
"Maaf ya Zil, bunda lupa kalau ada kamu, jadi main nylonong aja tadi." Kata bunda terkekeh-kekeh.
"Nggak papa, Bun." Jawab Ozil bersuara sedikit lebih kencang karena mereka sedang dalam perjalanan ke pasar menggunakan motor.
Akhirnya, Ozil yang mengantar bunda ke pasar. Karena tak tega jika di pagi yang dingin ini, Nina sampai ke pasar dengan motor.
Sesampainya di pasar, bunda memilih sayur dan perbumbuan. Lalu mereka menuju penjual ikan dan ayam.
"Zil, kamu mau makan ayam apa ikan?"
"Apa aja mau Bun. Saya nggak pemilih kok." Jawab Ozil.
"Ya udah kalau begitu, ikan aja ya? Eh, tapi kan lele kamu kemarin masih Zil. Ayam ajalah, bosen nggak kamu makan lele?"
"Enggak bun. Cuma..."
"Cuma apa?" Bunda menoleh pada Ozil yang berjalan sedikit di belakang karena jalan di dalam pasar tidak memungkinkan untuk berdua.
"Cuma bosan lihat bentuknya lele."
Bunda mendengus. "Sama aja Zil."
"Ya kan bisa di filet Bun, yang penting kan bentuknya nggak lele."
"Iya juga sih, Zil." Bunda terkekeh sendiri. "Jadi mau makan ayam apa filet lele?"
"Tanya mbak Nina dulu deh." Hendak mengeluarkan hp, padahal tangan Ozil sudah penuh kantong belanja.
"Nggak usah." Cegah bunda. "Beli ayam aja."
Di penjual ayam.
"Wah, sama siapa Bu Anggi?" Tanya penjual ayam.
"Mantu, Bu." Jawab bunda."sayap sekilo ya, Bu."
"Oohh yang mantu kemarin ini to? Ganteng ya, muda lagi." Si penjual ayam mulai menimbang dan memilih sayap. "Kerja di mana?"
"Di kolam Buk." Jawab Ozil.
"Kolam?" Menautkan alis.
"Ternak lele dia." Sela bunda.
"Berapa lele di tempat mu? Kalau cocok, biar ponakanku ambil lele di tempatmu aja." Ucap ibu penjual ayam."minta nomer mu, le. Nanti biar gampang."
Ozil sumringah, ada berkah juga antar ibu mertua ke pasar.
****
"Mbak Nina." Panggil Ozil sembari membersihkan ikan lele di wastafel dapur. Tangan nya lincah membelah isi perut lele dengan pisau dan membuang kotorannya.
"Kenapa Oz?" Tanya Nina yang sedang menyiapkan bumbu.
"Ini lele nya di bikin filet aja ya? Bosen mbak liat lele terus setiap hari. Dari kecil nunggu besar, lele. Masuk kolam liat lele. Panen lele lagi. Makan juga lele. Ntar taik nya keluar di makan lele lagi." Celoteh Ozil.
Nina tertawa geli.
"Emang kamu berak di Empang Oz? Sampai taikmu juga di makan lele?"
"Ya enggak, kan cuma perumpamaan doang." Sahut Ozil. "Tiap hari pegang lele, bosan mbak."
Nina melirik kecil Ozil. "Mbak jadi takut Oz."
__ADS_1
"Takut kenapa?"
"Takut kamu bosan liat mbak. Setiap hari...."
"La yo jelas enggak mbak. Aku mana bisa bosan sama mbak Nina. Mbak cantik, baik, pinter masak. Anget lagi. Mbak itu hal yang nggak bisa bikin aku bosan. Jangan samain sama lele beda jauh.
Nih ya mbak, lele nih bau amis, kalau mbak bau wangi. Pingin nyium terus jadinya." Ucap Ozil panjang lebar.
Nina mengulas senyum kecil nya.
"Ini langsung aku filet ya mbak." Kata Ozil lagi.
"Iya Ozil."
"Mbak, nanti bikin filet lele mentega ya.keknya enak."
"Iya, iya."
Hening sejenak, Ozil sibuk membersihkan dan memfilet lele. Sedangkan Nina membuat bumbu dan menyiapkan tepung.
Ozil menoleh melihat Nina yang sibuk dengan perbumbuan nya. Lalu Ozil berdiri, setelah mencuci tangannya sebentar. Berjalan mendekati Nina yang duduk membelakangi wastafel. Dari arah belakang, Ozil tiba-tiba mencium pipi Nina. Hingga wanita itu terkejut sampai terlonjak.
"Ozil!" Nina celingukan, takut kalau sampai ada yang lihat.
Ozil nyengir lalu kembali berdiri di depan wastafel dan membersihkan lele sembari bersiul riang.
***
Dila duduk termenung di depan kolam, selama beberapa hari ini Dila memang tidak bekerja. Sepulang kuliah, pasti kembali ke rumah lama. Menjelang sore barulah Dila kembali ke rumah Ben.
