
"Kamu mau bapak lamarin Nina?"
Seketika Ozil menegakkan kepalanya.
"Bagaimana? Mau nggak?" Tawar bapak lagi. Ada gurat bahagia di wajah Ozil lalu sudut bibir yang semula terangkat turun seketika.
Ozil menatap pekat nya malam di depan sana. Ada sendu yang tiba-tiba menghampiri.
"Kenapa? Kok wajah mu begitu? Bukannya kamu mau nglamar Nina kalau sudah satu tahun?" Tanya pria bertubuh tambun itu menghisap rokoknya.
"Ozil, nggak punya kepercayaan diri pak buat melamar mbak Nina." Ozil mendessah panjang, " Benar kata bapak, seorang yang sudah dewasa akan memikirkan banyak hal sebelum menikah, karena menikah adalah ibadah terpanjang.
Aku yang masih merintis usaha lele ku ini dan pikiranku yang belum sedewasa mbak Nina. Bagaimana aku akan bisa menjadi imam yang baik untuk nya dan Zidan kelak. Rasanya belum pantas pak saat ini." Menunduk lesu.
Pak Bahdim tersenyum. Namun sedikitpun tak berniat menyela anaknya. Ia ingin memberi Ozil kesempatan untuk mengutarakan isi hati yang gundah itu.
Bocah yang dulunya begitu menggebu untuk meminang kakak ipar nya, tiba-tiba kehilangan tonggak kepercayaan diri.
"Aku ingin lebih memantaskan diri dulu sebelum datang melamar mbak Nina. Tapi, aku takut pak, jika mbak Nina memilih orang lain sebagai pendamping hidupnya."lirih Ozil.
Bapak tersenyum teduh. Lalu menepuk pundak anak bungsunya.
"Sing tenang. Ojo kuatir. Kalau jodoh pasti jadi, Zil. Jangan menyerah dan patah semangat. Ingat kan? Selama janur kuning belum melengkung..."
"Kalau besok melengkung gimana pak?"menatap dengan wajah mengiba.
Pak Bahdim terkekeh. "Ozil kok narsis nya bapak nggak nurun di kamu? Dulu kamu itu narsis banget loh, pede banget. Sekarang tambah gede kok loyo?"
Pak Bahdim menggelengkan kepala nya. "Inget nggak dulu kamu pernah bilang gini. Kalau ada janur kuning melengkung di rumah mbak Nina, itu pasti Ozil mempelai prianya. Ingat nggak?"
Ozil tersenyum-senyum sendiri mengingat ucapannya dulu. Ia memang memiliki tingkat kepedean yang tinggi. Sebelum, ia tau ada orang yang lebih lebih segala nya dari dirinya mendekati Nina. Melihat saingannya lebih mapan, lebih tampan, lebih dewasa dan lebih bersifat baik. Membuat Ozil sedikit inscure.
Ozil mengulas senyumnya, 'mas Ben bahkan tidak membiarkan mbak Nina tau dirinya orang kaya. Mendekat sebagai teman SMA. Tanpa embel-embel seorang pemilik resto dengan banyak cabang.' pikir Ozil.
"Kalau jodoh, mau seberat apapun sebesar apapun, rintangan dan saingan kita. Pasti Alloh dekatkan Zil. Begitu pun sebaliknya, mau sehebat apapun usaha kita sekeras apapun pengorbanan, jika tidak jodoh, pasti terlepas juga."
Ozil menatap wajah teduh pria berperut buncit yang bergelar ayah nya itu. Keriput di wajahnya sudah cukup menggambarkan betapa berat hidupnya dulu hingga bisa memberinya banyak nasihat.
"Apappun pilihan yang Nina jatuh kan. Kamu harus berlapang dada menerimanya. Yang terpenting adalah usahamu."
________
__ADS_1
Malam itu di bawah cahaya bulan yang berpendar di balik awan. Ben Arfa bersenandung lirih di atas Hammock yang menggantung di halaman belakang rumahnya. Memandang foto Nina saat acara reuni kemarin.
"Anak mama kayaknya lagi seneng banget."
Mama mendekat pada Ben yang tersenyum kecil setelah sedikit menoleh pada mamanya. Lalu bangkit dan duduk dengan kaki menggantung.
