Nikmatnya Ikhlas

Nikmatnya Ikhlas
POHON ALPUKAT DAN SAWO


__ADS_3

Berselang beberapa hari dari kejadian 'hilangnya' ayam mbak Anti, pencarian pun berhenti. Tak ada yang menduga bahwa pelakunya adalah anak remaja di lingkungan itu sendiri. Mereka ber tiga melakukan dengan rapi dan bersih tanpa jejak.


Pagi itu, Ami sudah bisa berdamai dengan sedikit perubahan aktifitas. Yang biasanya dulu dia di antar jemput Topo, sekarang harus berjalan kaki. Tidak terlalu jauh memang, hanya 600Meter jarak dari rumah ke sekolah. Dia akan bangun dan berangkat lebih pagi dari kebiasaanya dulu.


Ini tahun terakhirnya di SMP, Ami berjalan sambil berfikir kemungkinan dia tidak akan melanjutkan sekolah. Dia hanya akan fokus mencari uang dan menekuni tari dalam grup wayang.


Berjalan kira-kira 300Meter, Ami melihat ada pohon alpukat yang daunya tersisa hanya sedikit. Dia mengingat, beberapa hari kebelakang memang jarang ia perhatikan. Saat ia mendekat dan mempertajam pengelihatanya, ia melihat beberapa ulat sedang berpesta daun yang jatuh. Mungkin, batangnya ikut tergigit sehingga beberapa helai daun bisa rontok.



Ami seketika kaget, dengan banyaknya ulat yang berada di tanah dan sekitar pohon alpukat. Seketika ia balik kanan dan berjalan cepat, mengurungkan niat untuk pergi kesekolah. Tidak... ia akan kena masalah jika tak masuk sekolah pikirnya sambil berhenti dan berfikir lagi.


Lalu ia berbalik kembali ke arah sekolahan, dan siap mengambil ancang ancang. Hm... Kalau lari mungkin ia akan selamat pikirnya. Perkiraan letak pohon berjaran 20 langkah darinya... Dan diapun mulai lari terbirit-birit.


Dengan mata terpejam, Ami lari secepat mungkin meninggalkan area pohon alpukat. Ia mengabaikan tatapan aneh dan bertanya-tanya orang sekitar. Hanya sampai merasa jaraknya cukup jauh meninggalkan si rumah ulat, ia membuka mata dan seketika berhenti tepat di belakang sepeda orang yang sedang di parkir di pinggir jalan.


Dengan cekatan ia menyeimbangkan badan setengah memeluk bagian belakang sepeda. 'Untung tidak jatuh' gumamnya, sambil menoleh kanan kiri. Setelah memastikan aman, ia melanjutkan berjalan lagi sambil berfikir akan mngambil jalan memutar saat pulang sekolah nanti...qqq

__ADS_1


...~~~~...


Malam hari, Ami membonceng teman kakaknya Nar untuk pulang pergi ke pasar malam untuk pentas. Itu juga tidak selalu, mengingat kesibukan masing masing. Ami hanya pasrah ikut siapa saja yang akan mengantarnya, atau terpaksa mencari becak dan mengeluarkan sebagian uang tabunganya.


Dan malam itu, kebetulan teman Nar hanya bisa mengantarnya sampai ujung gang jalan besar. Ami harus berjalan lagi sekitar 500Meter dari situ untuk pulang kerumah. Setelah mengucapkan terimakasih, iapun mulai berjalan dengan sedikit ngeri. Pasalnya, ia takut gelap.


"Mi...! Jalan jangan nunduk, kamu gak lihat ibu di sini?" Tegur bu Widji mengagetkan Ami. Ia tak sengaja melihat anaknya, setelah mendapatkan sebungkus tahu lontong yang ia beli untuk suaminya.



"Ini tahu lontong, buat bapakmu. Jangan minta, ibu beli cuma sebungkus. Kebiasaan kamu kalo jalan nunduk, kalo nabrak gimana?" ucap ibunya, heran.


"Ibu gak tau sih, di atas pohon itu ada yang nunggu" Sahut Ami sambil menunjuk pohon sawo yang tinggi besar tak jauh dari mereka.



"Oh, ya? Siapa? Dimana" Tanya ibu, penasaran saat berjalan tepat melewati pohon tersebut. Ami mulai mencengkram lengan ibunya saat mereka mendongakan kepala.

__ADS_1


"Itu di dahan paling atas, item... guwede... matanya merah..." dan seketika keduanya merinding.


Bu Widji lantas berjalan cepat setengah menggeret tangan Ami.


"Gak usah ngomong macem-macem lagi, aku gak lihat apa-apa kok." Ucap ibunya. "Jangan suka ngarang cerita yang bikin orang takut, Mi..." Tegur ibunya. Mereka berjalan di area sepi. Hanya terdapat beberapa rumah dalam radius 300Meter. Kiri kanan hanya tembok yang membatasi tanah milik orang lain.


"Aku gak ngarang, buuuk... Kadang aku lihat bayangan di tembok, tapi tak cari gak ada orangnya... Malah kadang gak ada kepalanya. Makanga aku nunduk kalo jalan lewat sini malam-malam..." Ucap Ami sedih.


"Ya udah, wis... Jangan ngomong lagi sampe rumah." Sahut bu Widji, ketus. Dan merekapun melanjutkan perjalanan dengan tergesa-gesa dalam diam....


💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸


Hallo readers😊 semoga di beri kesehatan, untuk semua ya🙏


Dalam bab selanjutnya kita akan melihat Ami beranjak dewasa... Karena masalah ekonomi, Ami tidak dapat melanjutkan sekolah. Jaman itu, masih umum jika tak melanjutkan hingga SMA (hanya orang menengah keatas yang mampu).


Kalau ada pertanyaan, silahkan isi kolom komen😊 terimakasih😁 dan salam manis dari 'Ami'😘 jangan lupa bahagia😉

__ADS_1


__ADS_2