Nikmatnya Ikhlas

Nikmatnya Ikhlas
KABAR HAMIL


__ADS_3

Nuno mengendarai Zundapp dengan perlahan, menikmati semilir angin malam. Rangkulan tangan Ami di pinggangnya, menghangatkan perasaan. Ingin rasanya menggenggam tangan kecil itu, tapi ia tahu batasan. Jangan dulu, harus sabar cari selah.


Jarak dari rumah Ami ke pasar sore, tempat berkumpulnya penjual makanan di kota itu, tidaklah jauh jika di tempuh dengan berjalan kaki. Hanya saja, harus melewati area setasiun kereta api yang gelap gulita di malam hari. Harus melewati jalan memutar yang lumayan jauh, jika memakai kendaraan.


Hingga akhirnya, perjalanan yang heningpun berakhir di keramaian warung yang ber jejer rapi. Setelah memarkirkan kendaraan, Nuno dan Ami berjalan menuju tempat penjual rujak petis. Ami yang berjalan lebih dulu, tidak mengetahui sorot mata sendu menatap tangannya.


'Seharusnya, kita berjalan bergandengan tangan. Kan keliatan lebih romantis.' Nuno bermonolog, sambil mencebik sekilas.


Terdapat 3 orang ibu-ibu yang Ami tahu, rumahnya di gang belakang. Hanya saja, mereka tidak terlalu kenal hingga tak harus bertegur sapa. Hanya satukali anggukan kepala dan tersenyum pada mereka, untuk menunjukan tata krama. Yang di sambut senyuman dari ketiganya, pertanda mereka menerimanya.


Ami dan Nuno memilih bangku panjang untuk duduk bersama. Menunggu sang penjual menyelesaikan pekerjaanya, sebelum mulai melayani yang lain.


"Bu, saya rujak petis dua di bawa pulang. Pedes semua ya." Serobot seorang Bapak-Bapak yang baru datang. Ia mengambil uang, dan menaruhnya di meja "Saya tinggal dulu, Bu. Ini ya, uangnya." Katanya sambil berjalan pergi.


Ibu penjual rujak yang tak sempat menjawab, hanya menghela nafas dan menghadap Ami. "Kalian mau rujak petis apa petis kangkung?" Tanya Ibu paruh baya itu pada Ami.


Petis Kangkung



"Aku mau petis kangkung, pedes ya Mi" Bisik Nuno pada Ami, yang menimbulkan desiran asing di tubuhnya.


"Satu rujak petis, gak pedes dan satu petis kangkung pedas Bu. Bawa pulang ya"jawab Ami." Merasakan telapak tanganya di pegang erat oleh Nuno, Ami terkesiap kaget.


"Rujaknya gak pedes sama sekali ya?" Ulang Ibu itu pada Ami.


"I-iya, Bu." Jawab Ami sedikit tergagap, grogi. Saat Ami mau memprotes perbuatan nuno, terdengar percakapan ke tiga Ibu-Ibu yang sedang menunggu pesananya.

__ADS_1


"Masak sudah 4 bulan, jeng? Lha kok cepet men?!" Tanya lirih Ibu berbadan gempal, berbaju kuning.


"Iya, bener! Mungkin mau masuk 5 bulan, wong perutnya sudah keliatan kalau dia pas gak pake daster" Sahut Ibu yang duduk di tengah mereka, berbisik tertahan.


"Padahal Semi gak pernah terlihat keluar sama laki-laki lo, jeng... Gak nyangka sekali, padahal di jaga Bapak, Ibu dan kakaknya." Ujar Ibu ber baju kuning lagi, masih tak percaya.


Ami yang mendengar nama yang ia kenal di sebut, langsung menegang. Ia mengingat malam lalu saat membuat kelepon, Ia mendengar gosip tentang Semi dari temanya. Tak terasa, tangan yang di pegang nuno mencengkram Erat.


Nuno yang mendengar dan paham dengan perkataan Ibu-Ibu itu, kembali berbisik pada Ami. "Jangan di pikirkan" Lalu ia tersenyum pada Ami.


"Terus, kira-kira siapa bapak si jabang bayi ya? Kalau orang sini, pasti ketahuan to..?" Gumam Ibu yang lain, ikut menimbrung. Di antara ketiganya, Ibu itu yang paling mencolok. Riasan wajahnya dan perhiasan yang ia pakai, menandakan kastanya yang lebih tinggi.


