
Hari demi hari Ami menyesuaikan diri. Dari anak yang suka bermain dan jahil, menjadi penurut dan sibuk.
Ya, sekarang dia sibuk membantu bu Bardiyah jualan. Apapun yang bosnya suruh, asalkan dia mampu pasti dia lakukan. Dari menyerbeti daun pisang hingga menjualkan sisa gorenganya pada orang-orang yang lewat.
Dengan berlari kecil, Ami membawa keranjang gorenganya ke arah karavan cikar (gerobak yang ditarik oleh sapi) pembawa tebu. Biasanya tebu tebu itu di bawa dari desa menuju pabrik gula di pinggir kota.
Cikar
"Pak, gorengan pak..!" Teriak ami menawarkan daganganya pada laki laki yang berdiri di atas gerobaknya.
"Loh, nduk... Jualan apa cuma mau ngasih?" Sahut nya sambil ketawa.
"Ya jualan to pak, saya juga butuh uang..!" Sahut Ami sewot.
"E..., Masih kecil kok jualan... Gak takut di culik apa?" sahut laki-laki yang ada di barisan depan, mendengar ucapan Ami.
"Rumah saya di situ (sambil nunjuk ke belakang, arah gang) pak, lagipula jalan masih ramai... Beli ya, pak... Tinggal 12, Mangrepes (5 Rupiah) wis... Sak bom lo pak, gorengannya. Makan satu pasti kenyang!" Kata Ami sambil mengacungkan jempol kecilnya.
__ADS_1
Rp 5,- atau 5 Rupiah
"Mmm..., Ya sudah, tak beli. Nanti bisa di bagi sama teman-teman." sahut bapak itu lalu menoleh pada anak belasan tahun di sebelahnya, yang sedari tadi hanya menyimak sambil mengupas tebu dengan sabit. "Sana Di..., ambil gorenganya dan kasih potongan tebu itu ke keranjang si nduk." Ujarnya dan anak laki-laki itupun turun menurutinya.
Tebu
Setelah melakukan transaksi, anak laki-laki itu segera berlari menyusul sang bapak. Karavan cikar itu tetap berjalan perlahan, semakin menjauh.
Saking senangnya, Ami berjingkrak setengah berlari pulang. Dia mengibar-ibarkan uang 5 Rupiah, yang akan di setorkan pada bu Bardiyah.
Malam hari, Ami bertemu teman bermainya Surti dan Asih. Seperti biasa, mereka mengobrol hingga larut malam. Dari mulai masalah Ami bekerja, hingga mangga tetangga pun tak luput dari percaakapan.
"Mi... Mangga punya pak Mbalik sudah matang, lihat! Dia kan pak dhe mu, kita boleh mencicipi gak?" Celetuk Asih saat melintasi depan rumah pak Mbalik. Dia melihat ke atas sambil menelan saliva.
"Kamu tu Ti...Ti..., biasa...! Mata jelalatan kalau ada buah tetangga! Ngiyip (menginginkan sesuatu milik orang lain)! Pak Mbalik mungkin belum tau, Mi. Kalo sudah, pasti di brongsong (bungkus)". Sahut Asih.
__ADS_1
Brongsong Mangga
Ami menimbang tinggi pohon yang melebihi atap rumah, bisakah dia naik tanpa ada masalah..? Mereka tau, dialah yang paling ahli dalam masalah memanjat.
"Boleh kok, kita ambil. Besok aku bilang pak dhe, sepertinya tak masalah." Ucap ami sambil mendahului temanya masuk pekarangan pak Mbalik.
Mereka bertiga masuk tanpa permisi, karena tak mau mengganggu si empunya rumah yang kemungkinan sudah terlelap. Letak pohon mangga di samping rumah, jalan menuju belakang rumah Ami. Ya, kedua rumah itu saling membelakangi. Mereka meng endap-endap, takut menimbulkan suara.
Amipun merangkak naik ke atas pohon dengan perlahan. Saat di tiba di dahan pohon paling atas, tiba-tiba dia melihat selintas bayangan di belakang rumah. Seketika tubuhnya mematung.
🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸
Catatan:
Karavan atau Kafilah adalah orang-orang lewat yang berjalan atau menaiki sesuatu secara berkelompok.
Brongsong adalah membungkus buah dengan media kertas, bambu, kain atau plastik agar buah cepat matang dan tidak di hinggapi kumbang.
__ADS_1
Maaf di gantung😂 author ceritanya pelan ya😁 sambil ngumpulin foto😅
Di sini banyak istilah yang di pakai orang Jawa Timur, jadi saya beri catatan di akhir cerita. Semoga terhibur😘