Nikmatnya Ikhlas

Nikmatnya Ikhlas
NEBENG


__ADS_3


Sore itu... Di pekarangan sebuah rumah sederhana, tersandar sepasang roda sepeda. Seorang paruh baya membawa pipa body sepeda dan meletakan di teras rumahnya.


"Buat apa itu, pak?" Tanya sang istri.


"Kalau sudah genap, aku rakitkan sepeda untyk Ami. Biar gak terus terusan jalan kaki kalau kursus." Jawab pak Soemani.


Sudah dua hari ini Ami masuk kursus Modiste di tempat Ratna Taylor & Modiste. Karena berat untuk memenuhi kebutuhan ke-4 anaknya, istri dan juga ibu mertua. Ami harus puas dengan melanjutkan kursus, sambil bekerja di tempat bu Ratna.


Jarak dari rumah ke tempat bu Ratna yang cukup jauh, membuat Ami harus mencari tumpangan dari perempatan jalan karena tk memiliki sepeda sendiri.


"Ya, lebih baik begitu. Kasihan kalau terus menerus cari tumpangan. Anak itu sudah jalan cukup jauh dari rumah ke perempatan jalan." Sahut bu Widji.


"Mau bagai mana lagi, kita tidak bisa membelikanya sepeda baru. Aku cuma bisa mencicil." Kata sang suami sambil nyengir kuda, lalu merangkul istrinya. Mereka berdua masuk kedalam rumah.


...~~~~...


Pagi hari yang cerah


Seperti dua hari kemarin, Ami berjalan kaki dari rumah menuju jalan besar untuk mencari tumpangan. Di sana sudah berdiri menunggu, Kamto dengan seragam pabriknya. Kamto sudah dua hari melihat Ami di area pabrik keramik, tempatnya bekerja. Tapi mereka belum sempat bertemu lagi setelah malam purnama itu.



"Mi..." Sapa Kamto.


"Mas, ngapain di sini?" Tanya Ami

__ADS_1


"Nunggu kamu. Kamu kursus di tempat bu Ratna? Kok gak bilang?" Sahut Kamto, terdengar nada kesal dalam suaranya.


"Baru tiga hari ini, kita kan belum ketemu mas... Bagaimana aku mau cerita..?" Protes Ami sambil menyebik.


"Kenapa nyebik, pengen di cium lagi?" Tanya Kamto, jail. Bibir Ami yang natural merah merona, selalu menarik perhatiannya.


Ami yang merasa jengah dengan gombalan Kamto, hanya memutar bolamata mengabaikannya.


Satu menit terasa keheningan mereka berdua, dalam keramaian pagi pinggir jalan prayit. Jalur utama di kota Tulungagung menuju setasiun kereta, pusat kota maupun menuju pasar. Ami lama-lama merasa risih dengan tatapan Kamto.


"Ngomong-ngomong mas sendiri kenapa gak naik motor?" Tanya Ami, mencari topik. Sebetulnya, dia sendiri tidak terlalu perduli.


"Motor kan di pakai bapak, memang biasanya bonceng nanti agak siang. Tapi aku sengaja nunggu kamu, kita berangkat bareng sambil ngobrol ya?" Ajak Kamto.


"Mas ni aneh, kalau mau ngajak bareng ya bawa sepeda. Kita sama sama gak punya sepeda gini kok mau ngajak bareng..." Ucap Ami sambil tertawa mengejek.


"Kan bareng nebeng nya... Hahahaha" Tawa kamto terdengar hingga orang sekitar menatap penasaran pada mereka.


"Tapi nanti pulang bareng ya, Mi. Aku tunggu, aku biasa ngopi di depan pabrik" Ucap Kamto cepat, sambil mengawasi beberapa pengendara sepeda yang mendekat.


"Iya nanti aku tunggu di depan toko bu Ratna saja, aku gak mau ketemu pak Jan. Mas tau sendiri kan..." Ucap Ami memperingatkan. Ia melambai pada seorang wanita yang mengendarai sepeda secara perlahan, dan berhenti tepat di depannya.


"Hai, Mi... Sudah lama nunggu?" Sapa Yahmi, teman kursus Ami.


"Pagi mbak Yah, maaf merepotkan lagi ya. Mungkin seminggu, kata bapak sepedaku masih dalam proses... Hehe" Ucap Ami, sungkan. Ami bersiap duduk di boncengan dan memegang bagian belakang saddle.


"Iya, gak papa. Mari, mas..." Pamit Yahmi pada Kamto, sebagai bentuk tatakrama. Lalu mulai melajukan sepedanya.

__ADS_1


"Mi! Jangan lupa pulang nanti ya..!" teriak Kamto saat mereka menjauh.


"IYAAA..." Teriak Ami sambil melambaikan tangan.


"Siapa Mi? Pulang kursus kalian janjian?" Tanya Yahmi, keppo.


"Dia pacarku, belum seminggu mbak. Iya, kita janjian. Aku takut sebenernya, soalnya bapaknya sama bapak ku kayak musuhan." Cerita Ami pada mbak Yah.


"Wah... Susah cari restu nantinya, Mi... La pulang nanti gimana? Bonceng lagi gak?" Tanya Yahmi.


"Gak usah mbak, kita nanti mungkin jalan kaki pulangnya. Sambil ngobrol. Sejak pacaran, kita baru ketemu sekali. Takut sama bapak." ucap Ami, sedih.


"Padahal dia kerja di kramik, kan? Sabar ya, Mi... Kalau kalian jodoh, pasti sampai di pelaminan." Ucap Yahmi, mendo'akan.


"Ah, mbak Yah ni... Kita baru pacaran kok, aku aja masih bau kencur kok ngomongin nikah. Udah ah, bikin merinding saja... Hahahaha" Tawa Ami, karena ia belum berfikir sejauh itu.


Yahmi menanggapi dengan dengusan, faham yang ia ajak bicara masih ABG. Ami belum bisa berfikir dewasa.


🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮


Hi, readers😊 Maaf lama gak UP ya🙏 karena ini akan berlanjut, agak mager ngawalinya😅


Selain, author juga lebih suka baca😋😂😂😂😂


Tapi di usahakan lanjut dulu sampai Ami dewasa kok... 😉 dan, ada sedikit...


Catatan:

__ADS_1


Keramik, adalah sebutan untuk pabrik Keramik. Karena jaman itu, hanya sedikit sekali rumah di kota itu yang menggunakan keramik. Sebagian besar hasil pabrik di kirim ke kota-kota besar seperti Surabaya, Semarang, Jakarta ataupun Bandung.


Jika ada yang mau di tanyakan, silahkan tinggalkan komentar😊 Terimakasih sudah membaca Nikmatnya Ikhlas🙏 jangan lupa bahagia😘


__ADS_2