"Jeng Susi gak tau ya? Semi itu kalau sore suka ke Istana(nama gedung bioskop), nonton Film. Tapi pulangnya pasti tengah malam. Aku sering mendengar bunyi sepeda motornya kalau lewat. Jadi mungkin bikin anak di luar, jeng. Kita gak bakal tau siapa bapaknya, kalau bukan mereka sendiri yang ngaku." Jelas Ibu yang berbaju kuning, membuat kedua temanya termenung.


Bioskop Istana Tahun 1960



"Kita juga gak tau, bakal di mantu atau tidaknya kok jeng..." Sahut Ibu yang di tengah, menanggapi.


"Rujaknya sudah Bu, ini tiga bungkus pedas semua ya..." Ucap Ibu penjual rujak sambil menyodorkan tiga bungkusan pada Ibu-Ibu yang sedari tadi asik bergosip. Mereka bertiga berdiri serentak.


"Makasih, Bu. Pareng (istilah berpamitan di jawa timur)..." Pamit salahsatunya, mewakili.


Setelah ketiganya berjalan pergi, Ami baru tersadar. Ia melihat ke arah pegangan tanganya, yang tak ia sadari semakin mengencang saat mendengar cerita Ibu-Ibu tadi.


Saat ia gagal mencoba melepas tanganya dari genggaman Nuno, ia menoleh dan menatap wajah Nuno Tajam. Tapi yang ia tatap hanya memperlihatkan senyum tanpa dosa.

__ADS_1


"Kenapa? Kamu gak penasaran sama berita Semi? Gak ada yang ingin kamu tanyakan ke aku?" Tanya Nuno, sebari tersenyum penuh arti.


Ami memiliki firasat, Nuno tahu sesuatu. Tapi ia yang malas mencari tahu, dan menyerah dengan usaha melepaskan tanganya, hanya membuang muka.


"Aku gak suka gosip." Sahut Ami ketus.


Nuno tersenyum tertahan, lalu memegang dagu Ami dan memutar pelan agar Ami bisa menatapnya.


"Aku tahu bahkan jauh sebelum Semi hamil dan sudah memperkirakan akan terjadi. Aku tahu dengan siapa, kapan dan dimana ia membuatnya." Pancing Nuno, memberi umpan besar pada rasa ingin tahu Ami. Tapi Ami hanya memperlihatkan mimik wajah tak percaya, membuat Nuno kesal.


Ami sudah memperkirakan hal ini. Karena dulu saat Ami masih bersama Kamto, sering memergoki Nuno pulang hingga larut malam. Bukan tidak mungkin jika Nuno bertemu bahkan mengetahui kegiatan Semi di malam hari. Karena kota Tulungagung itu terbilang kecil dan tidak terlalu ramai. Dan hanya beberapa tempat hiburan saja yang meramaikan suasana kota di malam hari.


"Yang penting bukan sama mas No, kan..." Ucap Ami santai menanggapinya.


Nuno tersenyum gemas, lalu mengecup singkat bibir ranum Ami. "Pintar." Singkat Nuno lalu berpaling menghadap penjual rujak, berusaha menenangkan sesuatu yang bergejolak sesaat tadi.


Ami kaget, wajahnya merona menahan perasaan kesal dan malu! 'Se enak jidat, nyium-nyium di tempat umum! Dasar mesum!' Monolognya, membuang muka sambil mendengus.


🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸


Hi Readers😊 Apa kabar hari ini?😁 Semoga sehat dan sejah tera ya🙏


Mungkin ada yang pernah makan petis kangkung, ini banyak di jumpai di daerah Jawa Tengah. Bumbunya tak jauh beda dengan rujak petis, yang lebih dominan di daerah Jawa Timur. Karena Author pecinta kuliner, jadi banyak bab yang membawa makanan beserta fotonya ya😆


Author juga akan mulai berbagi sedikit, mumpung masih di Taiwan. Hari ini suasana menghangat di bulan April, melewati musim semi dan menyambut musim panas. Di bawah adalah foto pohon sakura yang ada di rumah bos yang author tempati😁. Dan bibitnya asli dari Negara Sakura looo😉


__ADS_1


Jangan lupa bahagia😘


__ADS_2