
Memenuhi janji, Topo menjemput Ami saat berangkat sekolah. Pun dengan malam harinya, ia menjemput Ami ke pasar malam untuk mengikuti pertunjukan wayang orang.
"Depan, Mi. Malam hari, takut kau jatuh dan aku tak tahu." Ucap Topo setelah menyiapkan sepedanya.
"Memang aku siapamu duduk di depan, di belakang saja!" tolak Ami. Sebetulnya dia malu jika ada orang yang ia kenal.
"Kan pacarku, apa kamu lupa..?" sahut Topo, tersenyum lebar.
"Ngaku-ngaku!" Sangkal Ami sambil menahan senyum. Dia tak hayal, duduk di frame (pipa atas) sepeda. "Hati-hati, aku berat! Jangan sampai jatuh!" Katanya ketus.
"Iya, Mi... Tenang saja, aku akan hati-hati." Ucap Topo sambil menahan senyum. Ia bersiap memegang setang, seakan memeluk Ami dari belakang. Lalu ia menjejak pedal dan mulai mengayuh sepedanya.
Macam ni...😁
25 Menit bersepeda, akhirnya mereka tiba di tenda pertunjukan. Setelah memarkirkan sepeda, Topo mengajak Ami menemui gurunya. Ia mengenalkan Ami sebagai adik kelas yang pernah memenangkan juara dua lomba tari remong tingkat kabupaten.
Tentu saja hal itu di sambut baik oleh guru sekaligus ketua dari grup wayang orang tersebut. Di ikuti oleh seluruh anggota grup dengan antusias.
Tak di sangka, Nar yang sedang berdandan kaget dengan kemunculan Ami. Sama halnya dengan adiknya yang sempat terpaku beberapa saat di tempatnya.
"Ami..?" tanya Nar, kaget.
__ADS_1
"Mbak Nar...? Embak main di sini..?" Tanya Ami.
Setelah menikah setahun yang lalu, kakaknya seakan tertutup. Dia sibuk dengan sendirinya. Mereka memang masih tinggal serumah, Nar menempati kamar mendiang nenek mereka. Tapi kegiatan rumah tangga kakaknya seakan memberi jarak pada keduanya, hingga jarang sekali ada komunikasi.
"Kamu sama siapa kesini?" tanya Nar mengabaikan pertanyaan adiknya.
"Aku di ajak mas Topo, mbak." Jawab Ami sambil mencari sosok yang di bicarakan, tapi nihil.
"Oh, Topo... Dia mungkin ganti baju, pentas sudah di mulai. Aku juga harus bersiap." Kata Nar sambil berlalu pergi.
Ami yang di tinggal sendiri akhirnya memandang peralatan sekitar tenda tersebut. Ia merasa tertarik dengan benda-benda pendukung pentas. Sebuah busur panah seakan menariknya mendekat.
"Tapi saya belum pernah naik panggung, pak" Kata Ami, ragu.
"Bukankah kamu pernah mengikuti lomba? Pasti banyak juga yang menonton. Apa kamu takut waktu itu?" Tanya pak Kabul.
"Em.... Tidak. Saya hanya ingin menari dengan sempurna. Saya tidak memperhatikan orang-orang sekitar" ucap Ami, mengingat.
"Ya, betul. Seperti itulah di panggung. Kamu hanya memainkan peranmu tanpa melakukan kesalahan." Pak kabul meyakinkan. "Apa hubunganmu dengan Nar? Sepertinya kalian kenal dekat?" Tanyanya.
__ADS_1
"Dia kakak perempuan saya, pak." Jawab Ami menerawang. "Tapi saya baru tahu kakak ikut pentas." Sambungnya.
"Darah lebih kental dari air... Dia baru satu bulan bergabung dengan kami, tapi dia cukup ahli dalam peranya." Ucap pak kabul, tersenyum pada Ami. "Ayo kita ke depan, Topo sebentar lagi akan keluar. Kamu pasti tak ingin melewatkanya." Ajaknya.
Sebelum beranjak, mereka berpapasan dengan laki-laki berpawakan tinggi. Warna kulitnya lebih terang dari laki-laki lain. Ia menyapa pak kabul dengan anggukan dan senyuman, sedikit melirik Ami.
"Sudah selesai, Ji? Mau istirahat dulu apa sekalian pulang?" tanya pak Kabul.
"Sudah pak, saya mau langsung pulang. Sekalian mengantar Laras" Jawabnya sambil tersenyum pada Ami, seketika salah tingkah dibuatnya.
"Ya sudah, hati-hati di jalan. Cepat pulang, jangan kelayapan" pesan pak Kabul meneruskan langkahnya. Ami yang mengekor, sekali lagi melirik ke belakang ke arah Aji. Pemuda yang masih tersenyum mengawasi lantas melambai sambil tersenyum lebar ke arahnya, merasakan panas wajahnya menghangat.
"Hati-hati dengan Aji, wajahnya sudah banyak memakan korban patah hati". Celetuk pak Kabul melirik tingkah anak buahnya.
🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮
Hi readers😊 Semoga kalian selalu sehat ya🙏
Bab ini menceritakan awal bergabungnya Ami dengan grup wayang, sekaligus pertemuan dengan Aji yang notabenenya seorang artis. Yah... Seperti para Army mengidolakan anggota BTS, itu pula yang di rasakan Ami pada Aji. Memuja, tapi dia tetap setia selalu bersama Topo. Aji sendiri berjodoh dengan Laras, anak seorang kepala desa.
Sekian dulu kisah Ami, ada kisah menarik saat pertama pentas😁 Tunggu bab selanjutnya.
Jangan lupa bahagia😘
__ADS_1