Nikmatnya Ikhlas

Nikmatnya Ikhlas
DEWASAMU


__ADS_3

Ami, dengan warna kulit yang lebih cerah dari anak lain di daerah itu. Mata terang dan wajah bulatnya, membuat sebagian orang kagum dengan kecantikan alaminya. Sayang, tidak semua orang menyukai keceriaan Ami.


Ami



Ada tetangga dan saudara yang merasa risih dan tersaingi. Mereka berlomba-lomba memberi cap tidak baik pada gadis itu. Dari isu Ami 'anak pungut', hingga Ami 'bayi yang tertukar'. Dan yang paling menyakitkan, Ami anak penyakitan yang tak bisa sembuh karena kemiskinan. Memang benar, keluarga mereka miskin.


Tetapi semua itu tidak diindahkan oleh Ami. Dia tetap ceria di antara hinaan dan cemoohan tetangga. Karena di antara mereka masih banyak yang ramah, baik dan sayang pada Ami. Tak sedikit mereka yang iba, memberikan beberapa baju bekas saat Ami masih kecil.


Begitu pula orang tua Nano, yang setiap tahun berkunjung ke kota untuk menjenguk anak sulung dan besannya. Kakak Nano yang bernama Trisno tinggal di lingkungan tak jauh dari rumah Ami, bersama istrinya. Mereka selalu membawa beberapa baju tak terpakai, dari adik perempuan Nano untuk keluarga Bu Widji yang masih terpaut saudara.


Nano sendiri anak ke 3 dari 7 bersaudara pasangan kepala sekolah SD Bandung Campur, Tulungagung. Keluarga yang sangat di hormati di wilayah itu, karena mereka penduduk asli. Tidak seperti pendatang lain yang ratarata tinggal di kota. Tapi sifat darah biru itu menjadikan sikap mereka sedikit sombong. Hanya Tris dan Nano yang bisa membaur dengan orang-orang sekitar, termasuk Pak Soemani.

__ADS_1


"Ami nya kemana, Pak Dhe?" Tanya Nano malam itu. Mereka makan bersama setelah sehari bergulat dengan aktifitas masing masing.


"Sedang mandi, tadi bantu-bantu di rumah Surti sama ibunya seharian." Jawab Pak Soemani di.


"Oh, pantas ada nasi berkat. Saya lupa... Kita nanti ikut bantu apa ikut resepsi ya Pak Dhe?" Tanya Nano lagi.


Nasi Berkat



"Mas No kalau mau ikut bantu-bantu, bilang dulu. Biar pake seragam, jadi laden. Mas kan ganteng, masak mau bantu di pawon." Timpal Ami dari pintu belakang sambil mengusap-usap rambutnya yang masih basah dengan anduk.


"Nanti capek Mas Nano, kan kalau ikut resepsi bisa duduk sambil ngemil ya Mas... Sama aku aja nanti duduk di barisan paling depan, biar jelas lihat mantenya." Sahut Sri, adik Ami yang datang lalu mengambil satu bungkus berkat dan sendok lalu ia bawa pergi.

__ADS_1


"Eh, Sri... Mau di bawa kemana itu? Jangan di habiskan, aku belum makan low. Itu buat berdua." Ucap Ami mengeraskan suaranya.


"Nanti tak sisain mbak, aku mau makan di depan sambil liat yang pasang tenda" Teriak Sri.


Nano dan Pak Soemani hanya geleng kepala melihat mereka. Tapi dalam hati kecil Nano bersyukur bertemu dengan keluarga ini. Biarpun sederhana, tapi terasa hangat. Tidak seperti rumahnya di desa. Rumah tembok yang cukup besar itu, terasa dingin oleh peraturan tak tertulis dari orang tuanya.


🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮


Hi readers😊 Seperti janji author sebelumnya, lampiran visual Ami ya. Memang susah cari foto Ami masih muda, karena gk pernah foto😂 tapi mirip itulah. Jaman dulu, orang jawa rata rata berkulit sawo matang. Makanya Ami banyak yang suka, selain kulitnya termasuk putih (apalagi sejak lulus modiste, kegiatanya hanya menjahit di dalam rumah dan ikut wayang orang kalau malam hari). Sudah jarang sekali main di bawah terik sinar matahari.


Sebetulnya Bu Widji juga Pak Soemani itu masih keturunan priyayi atau darah biru, hanya nasib mereka yang memilih tinggal di kota walau dengan sangat pas-pasan. Dan kulit putih Ami berasal dari Pak Soemani.


Catatan kecil, Berkat adalah nasi campur yang selalu ada di acara adat jawa saat selamatan atau kirim do'a.

__ADS_1


Terimakasih masih mengikuti cerita Ami ya😊


Author usahakan kalau ada waktu, pasti ngetik lagi😁 jangan lupa bahagia😘


__ADS_2