
Hari sudah malam saat para peserta dan supporter pertandingan bola voli membubarkan diri. Tiga gadis remaja berdiri di depan pos kampling. Ami, Asih dan Surti yang menunggu Kamto mulai gelisah. Pasalnya, tiga pincuk rujak buah telah tandas. Asih yang merasa masih lapar, terus menerus melirik bungkusan yang di bawa Ami.
"Tidak boleh, ini punya mas Kamto" Ucap Ami tanpa melirikpun, pada sahabatnya.
"Itu satu bungkus kan tak ada pemiliknya, Mi." sahut Asih, mengiba. Dia terus menerus menelan saliva.
"Kata siapa, yang bayar saja belum makan. Kamu jangan malu-maluin kita, sih... Tunggu sampai rumah." Serobot Surti.
Kamto terlihat berpamitan pada juri dan berjalan ke arah mereka.
"Maaf, lama ya? Sudah malam, ayo tak barengi pulang..." Ucap Kamto sambil menerima bungkusan yang di ulurkan Ami. Mereka ber tiga mengangguk, lalu mengikuti langkah Kamto.
Jarak dari lapangan voli ke daerah rumah mereka, tidak terlalu jauh jika melalui jalan terabasan. Sayang jalan itu cukup gelap karena banyak pepohonan rindang. Diantaranya pohon sawo, sukun, pete, mangga, jati, dan beberapa tanaman lain. Cukup terawat memang, hanya suasana malam hari yang membiat suasana sedikit mengerikan.
Pohon Pete
Ketiga remaja di belakang kamto, saling berpegangan erat. Mereka bertiga jalan sambil melirik sekitar pepohonan.
__ADS_1
"Mas, kok lewat sini sih...? kenapa gak jalan pinggit rel saja? Paling tidak, kita masih betpapasan sama orang orang." Ucap Surti, suaranya sedikit bergetar karena takut. Ya, mereka bertiga ketakutan...
"Jalan ini paling dekat dengan rumah kita, kalian gak bakal kecapekan. Kan ada aku, kalian takut apa?" Sahut Kamto yang merasa geli akan tingkah laku ketiganya.
"Mas Kamto gak takut kalo ada lelembut di sekitar sini?" Tanya Ami yang merasakan hawa dingin mencekam di belakangnya. Sepontan dia meraba tengkuk, menoleh ke belakang. Sepi...
"Kenapa, kenapa? Ada apa di belakang, Mi? Kamu kan yang bisa lihat, beri tahu kita" Ucap Asih, cepat. Mereka tahu kalau Ami memiliki kelebihan. Mengingat masa kecil Ami yang selalu mengatakan secara langsung jika ada sesuatu tak kasat mata di sekitarnya. Tapi hanya Ami yang melihat, tidak dengan yang lain.
Kamto yang merasa suasana semakin janggal lalu berbalik ke arah para gadis. Sambil berkacak pinggang, ia menatap satu per satu ke arah mereka. Merekapun seketika berhenti, menatap balik Kamto. Jarak yang hanya beberapa jengkal, membuat ketiganya mendongakan kepala melihat wajah Kamto.
Tatapan Kamto terpaku sedikit lebih lama ke arah Ami, dan merekapun menyadarinya. Sadar akan kelakuanya, kamto berbalik kembali melupakan niatnya untuk menenangkan ketiganya.
Mereka yang kaget, terpaku akan perbuatan Kamto. Walau akhirnya mereka berjalan cepat menyamai langkah temanya. Pemuda itu tak sadar bahwa yang ia tarik adalah tangan Asih.
"Waaah, gak salah aku di gandeng mas Kamto...? Kalau Anang tahu, bakal runyem ni... Apa mungkin mas Kamto kira gandeng tangan Ami, ya...?" Asih yang bermonolog dalam hati menoleh ke arah dua temanya di belakang.
Ami dan surti mengisaratkan 'mana ku tahu' dengan bahasa tubuh, saat mereka saling memandang. Semua orang tahu, Asih berpasangan dengan Anang sejak kecil. Bisa di katakan, seperti sepasang kekasih. Usia yang sama, lingkungan yang sama, sekolah yang sama. Hingga nakal pun sama.
Mereka meneruskan berjalan cepat dalam diam. Hingga sampai di area rumah warga, Kamto memperlambat langkahnya. Samar ia mendengar nafas memburu tiga gadis di belakangnya. Ia lantas menghentikan langkahnya dan berbalik.
__ADS_1
Betapa kagetnya Kamto menatap sepasang mata tak berdosa Asih, sontak membuatnya melepaskan genggamanya. Matanya menatap balik Ami yang berada di belakang Asih bersama Surti.
"Maaf, maaf... Aku kira..." Ia tak berani meneruskan. Apa yang akan ia katakan? Malu yang ada jika mengakui, maksudnya ingin menarik tangan Ami.
"Kita ngerti kok, gak papa." Ucap Asih cepat. Ia berbalik melangkah kearah dua temanya dan memberi kode lewat kedipan mata ke arah Surti.
"Mas To, makasih rujaknya dan sudah di antarkan sampai sini. Kita pulang dulu, ya..." Pamit Asih. "Mi, aku duluan." Ucapnya pada Ami sambil mengerlingkan mata.
"Tolong antar Ami pulang ya, mas. Dia takut gelap." Pesan asih sambil memberikan tatapan jahil pada Ami. Mereka berdua pun berlalu sambil tertawa kecil, meninggalkan sepasang muda mudi yang terpaku karena canggung.
🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸
Hallo readers😊
Bab ini nyambung yang kemarin ya, dan masih ada besok untuk awal hubungan Ami dengan Kamto.
Sekali lagi, maaf mengecewakan teman teman yang berharap pada Topo😅🙏 terus terang saya katakan, mereka tidak berjodoh😪
Yang penasaran sama Kamto, tunggu bab selanjutnya😉 Semoga selalu sehat dan janganblupa bahagia😘
Bonus...
__ADS_1
Pohon Sukun