanggil itu tepat berada di sisi kolam.


Saat Ozil sedang menguras satu kolam lele nya. Melihat gadis cantik dengan rantang di tangannya.


"Malam siang dulu mas."


"Wah, calon bini tuh, datang bawa makanan." Celetuk salah satu orang yang membantunya memanen lele.


"Bukan."


"Cantik loh, mas Ozil. Napa nggak kamu ambil aja." Sahut yang lain.


"Aku dah ada calon mas." Balas Ozil.


Lalu berlalu meninggalkan mereka. "Aku ke sana sebentar."


"Lama juga nggak apa kok mas." Goda pekerja nya lagi terkikik.


Ozil menghampiri Nisa tanpa mencuci tangan dan membersihkan tubuhnya. Selama dinas di kolam, Ozil hanya memakai baju seadanya. Kadang bahkan kaus yang sudah bolong pun dia pakai. Karena hanya berjibaku dengan lele.


"Mas, ini ibuk kirimin makan siang buat mas Ozil dan yang lain. Itu kok nggak itu ajak ke sini sekalian, mas?"


Nisa melepas sususan rantang yang tertata di atas Gasebo yang biasa di pakai Ozil beristirahat.


"Nis, makasih buat semua. Besok-besok jangan kirimkan makanan ke sini lagi."


"Bawa pulang makanan mu. Aku sudah pesan makanan buat mereka, bentar lagi datang."


Nisa menatap Ozil dengan hati teriris.


"Kenapa mas?" Mata Nisa berkaca."Masakan aku nggak enak?"


"Bukan begitu nisa. Aku udah melarang mu buat kirim makanan."


"Nisa cuma ingin membantu mas Ozil."


"Enggak perlu nis. Bawa pulang makanan mu, lain kali jangan datang dengan membawa makanan lagi. Aku akan terus menolak."


Nisa menatap Ozil dengan hati yang terluka. Juga mata yang terus berair yang ia usahakan agar tak menetes.


"Berikan perhatianmu pada orang yang menyayangimu juga. Huumm?"


Ozil lalu berbalik dan kembali ke kolam ikut memindahkan lele ke dalam tong.


Sedangkan bisa membiarkan air matanya meluncur bebas kali ini sembari memberesi makanan.


Ia sadar telah beberapa kali mendapat penolakan dari Ozil. Nisa hanya berharap, dengan memberi makanan secara rutin mungkin akan meluluh kan hati Ozil. Namun, ternyata itu salah.


Dua-tiga kali Ozil memang terpaksa menerima karena tak enak hati. Dan itu memberi Nisa harapan.


"Loh, Nisa?"


Nisa menghapus air matanya dengan punggung tangan saat ia hendak pergi dari tempat kerja Ozil.


"Kamu sendiri?" Tanya Nina turun dari motor yang baru saja dia parkirkan.


"Iya mbak." Balas Nisa menyalami Nina.

__ADS_1


"Zidan, Salim dulu sama mbak Nisa."


Zidan pun mencium tangan Nisa, Nisa tersenyum pada bocah menggemaskan itu.


"Yang lain kemana?"


"Nisa ada urusan mbak, jadi mampir ke sini dulu."


"Oh, udah selesai urusannya?" Nina menatap rantang di tangan Nisa.


"Itu..."


"Ini pesanan teman Nisa mbak." Ucap Nisa mengangkat rantang ditangannya."Nisa pergi dulu ya mbak."


Dengan langkah terburu-buru, Nisa pergi dengan motor matik nya.


"Ozil! Makan!"


"Iya mbak!" Sahut Ozil bersemangat.


"Laris banget kamu mas Ozil. Tadi gadis muda, sekarang janda kembang." Goda pekerja nya menaik-turunkan alis nya.


Ozil melempar senyumnya."makan dulu yookk."


"Ayookk dong." Jawab pekerjanya.


Di atas Gasebo, sudah tertata makanan yang siap di santap oleh pria-pria yang kelaparan siang itu.


"Tadi aku lihat Nisa, Zil."


"Iya, emang habis dari sini dia, mbak." Jawab Ozil dengan mulut penuh makanan.


"Telen dulu mas Ozil. Nasinya nyembur-nyembur tuh." Ledek pekerjanya terkekeh.


"Heehh, nggak usah makan lah klian." Semprot Ozil.


"Ha-ha-ha, sayang mas Ozil, makanan banyak gini."


"Mbak yang tadi, nggak jadi ninggalin makanan, mas?"


Nina melirik Ozil,


"Enggak! Ku suruh bawa balik. Mbak Nina aja bawa makanan banyak, ntar malah mubazir kalau nggak kemakan."


"Oohh, jadi tadi Nisa kemari anter makanan buat kamu?" Tanya Nina menyuap nasi ke mulutnya.


"Iya mbak, kebiasaan. Udah kubilang jangan, masih juga."


Nina menggeleng sembari berdecak.


"Kita bentar lagi nikah mbak, aku nggak boleh kasih celah. Mbak juga gitu. Jangan kasih celah buat pria lain."


"Iya, iya." Nina tersenyum geli.


"Mbak Nina, hari ini aku pulang agak sorean. Mbak balik ke Sleman Minggu aja ya?!"


"Enggak, Oz. Mbak nanti masih harus belanja buat dagangan." Tolak Nina halus.


Sejak Ozil melamar, Nina memang mengurangi jatah berkunjung nya ke rumah pak Bahdim. Jika berziarah ke makam Ozan, di waktu Kamis sore. Malam nya ia langsung pulang, sedangkan Zidan Nina tinggal dan diantar Ozil beberapa hari kemudian.


"Yaahh...."


"Ibuk... Zidan bobok sama om Ozil yah." Rengek Zidan pada ibunya.


"Jangan Zidan, om lagi sibuk sama lelenya. Kakek sama nenek juga lagi panen. Semalam kan sudah bobo sama om. Jadi, abis ini kita pulang ya?" Pelan Nina memberi Zidan pengertian.


Zidan cemberut. "Mau bobok sini. Bobok sini. Nggak mau pulang." Rengek nya.

__ADS_1


"Iya, nanti sama om. Sini." Ozil meraih Zidan ke dalam pangkuannya. Zidan tampak sangat senang."Besok biar Ozil anter mbak ke Sleman."


__ADS_2