
Setelah kejadian di sanggar tari hingga mereka pulang ke rumah, Ami hanya diam. Sesekali Nuno bertanya dan bercerita untuk mengalihkan pikiran, Ami hanya menjawab dengan geraman. Sampai rumah pun Ami langsung masuk ke dalam kamar tanpa berbicara sepatah katapun pada Nuno. Dia marah.
Nuno paham, dan memberi waktu pada Ami untuk merenungkan diri. Saat di jalan tadi, ia sudah menjelaskan apa maksud dan tujuan ia memberhentikan Ami dari sanggar tari.
Selain tidak tega jika membiarkan Ami berkendara di malam hati saat ada pentas di pasar malam, Nuno juga ingin meluangkan waktu lebih banyak bersama kekasih hatinya itu.
Setelah berfikir, akhirnya Nuno pergi ke rumah Tris, kakaknya. Ia ingin membicarakan masalah lamaran untuk Ami. Juga masalah bagaimana cara menyampaikan maksudnya pada orang tua mereka.
Kebetulan sekali saat tiba di kediaman kakanya itu, nampak Tris sedang memandikan Ayam Bangkok miliknya. Nuno yang sudah biasa keluar masuk tanpa pamit, langsung duduk di sebelah kakaknya.
Ayam Bangkok
"Tumben, hari minggu kok rapi... Dari mana, mau kemana?" Tanya Tris sambil mengusapkan kain pada Ayam Jantannya.
"Habis dari sanggar, pamitan sama Pak Kabul. Trus antar Ami pulang, itu aja." Jawab Nuno sekenanya.
Tris yang merasa aneh dengan jawaban adiknya itu, memalingkan wajah dan menatap Nuno penuh selidik. Alisnya mengkerut saat tidak ada reaksi dari Nuno, yang tampak tak bersemangat.
__ADS_1
"Pamitan? Emang mau kemana? Jelakan, atau kamu pulang saja kalau cuma mau bikin orang penasaran!" Ucap Tris ketus, kembali pada kegiatanya semula.
Setelah ragu sejenak, Nuno mengambil nafas dalam dan mengembuskanya secara berat. Ia memalingkan wajah, menatap kakaknya.
"Aku kemarin lusa, meminta Ami sama Pak Soemani. Aku pikir, lebih baik Ami berhenti dari sanggar tari. Tadi aku diam-diam mengantarkan Ami, sekaligus memintakan ijin pada Pak Kabul. Sayangnya, Ami malah menangis dan marah padaku sekarang." Jelas Nuno pada Kakanya.
"Ngaco kamu! Hal sepenting itu kamu tidak membicarakanya pada Ami atau keluarganya?" Tanya Tris seraya memandang kaget adiknya.
"Aku pikir, dia sudah tak perlu lagi mencari uang dari pentas. Nanti aku akan tambah uang bulananku, selain untuk uang makan. Aku tidak mau mencemaskanya bila aku harus pulang, dan tak dapat mengantar jemput dia ke pasar malam" Jawab Nuno lirih. Ia tak mau kedatanganya di ketahui olek keponakanya, yang ia yakini sedang bermain di dapur bersama Ibunya.
"Jelas aja dia marah! Apa kamu gak tau, Ami sangat menyukai seni tari sejak kecil. Bukan masalah cari uangnya, toh dia sudah punya pendapatan dari Mbak Ratna." Jelas Tris pada adiknya.
Setelah berpikir sejenak, Nuno baru mengetahui apa kesalahanya. Ya, seharusnya ia bertanya dulu pada Ami. Penyesalan selalu datang terlambat, tapi ia masih punya sedikit rasa bahwa apa yang ia lakukan sudah benar.
"Kamu beneran serius sama Ami, No?!" Tanya Tris, sedikit kaget. Yang ia tahu, adiknya dulu sering gonta ganti pacar seperti anak kecil yang bosan pada mainan. Ia pikir, Ami adalah mainannya yang kesekian.
"Lah, kan aku sudah bilang kalau aku sudah lamar Ami ke pak Soemani. Tapi mereka maunya resmi, Bapak dan Ibu yang lamar langsung" Jelas Nuno menatap tajam wajah kaget Kakaknya. "Kenapa?" Tanyanya.
"Em... Tidak..." Sahut Tris ragu seraya membuang muka dan segera membereskan barang yang ia gunakan tadi.
__ADS_1
"Apa kamu ingat silsilah keluarga kita, No? Tidak kah kamu berfikir sebelum meminta Ami pada orang tuanya?" Tanya Tris yang belum mau menatap Adiknya, segera mencuci tangan.
"Itu yang mau aku tanyakan, Mas. Aku tahu, Ibu Bapak pasti tidak setuju. Tapi aku serius suka sama Ami, sejak dulu. Dan mas tahu itu. Ini kesempatanku saat Ami putus dengan Kamto, mas. Aku ingin menikahinya." Ucap Nuno, memelas. Megekori gerak-gerik kakaknya, hingga Tris duduk di sampingnya lagi.
Tris berpikir keras, sambil pandanganya menerawang jauh kedepan. Ini pelik, banyak hal tabu yang harus di lewati jika Nuno bersi keras. Menata apa yang akan ia sampaikan pada Adiknya.
"Dari keluarga kita jelas, kamu anak pertama Ibu. Walau bukan anak pertama dari Bapak. Dan Ami adalah anak ke tiga Bu Widji dan Pak Soemani. Sedangkan Ibu kita dan Bu Widji itu saudara turun ke-3, masih sepupu. Apa masih kurang jelas?" Tanya Tris, membuat lidah Nuno kelu seketika.
🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮
Hi Readers😊 semoga yang melaksanakan ibadah puasa tahun ini lancar ya🙏 dan bulan Ramadhan membawa berkah, amin...
Author jelaskan sedikit tentang Orang Tua Nuno. Bapaknya adalah Kiayi ternama di Kecamatan Bandung Campur kabupaten Tulungagung saat itu, Istri pertama (Ibu dari Tris) meninggal setelah melahirkan anak ke-2 perempuan. Lalu menikah lagi dengan Adik iparnya yang merupakan seorang guru, dan akhirnya di angkat sebagai kepala sekolah Sekolah Dasar di daerah tersebut. Pernikahan mereka di karuniai 2 putra dan 2 putri. Nuno adalah anak sukung mereka.
Di Jawa Timur, Selain pantangan 'Turun Telu (Tiga) atau sebuyut, juga pantangan Siji Jejer Telu (Satu dengan Tiga) yang artinya Anak pertama berpasangan dengan anak ke tiga. Jika di langgar akan mengakibatkan mala petaka.
Bonus Foto Dokumentasi, seperti biasa😅 Jangan di klik ...See more-nya ya😆
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca😘 jangan lupa bahagia😉