Nikah Yuk Mbak?!

Nikah Yuk Mbak?!
bab 21


__ADS_3

"Nina, Nina, Nina."


"Udah sejak SMA rasa ini tumbuh dan tetap terjaga. Jika nanti kamu pakai baju yang aku beliin ke kamu. Aku bakal ungkapin perasaan ku yang terpendam selama ini."


Ben Alfa bergumam, sembari mengancingkan baju yang sengaja dia beli satu set dengan Nina dan Zidan. Tentu saja tanpa sepengetahuan Nina.


Ben mematutkan diri nya di cermin. Ia memang sudah memiliki rasa yang berbeda sejak di SMA dulu. Namun, berhubung ia juga masih bersekolah dan merasa belum pantas untuk berpacaran. Meski banyak dari temannya yang melakukan itu, namun pantang untuk Ben Arfa pacaran sebelum ia mampu untuk menghasilkan uang sendiri.


Ben pikir, uang saja masih minta pada mama papa nya. Bagaimana bisa dia berkencan hasil dari minta orang tua. Walau sebenar nya Ben pun termasuk dari keluarga berada. Ayah nya seorang pengusaha resto yang memiliki cabang di mana-mana. Bahkan beberapa di antaranya kini sudah Ben Arfa handel. Meski begitu tidak menjadikan diri sombong dan jumawa.


"Waahh, anak mama udah ganteng..." Puji sang mama melihat putra kesayangannya menuruni tangga dengan pakaian yang sangat rapi dan rambut yang terlihat sedikit basah karena di beri minyak.


"Mau kemana?"


"Reuni ma."


"Reuni SMA?"


"Hemm...."


"Mama pikir mau ketemu calon mantu mama. Kok ganteng banget, wangi lagi."


"Jadi selama ini Ben nggak ganteng ya?" Tanya Ben Arfa sembari menyugar rambutnya di depan sang mama.


"Ganteng, ganteng, cuma sekarang tuh, ganteng nya beda. Wangi nya juga beda."


"Ben berangkat dulu ya ma." Pamit Ben Arfa sembari menyalami dan mencium tangan mama nya.


"Pulang bawain mama oleh-oleh ya?"


"Iya deh, nanti aku bawain calon mantu." Ucap Ben mengedipkan sebelah matanya.


"Beneran ya, awas nggak!"


Ben tertawa sembari melangkah pergi keluar rumah.


("Nin, udah berangkat belum?") Pesan Ben kirim pada Nina.


Tak lama pesan balasan di terima. Tepat saat dia sudah berdiri di samping mobil nya yang terparkir di garasi.


("Lagi di jalan.")


"Yah, udah di jalan lagi." Gumam Ben sedikit kecewa. Padahal ia sudah sengaja berangkat lebih awal agar bisa berangkat bareng Nina. Namun sepertinya harus kandas juga.


Dalam perjalanan ke resto Flori. Mobil Ben Arfa tiba-tiba saja ngadat dan macet.


"Kenapa nih? Abis di service juga." Gerutunya turun dari mobil dan mengecek keadaan mobil nya dengan membuka kap.


"Nggak ada masalah kok." Gumamnya melihat mesin yang entah apa. Karena dia sendiri pun tak mengerti.


"Kenapa mas?"


"Macet!" Jawab Ben tanpa menoleh. Pikirnya, yang nanya suara cewek pastilah cuma orang melintas yang kepo.


Cewek itu berdiri di sisi kanan Ben ikut melihat mesin. Tangan gadis itu terulur, yang entah mengotak-atik mesin. Ben melirik sekilas. Gadis muda dengan rambut panjang terurai indah sedikit menutupi wajahnya dari samping.

__ADS_1


Lalu gadis yang merasa terganggu dengan rambut nya menarik rambut hitam itu kebelakang, mengumpulkan nya menjadi satu dan mengikatnya dengan ikat rambut. Pemandangan yang entah membuat Ben terpaksa menoleh.


Tangan gadis itu terulur ke depan dan mengotak-atik mesin.


'aneh, kok aku jadi deg-degan?' batin Ben merasa sedikit geli dengan reaksi tubuhnya.


"Udah mas. Coba cek dulu. Nyalain mesin nya."


Ben tersadar dari hal yang membuatnya sedikit terkagum. Lalu bergerak dan menghidupkan mesin sesuai arahan si gadis tomboy yang berambut panjang.


Mesin menyala. Ben tersenyum senang. Ia melihat ke depan dan mengacungkan jempol nya. Gadis itu menutup kap nya dan langsung menaiki motor yang terparkir di depan mobil nya.


"Thank you dek!" Seru Ben saat gadis itu menarik tuas gas motor melewati mobil Ben. Dan berlalu begitu saja setelah mengacungkan jempol nya ke atas.


"Ya ampun, aku belum sempat nanya namanya dan nggak ngasih dia imbalan lagi." Gumam Ben merasa ada ganjalan rasa sesal di hati nya.


"Udahlah, inget Nina! Reuni! Udah jam segini lagi." Gumam Ben lagi sembari melaju menuju resto Flori.


