Nikmatnya Ikhlas

Nikmatnya Ikhlas
GESTOK


__ADS_3

Ami yang baru sadar dari pingsannya, menatap bingung pada sekitar. Dengan perlahan menetralkan nafas, dia kembali mengingat kejadian di lapangan. Barulah terasa kepalanya yang sakit dan di balut perban, reflek tanganya menyentuh dahi.


"Sshhhh...." Matanya terpejam, ia berdesis menahan pening dan sedikit perih. Badanya gemetar, merasakan keringat dingin yang menempel.


"Mi..., kamu ingat saya...?" Tanya Topo, khawatir jika Ami terkena amnesia.


"Ha...?" Sahut Ami bingung, apa maksud pertanyaan itu.


Topo memandang Ami cemas, ia pun mendongak melihat gurunya dan Romo yang juga terlihat cemas. Bu Santi selaku guru pembimbing melangkah mendekati Ami dan membungkuk dan menyodorkan gelas ber isi air.


"Minum dulu. Tadi kepalamu terkena bola, dan pingsan. Apa kamu ingat? Sekarang, apa yang kamu rasakan?" Tanya bu Santi.


Ami memandang bu Santi dan menerima gelas itu. Ia minum perlahan, menahan agar tidak tersedak karena nafasnya yang belum normal. Setelah meletakan gelas yang kandas isinya di belakang bangku yang ia duduki, iapun mengingat...


"DARAH..." ucap Ami yang membuat ke-3 orang di sana memandangnya aneh dan penuh tanya. Lalu Ami memandang satu persatu, bu guru, Topo dan Romo. Matanya terkunci. Seakan memohon pengertian pada Romo.


Romo maju dan mengelus pelan kepala Ami.


"Tidak ada salahnya bercerita kepada kami. Ringankan bebanmu, jika kau bersedia" ucap Romo halus.


Bu guru yang mengerti, lalu duduk di sebrang bangku Ami. Topo mengangguk membalas tatapan ragu Ami, dan mengambil posisi duduk.

__ADS_1



Amipun mulai menceritakan mimpi yang sebetulnya adalah ingatan masa pembantaian di kota itu.


Sebetulnya, trauma Ami juga di alami oleh sebagian masyarakat yang menjadi saksi di masa itu. Nyawa manusia yang seakan tak berharga, melayang setiap harinya. Beberapa jasad manusia tanpa kepala kadang menghiasi beberapa kolong jembatan. Mereka dihanyutkan ke sungai setelah di bunuh.


Banyak saksi bisu yang hingga saat ini masih utuh di kota itu, seperti halnya beberapa jembatan area kota. Tapi hanya sedikit orang yang mengetahui sejarahnya. Kebanyakan orang yang menjadi saksi, telah menua dan lupa. Atau pergi dan tak kembali. Atau telah meninggal dunia.



Sisi gelap sebuah partai yang bertujuan awal baik, demi negara yang lebih maju. Tapi di butakan oleh dendam, menganggap saudara mereka telah di hasut oleh penjajah. Dan beruaaha memusnahkan bayanganya. Hingga akhirnya di bubarkan karena mengkhawatirkan.


"Setelah kejadian itu, ibu dan adik saya di boyong ke rumah bulik di desa. Tapi saya dan kakak tetap tinggal di rumah menjaga nenek. Bapak saya juga belum pulang hingga satu bulan kemudian. Kata bapak, dia tersesat di hutan pesisir selatan. Rombonganya berpencar karena sebagian orang tak kuat melanjutkan perjalanan. Selama itu, kami takut membuat cahaya di malam hari" Ami mengambil nafas panjang dan menunggu reaksi ke-3 orang di sampingnya.


"Jadi kamu pingsan karena melihat darah, begitu..? Bukan karena kepalamu sakit...?" Tanya Topo, berkesimpulan.


Ami merapatkan bibirnya, menahan malu. Dia menunduk dan menganggukan kepala. Desah nafas lega keluar dari bu Santi.


"Ibu waktu itu masih belum dinas di sini, jadi ibu tidak tahu peristiwa itu. Yah, ada untungnya. Tapi kamu termasuk kuat, Mi. Ibu salut. Hanya bagaimana kamu bisa mengatasi traumamu. Mungkin, hindari dulu melihat darah." Ucap bu guru.


"Saya juga tinggal di desa, tapi saya pernah dengar kejadian mengerikan itu dari saudara saya." ujar Topo.

__ADS_1


Romo yang menyimak tersenyum pada Ami.


"Apa kamu merasa lebih baik, setelah bercerita? Atau ada hal lain yang ingin kamu sampaikan?" tanya Romo.


"Tidak, Romo... Terimakasih sudah mendengarkan cerita saya. Saya tidak tahu, kapan bayangan itu hilang. Saya hanya takut mimpi itu datang lagi, Romo. Tapi terimakasih kalian mau mengerti." Ucap Ami.


"Tentu saja, kalau kamu ada masalah bisa cari ibu kapan saja. Sekarang, Topo... Kamu antar Ami pulang. Biarkan dia istirahat hari ini." pesan bu guru pada Topo, yang membantu Ami berdiri.


"Romo akan selalu mendo'akan agar kamu melupakan kejadian itu, nak. Semoga Tuhan memberkati." ucap Romo menepuk pelan kepala Ami.


Mereka berdua berpamitan dan melangkah keluar bangunan gereja. Bu Santi pun berpamitan kepada Romo, kembali ke kelas untuk mengajar. Romo yang merasa tenang karena masalah terselesaikan, duduk di bangku terdekat untuk berdo'a.



🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸


Hi readers😊 foto terakhir adalah gereja katolik Tulungagung saat ini ya😅 tak ketemu dokumen gereja waktu itu🙏


Selanjutnya tinggal cerita kisah cinta dan masih beberapa pengalaman menarik Ami😊


Semoga sehat selalu, jangan lupa bahagia😘

__ADS_1


__ADS_2