
Sore hari di jalan menuju Pendopo Tulungagung, terlihat suasana ramai yang tak seperti biasa. Ada kegiatan pemeriksaan plombir (surat pajak sepeda), membuat beberapa pengendara sepeda berputar balik sebelum terlihat oleh petugas.
Razia Plombir
"Razia, mbak..." Kata Ami pada kakak perempuanya. Mereka berdua berjalan kaki menuju pendopo.
"Iya, mas Usi sudah bilang tadi. Kita memang sebaiknya jalan kaki, biar ibu sama adik yang di bonceng mas berangkat" sahut Nar.
Mereka meneruskan perjalanan ke pendopo, kira kira berjarak 2 KM dari rumah. Menggunakan pakaian terbaik, mereka merasa senang sekali. Jarang sekali ada acara keramaian, walau hanya di datangi oleh tamu dari ibukota. Bahkan satu satunya stasiun televisi ibukota datang untuk meliput.
Hingga Ami dan Nar di buat kagum sesampainya mereka di aloon-aloon.
"Wuuuuaaah, ramai sekali ya mbak! Apa kita bisa ketemu sama ibu, mbak?" Kata Ami ragu, melihat banyaknya warga yang datang.
"Kalau gak ketemu, kita pulang saja!" Sahut Nar ketus. Kakanya ini bukan tidak suka keramaian, dia tidak suka di recoki anak kecil terutama Ami. Nar yang 7 tahun lebih tua dari Ami, membuat dirinya merasa lebih dewasa. Dia lebih suka sendiri, bertemu dengan lawan jenis atau hanya sekedar mengobrol dengan temanya. 'Tidak untuk jadi pengasuh', pikirnya.
Ami yang tahu sifat kakanya, menyesali keputusan untuk pergi bersama. 'Tau gini aku tadi ngajak Surti sama Asih aja...' pikirnya.
__ADS_1
Saat sampai pendopo, mereka di kagetkan dengan orang orang yang membuat pagar betis di pintu masuk. Kemungkinan besar tamu yang datang kali ini adalah tamu yang sangat penting. Ami sempat mengintip sekilas bagian halaman pendopo sebelum di seret paksa oleh kakaknya.
Hanya sebuah mobil mewah yang di parkir di dalam, selebihnya berjajar di area depan pintu pendopo hingga ke aloon-aloon. Tampaknya semua orang sedang mengadakan pertemuan di dalam, hanya beberapa orang yang terlihat lalu lalang diluar mengawasi area tersebut.
"Sakit, kak..." Kata Ami sambil menarik lepas tanganya. Nar yang kesal, berhenti dan bersedekap menatap tajam adiknya.
"Kamu gak lihat, tempat itu di tutup! Jangan buat masalah, ayo kita pulang saja! Lihat mereka yang datang pun tidak ada yang mau mendekat, tidak ada pertunjukan dan membuat bosan saja!" Kata Nar ketus, dan diapun beranjak pergi.
Ami yang takut di tinggal, berlari menyusul kakaknya. Mereka masih berusaha mencari Ibu dan kakak sulungnya sebelum meninggalkan area itu, walau hasilnya nihil. Hari mulai gelap saat mereka meninggalkan keramaian.
"Kita lewat jalan pintas saja, biar cepat." Kata Nar pada adiknya sebelum memasuki gang yang hanya cukup di lalui 2 orang saja.
Nar mendengus geli mendengarnya. Dia tau apa yang di maksud rumor 'banyak hantunya', karena dia pernah melihatnya.
"Kamu mau tak kenalin sama hantunya? Mereka gak bakal ganggu kamu, malah kamu yang bisa ganggu mereka. Nanti aku tunjukan tempatnya" Kata Nar penuh rahasia.
Ami bertanya tanya, mengapa kakaknya bicara seperti itu. Seperti sering lewat jalan ini atau mengerti tentang sesuatu. ?
Dia nurut saja saat di ajak masuk pekarangan rumah bambu yang cukup luas, dan di kenal sebagai tempat bertemunya ormas Gerwani. Tempat itu memang jalur menuju rumah mereka yang paling dekat. Terdengar suara musik dan beberapa orang bercengkrama di dalam bangunan tersebut.
__ADS_1
Hingga sampai di samping gubuk yang besar itu, suara musik dan aktifitas orang orang di dalam terdengar semakin jelas. Nar menolehkan kepalanya pada ami dan memberikan kode 'diam' dengan telunjuknya.
Kakaknya itu menarik Ami, mengajaknya mengintip ke dalam gubuk melalui celah anyaman bambu yang memang sudah aus termakan usia.
Di dalam terdapat belasan muda mudi usia sekitar 19-25 tahun. Ada yang bermain catur, ada beberapa yang menari sambil mabuk... terlihat pula beberapa pasang muda mudi sedang melakukan hal taksenonoh.
Ami menajamkan sebelah indra pengelihatanya. Dalam keremangan kabut asap rokok, dia melihat seorang perempuan yang sedang di tindih oleh pemuda yang ia kenal adalah pacar kakaknya!
💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸
Hallo readers😊 semoga sehat selalu ya🙏
Bonus foto contoh Plombir, tapi tahun 1963😅
ini foto paling tua
Bab ini belum selesai, nyambung bab berikutnya😁
__ADS_1
Aku cari kesempatan, dalam kesempitan waktu kerja😂 buat ngetik... Mohon maaf jika ada kesalahan🙏 kalau ada waktu, saya revew dan ralat😉 Jika ada pertanyaan, silahkan tinggalkan komentar... Trimakasih.