Nikah Yuk Mbak?!

Nikah Yuk Mbak?!
bab 32


__ADS_3

Dila memandang sekeliling nya. Resto itu sangat bagus, ada begitu banyak lampu menghiasi di atas dan di beberapa batang pohon. Kursi-kursi berbahan kayu di beberapa tembok juga terdapat bingkai-bingkai foto.


Dila berjalan mengikuti Ben yang menaiki tangga berbahan kayu. Lalu sampailah mereka di atas rooftop yang juga menjadi bagian dari resto. Ben menggeser kursi dan mempersilahkan Dila duduk.


Dari sana Dila bisa melihat pemandangan sekitar resto dan juga jalanan yang mulai tampak sibuk oleh orang-orang yang baru pulang kerja.


Resto itu tampak cukup ramai dengan pengunjung yang baru pulang dari bekerja dan melepas lelah di sana.


"Mas Ben, mau ngomong apa?" Tanya Dila begitu Ben mendudukkan diri di depan Dila bersekat meja persegi.


"Ini tentang hubungan kita, Dil."


Dila tak terkejut. Ia sudah tau jika Ben Arfa memang menyukai kakaknya, Nina. Jadi dia tidak masalah jika Ben mentalaknya, agar bisa melanjutkan menikahi Nina. Toh, mereka juga menikah karena suatu kesalahpahaman.


"Nanti malam pulang ke rumah."


Dila sedikit berpikir, rumah mana yang di maksud? Apakah rumah nya apa rumah Ben.


"Mama nungguin." Lanjut Ben Arfa seakan tau arti tatapan Dila dan ke bisuannya.


"Oke."


Ben menatap Dila yang hanya memberi jawaban singkat,


" Itu aja?" Tanya Dila.


"Itu dulu, sekarang pesan makan lebih dahulu."


Ben sedikit tercengang melihat reaksi Dila yang biasa saja dan santai. 'Yah, mau bagaimana lagi, kami juga menikah karena keadaan. Tapi, kenapa dia seperti tanpa beban.' gumam Ben dalam hatinya.


Seusai makan bersama. Ben membawa Dila kembali ke rumah Nina lebih dahulu untuk meminta ijin agar sang bunda tidak khawatir. Walau sebenarnya ia sangat cemas jika sampai bertemu dengan Nina, saat hati nya masih gamang seperti ini. Bertemu dengan Nina akan membuat nya semakin buruk.


"Dil, apa Nina ada di rumah?"


"Enggak. Dia ke Bantul ke makam mas Ozan."


Ben menghela nafas lega, ia merasa sangat malu karena ia melamar dan menunggu jawaban dari Nina. Namun justru malah menikahi adiknya. Hal yang sama sekali di luar rencananya.


Tujuan dia ke Wonosobo selain untuk urusan pekerjaan, ia juga ingin memberi bunga edelweis pada Nina. Malah, seperti ini akhirnya, menikah dengan calon adik ipar yang bahkan baru saja menginjak bangku kuliah.


"Loh, nak Ben. Ayo masuk."


Bunda masih selalu dan tetap ramah padanya. Setelah menyalami bunda, Ben mengutarakan maksud kedatangannya.


"Maaf bunda, saya kemari sangat terlambat. Saya, masih sedikit syok dengan yang terjadi..."


"Enggak apa. Bunda ngerti kok."

__ADS_1


"Jadi, maksud kedatangan saya untuk menjemput Dila ke rumah." Ucap Ben berhati-hati.


"Apa ini berarti kamu memutuskan untuk bersama Dila?" Tanya bunda.


Ben mengangguk. "Kami udah menikah bunda. Walau masih di bawah tangan. Tapi, Dila tetaplah istriku menurut Islam. Jadi, saya ingin membawa nya ke rumah."


Bunda menghela nafasnya. "Mungkin ini sudah jadi ketentuan- Nya, nak Ben. Bukan Nina yang menjadi jodoh mu. Tapi Dila. Bunda harap walaupun kalian menikah secara siri dengan cara yang luar biasa itu. Tidak ada perceraian diantara kalian nanti. Dan bunda berharap kamu mencintai dan menyayangi Dila.


Dila anak bungsu ku Ben. Jika kamu tak cinta, jangan sia-sia kan dia. Bunda masih tetap menerima jika kamu kembalikan dia secara baik-baik. Meski bunda tak menyukai perceraian." Bunda berucap lagi seakan mengerti apa yang Ben pikirkan. Bunda tau Ben berniat memperistri Nina, namun, justru Dila yang dia dapatkan.


Ben mengangguk. "Saya mengerti."