"Ada apa nih? Crita dong ke mama, biar mama juga ikut seneng."
Ben masih tak menjawab, hanya senyam-senyum sendiri. Membuat sang mama yang makin penasaran, terpaksa menyaut handphone dalam genggaman Ben. Hingga pria itu tersentak namun tak bisa berbuat apa-apa.
"Ooohh, ini calon mantu nya mama?"melihat foto Nina di layar hp anaknya."Dari tadi mama liat di pandengin terus." Sambil manggut-manggut.
"Cantik," mama memuji, keningnya sedikit berkerut."Kayaknya mama cukup familiar deh sama wajah ini..."
"Itu Nina ma."
"Nina? Teman sekelas mu dulu?"
Ben mengangguk.
"Yang dulu nenangin kamu pas histeris gara-gara liat kecoa?" Goda sang mama mengingat-ingat saat Ben masih duduk di bangku SMA.
"Iiihh, mama! Yang itu nggak usah di ingetin lah. Malu!" Gerutu Ben dengan muka ditekuk.
"Habis, kamu tuh ya Ben, dari masih kecil sampai Segede ini masih aja paranoid sama kecoa."
"Geli tau Ma, bauk lagi." Ben Arfa bergidig. Ia memang memiliki paranoid pada binatang berwarna coklat dan bersayap itu. "Terbang ke sana ke mari, mana sungutnya gerak-gerak... Mrinding ahh ma." Ben terus bergidig kengerian, sampai tubuhnya bergetar.
Mama terus tertawa dengan reaksi Ben yang terus merasa ngeri itu.
"Jadi kapan kamu mau bawa Nina ke rumah? Janji mu mau bawain oleh-oleh calon mantu buat mama, kan?" Tagih mama mengembalikan hp Ben.
"Bentar ma, Ben lagi bingung nih."
"Bingung kenapa lagi?" Mama ikut duduk di Hammock sisi kanan Putranya."dia nggak mau sama kamu?"
"Nggak tau juga ma, dia nggak jawab waktu kutanya. Hanya, dia bilang aku baik dan bisa membuatnya nyaman."
"Nah, itu udah jawaban. Membuat nyaman."
Ben menatap mamanya sedikit ragu, "Benarkah?"
__ADS_1
Mama mengangguk.
"Tapi, dia seperti ragu."
"Dia apa kamu yang ragu?" Mentowel pipi anaknya.
"Coba mama lihat hp kamu." Mama menengadahkan tangannya. Ben meletakkan hp di sana.
"Lihat ini Ben, dia aja sampai pakai baju couple sama kamu."
Ben tersenyum,
"Kalian ada janjian nggak?"
Ben menggeleng, "tapi Ben yang beliin itu buat Nina."
Hening sesaat...
"Mama... Mau nggak nglamarin Nina buat Ben." Pinta Ben Arfa dengan pengharapan.
Mama tersenyum penuh arti.
"Tunggu papa mu pulang dari Malaysia ya." Mengusap kepala Ben.
______
Hari berganti hari, Minggu pun berlalu, janur kuning tampak melengkung di ujung gang menuju rumah Nina. Tenda dengan hiasan warna kuning keemasan dengan beberapa buah dan kelapa terhias di depan pintu masuk.
Suara alunan Gending Jawa khas acara hajatan terdengar. Di ruang tamu yang telah di sulap menjadi ruang akad itu duduklah beberapa orang berwajah sangat ayu dengan make up tebal dan beraura ceria. Semua tersenyum menampakkan giginya.
Seorang Penghulu duduk di depan sebuah meja dengan tumpukan kaca akrilik yang di dalam nya terdapat satu set emas dan perangkat alat sholat yang di hias sedemikian rupa sebagai mas kawinnya.
Pak penghulu itu mengarahkan wali hakim menjabat tangan seorang pria berpakaian adat Jawa Solo di depannya. Dan mengikrarkan janji.
"Saya terima nikahnya Nina Rahmawati binti Abdul Aziz almarhum dengan mas kawin tersebut di bayar tunai." Ucap sang pria dalam satu tarikan nafas.
"Sah?"
"Sah!"
"MBAK NINA!!"
__ADS_1
Bersambung..