Nikah Yuk Mbak?!

Nikah Yuk Mbak?!
bab 56


__ADS_3

Nina membuka matanya, rasa lelah dan kantuk masih ia rasakan, namun suara azan subuh membuat Nina memaksakan matanya terbuka. Nina berbaring miring, dengan tangan dan kaki Ozil yang memeluknya bagai guling.


"Oz, bangun. Udah subuh." Kata Nina menyingkirkan tangan dan kaki Ozil.


"Bangun Oz."


Ozil memeluk tubuh Nina lagi tanpa membuka matanya.


"Bangun woi! Malah kelon." Gerutu Nina mencubit lengan Ozil yang memeluknya.


"Aduuhh! Sakit mbak." Ozil membuka mata dan menjauhkan tangannya.


"Makanya bangun! Udah subuh tuh."


"Hemmm... Masih pengen peluk." Rengek Ozil memeluk lagi tubuh Nina lebih dekat.


"Astagfirullah Ozil!" Nina geram mencubit tangan Ozil dan berbalik lalu menggelitiki suaminya.


"Auuu, aauuuu,, geli mbak, geli, iya, iya, aku bangun."


Ozil bergegas beranjak dan berlari ke kamar mandi.


"Mandi yang bener Oz." Teriak Nina dari atas peraduan.


"Iya mbak."


.


.


.


"Mbak Nina!"


Nina yang sedang mengecek hp nya menoleh ke arah kamar mandi.


"Apa?"


"Handuk sama baju ganti mbak. Lupa tadi, hehehe..." Kata Ozil mengintip dari balik celah pintu kamar mandi.


"Bentar." Nina mengambil handuk, "baju ganti nggak ada."


"Ada mbak, itu di kresek putih Deket tv. Aku dah beli semalam di pasar malam." Terang Ozil sembari menerima handuk.


"Ooh, iya kah?" Nina berjalan mendekati meja tv lalu mengambil kantong kresek yang Ozil maksud. Ada tiga buah kantong di sana. Nina mengecek, satu berisi kaus, cinos dan semvak, satu satu set baju anak-anak. Dan satu lagi gamis panjang pakaian dalam dan jilbab berwarna biru.


Nina mengulas senyum. Lalu mengambil kantung kresek milik Ozil.


"Nih," menyerahkan kantong itu pada suaminya di depan pintu.


"Makasih ya Mbak."


"Kapan kamu beli? Kok aku nggak tau Oz."


"Ya semalam mbak." Balas Ozil tanpa menutup pintu kamar mandi yang nampak bercelah segaris.


Dari luar Nina tau dari gerak tubuh di balik pintu, Ozil pasti sedang mengenakan pakaian nya.


"Kok mbak nggak tau Oz."


"Mbak pas lagi ke toilet semalam. Terus aku sama Zidan cari baju." Ozil menjelaskan sambil memakai pakaiannya dan melongok dari celah pintu.


"Oohhh, udah rencana to ternyata."


Ozil terkekeh. "Udah mbak." Katanya membuka pintu lebih lebar. Lalu keluar.

__ADS_1


"Udah wudhu?" Tanya Nina dari depan pintu kamar mandi.


"Belum."


"Ya udah, wudhu sekalian."


"Sebentar." Kata Ozil mencondongkan tubuhnya ke arah Nina dan Mencium pipi istrinya.


"Wudu dulu ya mbak." Lalu masuk lagi ke dalam kamar mandi dengan cepat.


Selepas Ozil keluar, kini giliran Nina yang mandi. Setelah menyelesaikan mandi wajibnya Nina mengenakan pakaian yang Ozil belikan untuk nya.


"Ya ampun, detail banget sih anak itu beli nya. Mana ukuran bh nya pas lagi." Gumam Nina tersenyum malu.


"Pas beli ini apa dia nggak malu?" Gumam Nina lagi terkekeh membayangkan Ozil membeli pakaian dalam."orang di sana mikir dia mesum nggak ya?"


Nina terkikik sendiri sambil menggeleng. "Ya ampunn..."


Setelah berwudu, Nina keluar. Ia tertegun melihat Ozil sudah menggelar dua sajadah dan duduk bersila. Jantung Nina serasa berdetak kencang, bunga-bunga beterbangan, musik tiba-tiba bergaung indah di telinganya dan tampak tampak Kilauan di sekitar Ozil.


"Ganteng bet...."


Tiba-tiba Ozil menoleh, Nina gelagapan dan salah tingkah.


"Mbak Nina sudah selesai. Ayo mbak jama'ah an aku tungguin dari tadi." Ozil melambaikan tangan lalu berdiri.


Nina melangkah pelan dengan menggulum senyum. Lalu berdiri satu saf di belakang Ozil setelah mengenakan mukenanya.


Seusai melaksanakan dua rokaat bersama. Ozil berdoa, sebelum itu, seeprti biasa ia menoleh lebih dulu.


"Mbak, aku doa, mbak Nina yang Aminin ya."


"Iya pak imam."