Dila baru saja keluar dari dalam dengan membawa tas keril yang cukup besar. Ben terkesima.


"Kamu mau kemana Dil?" Tanya bunda melihat Dila seperti akan muncak saja.


"UMM... Sebenarnya, besok Dila dan teman-teman mau muncak ke Merbabu. Jadi mungkin akan berangkat dari rumah mas Ben." Dila menggaruk kepala nya yang tidak gatal.


"Ya Alloh, Dil! Kebiasaan deh, kamu harusnya minta ijin dulu."


"Iya, ini lagi mau ijin sama bunda."


"Hiihh, anak bunda satu ini." Bunda berdiri dan menjewer telinga Dila."sekarang kamu sudah bersuami. Jadi harusnya minta ijin sama suami kamu."


"Sa-sakit bunda..." Pekik Dila,


Dila dan bunda terdiam sesaat. Lalu bunda melepaskan telinga Dila.


"Aahh, benar. Kamu sudah punya suami sekarang, jadi bunda tak bisa memarahi kamu lagi. Udah jadi tugas suamimu. Jadi kamu harus patuh dengannya."


Dalam perjalanan ke rumah Ben, baik Dila maupun Ben hanya bungkam.


"Mas Ben, seperti yang sudah aku bilang tadi. Besok lusa aku mau camping. Ini udah di rencanakan jauh sebelum kita terpaksa menikah..."


Ben tersenyum mendengar ucapan Dila.


"Kenapa senyum-senyum?"


"Kita memang terpaksa menikah, dan kamu sudah jadi istriku. Jadi menurut sajalah pada suamimu."


"Maksudnya, mas Ben nggak ngijinin aku muncak?"


"Aku nggak bilang begitu."


"Jadi, mas Ben ngijinin?"


"Aku juga nggak bilang begitu."

__ADS_1


Dila tiba-tiba saja menjadi geram, "jadi jawabannya yang mana dong? Ngijinin apa nggak?"


"Kalau aku nggak ngijinin, apa kamu bakalan tetap pergi?"


"Seperti yang sudah Dila bilang tadi, udah di rencanakan, sebelum yang tidak di rencanakan terjadi."


Dila menatap Ben lama. Menunggu kalimat keluar dari mulut suaminya. Namun Ben hanya menatap lurus kedepan.


Dila berdecih kesal. "Ck!"


Ben menyinggung senyum kecil yang Dila tak tau.


****


"Nin, besok bapak dan keluarga akan datang ke rumah untuk melamar mu buat Ozil." Ucap bapak."keburu ribut dia ntar." Terkekeh-kekeh.


"Iya pak." Jawab Nina membonceng Zidan bersiap untuk pulang. "Nanti biar Nina sampaikan sama bunda."


"Ibuk..."


"Kenapa sayang?" Nina menundukkan kepalanya melihat Zidan.


"Zidan nggak mau pulang. Mau di sini."rengek Zidan.


"Udah, Zidan tinggal aja Nin. Besok ibuk antar sekalian nglamar kamu." Ucap Bu Ana mengambil Zidan dari motor Nina."ayooo, cucu nenek, nanti malam bobok sama nenek ya?"


"Maaf Bu, ngerepotin."


"Ngerepotin apa? Zidan kan cucu nenek, ya nggak repot."


Nina sangat bersyukur, karena keluarga mantan sekaligus calon suaminya itu sangat baik. Setelah berpamitan, Nina segera membawa motornya pulang.


Malam yang di nanti tiba, Ozil beserta keluarga Bahdim datang berkunjung kerumah Nina. Suasana tampak ramai tanpa kehadiran Dila karena dia sudah di bawa Ben kerumah. Dan Dila juga sudah ijin untuk tidak hadir karena ia Camping.


Acara lamaran pun berjalan dengan lancar. Wajah Ozil terlihat sangat cerah dan bahagia. Begitupun dengan Nina yang meski ia masih belum sepenuh hatinya lupa dengan Ozan. Namun, ia mulai memberi ruang untuk Ozil.


"Ya ampun Nina. Kamu sudah lamaran dua kali, adik mu malah nggak pake lamaran langsung nikah." Gumam bunda setelah selesai acara dan berberes.


"Semua sudah sesuai takdir-Nya bunda."


"Iya, tapi.... Ahh, sudah lah. Ibu kadang lelah mendengar suara sumbang tetangga."


"Kalau lelah jangan di dengerin Bunda."


Bunda menatap Nina haru, lalu mengusap lengan putrinya.


"Sebentar lagi, semua anak gadis bunda pergi dan meninggalkan bunda."

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2