
Ke esokan harinya, Nuno datang untuk mengambil sarapan sekaligus makan siang di rumah Bu Widji. Terdengar debur suara air dari arah sumur, menandakan ada orang yang sedang mandi. Bu Widji sendiri terlihat lalu lalang menyiapkan tremos untuk di bawa sang suami ke tempat kerja.
"Pagi, Budhe..." Sapa Nuno, memasuki pintu pawon.
"Le, tumben pagi-pagi sekali... Untung bekalnya sudah siap. Sudah mau berangkat?" Tanya Bu Widji.
"Bangun kepagian, Budhe. Gak bisa tidur lagi. Pak Dhe belum berangkat to?" Jawab Nuno lalu kembali bertanya. Tatapanya memidai berkeliling.
Terlihat olehnya beberapa bekal sudah di siapkan Bu Widji. Nasi dengan beberapa lauk pauk di dalamnya yang di bungkus daun pisang, tertata rapi di atas meja. Tremos yang biasa di bawa Pak Soemani terlihat belum nemutup sempurna.
"Orangnya lagi di kamar, ada apa nyari Pak Dhemu pagi-pagi?" Tanya Bu Widji, tatapanya penuh selidik. Ia memasukan beberapa sendok kopi dan gula ke dalam tremos sambil mengaduknya.
"Nyari aku, le..?" Tanya suara Pak Soemani dari dalam kamar yang posisinya tak jauh dari pawon. Rumah Ami cukup sempit, maka suara kecilpun bisa terdengar oleh seisi rumah.
"Iya, Pakdhe. Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan" Ucap Nuno sambil berjalan ke arah ruang tamu, yang di susul keluarnya Pak Soemani dari dalam kamar.
"Mau sambil ngopi, le?" Tanya Bu Widji.
__ADS_1
"Boleh, Budhe. Terimakasih" Jawabnya lalu menunggu Pak Soemani duduk, sambil mengancingkan seragamnya. Iapun menyusul duduk di kursi kayu yang ada di ruang tamu kecil itu, dengan posisi berhadapan.
"Ada apa, kok sepertinya serius..." Tanya Pak Soemani, ragu.
"Begini, Pakdhe... Saya tahu Ami sudah putus sama Kamto. Saya memberanikan diri untuk meminangnya, apa Pakdhe bisa merestui kami?" Tanya Nuno, sambil mengawasi ekspresi Pak Soemani.
Terdengar denting sendok jatuh dari arah pawon dan kelambu pintu kamar di geser secara kuat. Dua kepala menyembul dari arah kamar yang berdekatan dengan ruang tamu. Sri dan Ami menatap kaget kedua orang yang mematung, menatap balik, ke arah mereka.
Selama beberapa detik, suasana hening mencekam. Di buyarkan dengan datangnya Bu Widji membawa dua cangkir kopi. Ia meletakanya dengan tenang di meja, setenang wajahnya. Tak setenang debaran jantungnya, ia duduk di samping suaminya.
"Maksudmu, kamu suka sama Ami?" Tanya Bu Widji, yang terlebih dahulu memecahkan keheningan itu.
Bu Widji dan Pak Soemani saling menatap. Mereka tahu, dalam hal ini Ibunda Ami lah yang dapat menjawab dan menjelaskan.
"Begini, No... Sebelumnya, Budhe mau tanya sama kamu. Apa kamu sudah mengatakanya sama Bapak Ibumu? Apa kamu tahu silsilah keluarga kita? Lalu, bagaimana dengan Tantri" Tanya Bu Widji, mengamati pemuda di depanya.
Nuno berfikir sejenak, ia sudah memperkirakan hal ini. Itu sebabnya ia tak berani mengatakan terusterang perihal perasaanya pada keluarganya.
__ADS_1
"Tantri sudah menyebar undangan, Budhe. Pernikaahan mereka dua minggu lagi. Dan saya nanti segera pulang kalau ada waktu, segera setelah Budhe dan Pakdhe memberi restu." Jawabnya sedikit berkilah, mengingat kejadian Pak Soemani melarang Ami berhubungan dengan Kamto.
"Kami akan merestui jika Ami juga bersedia. Tetapi, apa kamu yakin benar serius dengan perasaanmu? Bukan sebagai pelampiasan karena pacarmu akan menikah?" Selidik Pak Soemani.
"Saya suka dengan Ami, lama sebelum saya mengenal Tantri. Saya dan Tantri hanya teman, Pakdhe." Ucap Nuno, meyakinkan mereka.
Sejenak tatapan Nuno melirik ke arah dua kepala yang terlihat sedikit menyembul dari balik dinding anyaman bambu. Mereka tahu, tapi berusaha mengabaikanya.
"Kalau kamu serius, kamu bicarakan dulu pada Ibu dan Bapakmu. Kami akan merestui jika kamu bisa melamar Ami secara baik dan semestinya. Kamu tahu, artinya?" Tanya Bu Widji pada Nuno.
Nuno terlihat ragu, ia ingin menjawab tapi takut apa yang ia perkirakan salah. Melihat keraguan di mata Nuno, Bu Widji menjelaskan.
"Silsilah kita masih terhitung saudara, No. Ibu dan Ayah kamu mungkin akan keberatan dengan hubungan kalian. Aku tidak yakin apa mereka bisa memberimu restu. Dan aku hanya mau melepas Ami jika orang tua calon suaminya sendiri yang memintanya." Jelas Bu Widji lalu berdiri.
"Sudah cukup ngupingnya, gak sopan!" Sambil memegang kedua kepala putrinya, mendorong masuk dalam kamar.
🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮
Hallo readers😇 author mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa 🙏 semoga puasa kita lancar tahun ini, ya... Amiiiin
__ADS_1
Di sini Ami bercerita, memang hal yang paling susah di dapatkan dalam hubungan mereka itu restu. Pelik memang, tapi apa daya jika cinta sudah membingkai keduanya.
Pesan Ami untuk kita semua, 'sesuatu hal yang buruk pun masih bisa kita ambil hikmahnya jika hati kita ikhlas'. Dan seperti biasa, jangan lupa bahagia😉😘