Sesampainya di resto, Ben yang sudah melakukan reservasi mengkoordinasikan ulang. Beberapa orang temannya yang juga menjadi panitia sudah stand by di sana. Tapi, Nina belum datang. Beberapa saat setelah kedatangan nya, Nina menampakkan diri di depan resto. Berjalan dengan sangat mempesona mata Ben dan memakai gamis yang dia belikan. Satu motif dengan yang kini ia kenakan. Ben mengulas senyuman.


"Sesuai janji ku akan ku ungkapkan semua rasa yang terpendam sejak lama." Ben bergumam sembari melangkah memangkas jarak pada wanita yang sudah mengisi hatinya selama beberapa tahun lamanya.


"Nina!"


Wajah wanita itu tampak sangat terkejut melihat Ben yang memakai baju yang sama. Tapi, senyum terungkai di wajah cantik wanita berjilbab itu.


"Sory, agak telat."


"Nggak papa. Ayo masuk." Ajak Ben yang mengimbangi langkah Nina."Zidan mana? Nggak ikut?"


"### Ooohh..."


-


"Cie... Cie... Ada pasangan baru nih." Goda beberapa teman kelas mereka dulu.


Baik Ben maupun Nina hanya mengulas senyum.


"Kalian dah nikah ya?" Tanya Rati teman sebangku Nina dulu.


"Hus! Sembarangan, Nina tuh dah nikah." Teman wanita yang lain mengibaskan tangan di udara.


"Lah, terus mana suaminya?"


Nina masih tak menjawab, hanya tersenyum kecil.


"Suami Nina dah meninggal pas anaknya lahir." Timpal yang lain.


"Eehh? Yang bener? Maaf ya Nin. Kamu pasti sedih banget. Aku nggak tau."


"Nggak papa. Itu udah berlalu lama kok." Ucap Nina tersenyum maklum, namun ada semburat kesedihan terpancar di dalam matanya.


"Jadi, sekarang sama Ben Nih? Sampe couple an gitu." Goda yang lain mencairkan suasana yang sedikit agak suram.


"Enggak!" Jawab Ben melirik kecil Nina."ini pas aku lihat model nya bagus, jadi aku beli sekalian."

__ADS_1


"Wuiiiddiiihhh... Berarti jodoh dong kalian. Bisa kebetulan gitu."


"Gimana Nin? Jodoh kita katanya." Ucap Ben menatap Nina sembari menarik turunkan alisnya.


Selepas acara reuni, sebagian dari peserta sudah pada pulang. Nina dan beberapa panitia penyelenggara lainnya masih tinggal.


Nina memilih duduk di tepian kolam ikan sembari menunggu Ozil menjemput. Bersama Rati yang juga sedang menunggu jemputan.


Mereka berbincang ringan.


"Ku pikir tadinya kamu sama Ben ada hubungan spesial, Nin. Habis kalian couple-an sih." Rati menyampaikan pikirannya.


Nina hanya mengulas senyum."enggak."


"Ben makin ganteng aja ya, gagah lagi, sampai kaget aku lihat dia. Dari SMA dia sudah plus sih ya?"


Nina sekali lagi tersenyum.


"Sekarang tambah plus plus." Rati tertawa, Nina pun ikut tertawa.


"Eh, Nin aku duluan ya, suamiku udah di depan." Pamit Rati cipika - cipiki setelah sesaat melihat pesan masuk di hape nya.


"Iya, hati-hati ya."


Di kejauhan, tampak Ben Arfa berjalan mendekat.


"Ben duluan ya." Menepuk lengan Ben saat berpapasan.


"Oke. Hati-hati!" Balas Ben sembari menduduki bangku samping Nina.


"Udah selesai semua kok. Tinggal balik kita."


"Oke deh."


Ben menatap Nina lekat. Dan dalam keheningan sesaat memeluk mereka.


Merasa tak nyaman dengan tatapan dari Ben. Nina mengalihkan pandangan nya, memutus kontak mata diantara mereka.


"Ummm... Kamu nggak keberatan kan?" Tanya Ben menunjuk baju nya dan baju Nina bergantian dengan jarinya.


"Enggak, kenapa?"


Hening lagi ...


"Nina."


Nina memandang Ben.


"Udah lama banget, sejak kita masih satu kelas dulu. Dan sampai kamu nikah, kita juga sempet kehilangan kontak. Sekarang, kamu sudah sendiri lagi. Repot nggak ngurus Zidan sendiri, tanpa suami kamu?"


Nina menatap manik mata Ben yang lekat menatap wajahnya. Lalu menghela nafas dan melihat kolam ikan.


"Kami baik-baik aja. Ada banyak orang yang menyayangi Zidan. Sedikitpun dia tidak kurang kasih sayang dan aku tak merasa repot. Aku bahagia menjalani keadaan ini Ben." Jawab Nina yang mulai merasakan lagi perasaan berbeda dari Ben.


"Nina, sampai sekarang, apa kamu nggak menangkap sinyal yang aku kirim?"

__ADS_1


__ADS_2