"Ozil mbak."


Ozil tersenyum lebar. Lalu memposisikan diri dan menengadahkan tangannya. Khusuk berdoa. Dan Nina mengaminkan.


***


Jam 10 pagi di rumah Nina.


"Permisi!"


"Iya mas." Dila muncul dari dalam rumah. Seorang pria dengan seragam resto Jadoel berdiri di depan teras. Di belakang sama tampak sebuah mobil dengan gambar dan nama Jadoel resto tertera sangat jelas dan mencolok. Dua orang lainnya tampak mengeluarkan beberapa tempat prasmanan dari dalam mobil.


"Anter pesanan Mbak."


"Ooh, iya mas. Masuk aja." Dila mempersilahkan.


Para karyawan itu pun menyelesaikan tugasnya.


"Siapa Dil?" Tanya bunda menyibak gorden.


"Anter pesanan Bun dari jaduel resto."


"Oohh, taruh sini aja mas skalian." Kata bunda pada pekerja yang hampir meletakkan tempat prasmanan itu di atas meja tamu.


"Iya buk. Di bawa kemana ya?" Tanya salah satu dari mereka menatap berjalan mendekat pada Bunda.


"Sini mas." Bunda menyibak dan mengikat gorden agar para pekerja itu tidak kesusahan ketika melintas. Bunda mengarahkan mereka untuk meletakan di meja tengah.


Setelah pekerja itu selesai mereka pun pamit.


"Ben ini pengertian sekali ya? Sampai makanan pun semua udah ia siapin." Gumam bunda memandang banyaknya makanan di meja makan.

__ADS_1


"Nanti kalau lebih kasih ke tetangga aja ya, Dil."


"Iya Bun."


"Mereka kesini abis Zuhur kan?" Tanya bunda memastikan.


"Iya Bun." Jawab Dila."tadi bunda ngundang orang?"


"Iya, cuma tetangga sekitar dan RT aja kok."


Setelah bakda Zuhur, acarapun di mulai. Basa basi dengan sedikit guyonan, akhirnya, Ben dan keluarga mengutarakan maksudnya. Untuk segera melangsungkan resepsi.


"Ben yang akan mengurus semua nya jeng Anggi. Tempat resepsinya juga di gedung, dan kalau bisa kita selenggarakan di bulan depan. Karena papa nya Ben harus dinas ke Turki. Agak lama jeng, jadi sayang kalau nunggu papanya pulang. Lagi pula, mereka kan sudah menikah walau secara siri." Terang mama panjang lebar.


"Saya terserah pada yang jalanin aja. Sebagai orang tua, saya hanya bisa memberi restu." Jawab bunda, lalu berganti menatap anak bungsunya." Gimana Dil?"


Dila menatap Ben Arfa sekilas. Ben hanya memberinya senyum dan tatapan lekat. Lalu Dila menatap mama dan papa.


"Dila setuju saja."


"Alhamdulillah..."


"Kalau begitu, besok biar kalian berdua urus ke KUA." Ucap mama.


"Sudah kok ma, tanggal nya juga sudah di tentukan." Sela Ben.


"Wah sudah ya?"


"Tanggal lima bulan depan. Itu sudah sesuai kesepakatan." Sambung Ben sembari melirik Dila. Gadis itu tersenyum dan menundukkan pandangannya dengan wajah tersipu.


***


"Dil, kami balik dulu ya ke Bantul." Pamit Nina dan Ozil.


"Kok cepet banget sih mbak. Kan baru bentar ketemu."


"Yah, lain kali kamu yang main ke sana."


"Iya deh mbak."


Setelah berpamitan, Ozil, Nina dan Zidan menaiki motor kembali ke Bantul.


Dalam perjalanan, tak ada percakapan antara Ozil dan Nina. Hanya suara Zidan yang bicara dengan Ozil yang sesekali Nina timpali.


"Mbak Nina."


"Kenapa Oz."


"Maaf ya mbak." Suara Ozil terdengar lesu.


"Maaf kenapa?" Tanya Nina meletakkan dagunya di lengan Ozil dan menatap suaminya dari sana.


"Aku kemarin nggak ngasih mbak pesta yang besar."


"Kamu kok ngomong gitu? Apa gara-gara lamaran Ben tadi kamu jadi inscure?"


Ozil mengangguk samar.


Nina menerbitkan senyum meski Ozil tak melihatnya. Lalu tangannya melingkar di perut ozil.


"Mbak Nina nyesel nggak nolak mas Ben yang tajir dan memilih aku yang cuma peternak lele ini?"


"Ozil, kebahagiaan orang itu tak di ukur dari besarnya materi yang di punya, ataupun bentuk fisik yang sempurna." Ucap Nina,"Walau pada kenyataannya, semua butuh materi. Tapi, kita saja sudah cukup, Oz."


"Apa mbak bahagia sama Ozil?"

__ADS_1


"Kamu, mau bahagiain mbak nggak?"


"Iya." Jawab Ozil yakin.


__ADS_2