Namun, kali ini berbeda, dia memilih langsung pulang begitu selesai kuliah.
Duduk di halaman belakang melihat kolam ikan, rasanya masih ada keraguan di hatinya. Apakah ia benar meneruskan pernikahan dengan Ben sementara dia tau di mana hati Ben berada.
Tiba-tiba, Ben Arfa duduk di sampingnya. Menatap ke arah yang sama. Dila yang menyadari kehadiran Ben menoleh ke sisi kiri, menatap sang suami.
"Mas Ben nggak kerja?"
"Kerja kok," jawab Ben, "Ini lagi pulang liat rumah. Ntar balik lagi."
Dila kembali melihat ke depan. Melihat pada riak-riak air kolam yang tertiup angin sore itu.
"Nih, ku bawain Boba."
Dila menoleh, melihat segelas besar Boba di tangan Ben.
Dila menerimanya, lalu menyeruput minuman yang sudah Ben tancapkan sedotan itu.
"Seger?"
Dila mengangguk.
Secara bersamaan, menatap ke arah depan.
"Gimana kuliah kamu?" Tanya Ben memecah kebekuan diantara mereka.
"Seperti biasa."
"Kamu udah keluar dari bengkel?"
"Heemm.... Aku punya banyak uang, nggak perlu kerja lagi."jawab Dila menyeruput lagi es Boba nya.
Ben tertawa kecil.
__ADS_1
"Aku harus balik ke resto, kamu mau ikut nggak? Dari pada bengong di sini. Nanti malah Kesambet, susah." Ajak Ben Arfa sembari berdiri.
"Kenapa mas mengajakku?" Tanya Dila mendongak menatap Ben yang sudah berdiri di sampingnya.
Ben Arfa menjitak kepala Dila.
"Kamu ini.... Ikut nggak?" Ben ingin mengatakan sesuatu, tapi urung dan memilih menawari Dila untuk ikut dengannya di resto.
Dila terdiam.
"Anak sekarang emang suka baperannya?"
"Siapa yang baper?" Dila cemberut dan berpaling.
Aku mau balik ke resto, mungkin bakal pulang agak malam karena ada beberapa tempat yang mesti aku cek."
"Iya." Jawab Dila malas.
Ben diam sesaat, menatap Dila. Lalu menarik tangannya.
"Ikut ajalah. Ayok."
Dila tak mengatakan apapun, hanya menatap balik Ben.
"Skalian biar mereka tahu istri pemilik resto siapa."
Dila terkesima. Lalu merasa salah tingkah.
"Mas, mau ngenalin Dila sama karyawan mas, sebagai istri?" Tanya Dila Malu-malu, Ben tersenyum kecil melihatnya.
"Ayok." Sembari menarik tangan Dila.
Sesampainya di resto.
Dila terkesima dengan dekorasi di resto. Sangat bagus dan romantis, banyak bunga yang menghiasi setiap sudutnya dan lampu-lampu Tumblr yang menghiasi langit-langitnya.
"Aku baru tau, kalau resto mas Ben sebagus ini?" Puji Dila memandang berkeliling dengan takjub.
"Iya, ini karena ada acara."
"Ooh, di booking ya? Tapi kok rame banget mas. Nggak apa kita kemari? Nanti malah yang boking marah lagi." Ucap Dila, Ben hanya melempar senyum menggandeng tangan Dila, dan membawanya kesebuah meja.
"Dudukk sini." Ben menarik kursi lalu menekan bahu Dila agar duduk. Lalu Ben ikut duduk di sisi kanan Dila. Melihat live musik yang tepat berada di depan mereka.
Keduanya hanya terdiam menikmati musik yang di nyanyikan sang penghibur di panggung. Tanpa ada percakapan berarti diantara Ben dan Dila.
Hingga sang penyanyi turun dari dari panggung dan memberi Dila bunga. Dila menatap sang penyanyi pria itu dengan pandangan bingung. Lalu berganti menatap Ben yang terlihat biasa saja.
Dila tersenyum getir, apa yang dia harapkan. Ben akan merah dan tak terima? Pria itu bahkan tidak mencintainya. Itu yang dila pikir kan.
"Maaf, aku sudah bersuami." Ucap Dila lirih, ia tetap harus menghargai perasaan Ben yang menjadi suaminya. Meski, Dila yakin Ben tak akan terganggu karena dia tidak memiliki rasa apapun.
"Ambilah, bunga ini cantik seperti kamu. Suamimu tak akan marah meski kamu menerimanya." Ucap penyanyi itu mengedipkan sebelah mata.
"Aku tidak suka bunga."
Penyanyi itu tampak terkejut. Ben tersenyum kecil.
"Beri saja dia sparepart. Pasti di terima." Celetuk Ben.
Penyanyi itu tampak menatap Ben sinis. Lalu melempar bunga mawar itu ke wajah Ben.
"Mas, kok kasar banget sih?" Protes Dila berdiri melihat seorang pria sangat tak sopan pada suaminya, membuat Dila kesal.
__ADS_1