Nikmatnya Ikhlas

Nikmatnya Ikhlas
KEMAMANG


__ADS_3

"Mbak... Mas Konyil di dalam, mbak... Sini lihat..." Pekik ami tertahan dengan wajah masih menempel pada tembok bambu, sambil melambaikan tanganya ke arah Nar. Diapun mundur beberapa langkah memberikan ruangya pada kakanya.


Nar yang tidak percaya ucapan Ami, lantas melangkah dan mengintip lewat lubang dinding tadi.


"Mana..?" Tanyanya penasaran. Suasana berasap dan banyaknya orang didalam membuat susahnya pencarian.


"Lihat amben (ranjang), pinggir tembok. Dia lagi mompa... Kaya kenal, perempuanya gk jelas aku." Sahut setengah mengingat.


Amben



Nar yang kaget yang tak menyangka, lantas menangkap bayangan itu. Diatas tempat tidur berkelambu transparan, sepasang insan sedang bergulat.


Pria yang tak lain adalah pacarnya saat ini, sedang tertelungkup di atas badan seorang wanita. Raut wajahnya seakan menikmati apa yang ia kerjakan, dengan memegang erat kedua tangan kecil wanita tersebut. Badanya memompa kebawah dengan nafas memburu.


Nar berusaha memperbesar lubang, memper jelas pemidaian satu sebelah matanya. Dia tersentak, nafasnya memburu, jantungnya berpacu dan wajahnya memanas karena marah dan kecewa.


Ia menemukan bahwa wanita yang di gumuli pacarnya, tak lain adalah sahabat mereka Parti. Padahal Parti sudah memiliki kekasih, juga teman akrab Konyil. 'Apa dia di paksa' pikir Nar masih tak percaya. Ia tak dapat melihat mimik wajah sang wanita, meskipun hafal dengan postur tubuh dan rambut ikal sahabatnya itu.

__ADS_1


Adegan berjalan sangat cepat saat kaki Parti yang tadinya menekuk bergerak ter angkat dan memeluk punggang konyil erat. Dan gerakan merekapun ter henti seketika. Terdengan erangan dari keduanya di antara bisingnya suara musik, di sertai riuh ejekan dan tepuk tangan orang orang di dalam gubuk.


Nar yang tak sanggup lagi melihat adegan itu, segera pergi melupakan adiknya yang sedang menunggu. Dia setengah berlari menahan air mata, setelah tahu bahwa sahabatnya juga menikmati apa yang mereka lakukan.


Ami yang melihat kakanya pergi sontak lari mengejarnya, walau rasa penasaran masih memenuhi pikiranya. 'Siapa saja mereka? Gerwani-kah? Apa maksud mereka berkumpul? Siapa wanita di atas ranjang...?' Tapi tak mungkin tetap di sana dan mencari jawaban.


Setelah memasuki rimbun pepohonan daerah rumah mereka, Ami baru berani mendekat ke arah kakaknya. Ia tahu kakanya butuh ketenangan, tapi ia juga takut akan kegelapan.



"Mbak..." Panggil Ami ragu, sambil menarik ujung baju kakaknya. Kepalanya mendongak, matanya mengawasi dahan pepohonan.


"Gak usah tengak tengok, liat ke jalan. Sebentar lagi sampai rumah." Ucapnya menenangkan.


"Tapi aku lihat kemamang, mbak..." Suara ami sedikit bergetar mengucapkanya. Ia takut apa yang di lihatnya tadi sebelum menundukan kepalanya. Tanganya terulur di depan kakanya, menunjuk ke arah kegelapan.


Di sisi kakanya, terlihat jelas sebuah cahaya api. Entah itu terbang, atau sang penyangganya yang tak terlihat oleh mereka.


__ADS_1


Nar yang kaget dan takut, segera menarik tangan adiknya mengambil langkah seribu menuju gang ke arah rumah mereka.


🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮


Catatan:


Hi readers😊 dengan tangan sedikit beku (cuaca dingin Taiwan saat ini), author mengakhiri bab ini dengan beberapa penjelasan.



Gerwani (perubahan dari Gerwis) adalah ormas yang berhaluan sosial feminis, yang awalnya memperjuangkan hak wanita. Di antaranya adalah memberantas buta huruf juga tentang poligami . Tetapi lambat laun, banyak penyimpangan yang di lakukan anggotanya. Termasuk tindakan asusila. Bahkan di daerah lain ada yang melakukan penyimpangan sesama jenis. Maka tahun itu pula organisasi ini resmi di bubarkan.



Kemamang (pulung gantung) adalah hantu yang menyerupai bola api (ber bentuk tengkorak yang terbakar). Hantu ini terkenal usil dan membuat orang yang bertemu denganya menjadi gila. Tapi hingga saat ini, belum ada kabar dari korban hantu kemamang.


*Jadi inget Filem Ghost Rider😁


Kalau masih penasaran, coba tanya mbah goggle😊. Kalau ada waktu, author lanjut cerita. Jangan lupa bahagia😘

__ADS_1


__ADS_2