
Sebuah motor Honda Super Cub, bertengger di samping rumah Bu Bardiyah. Ami yang melihatnya hanya mencebik sambil meneruskan jalan santai ke belakang rumahnya. Sri yang melihat kakaknya sudah pulang dari rumah Surti, berjalan menghampiri dari arah pawon.
"Sudah pulang, mbak...? Gak bawa jajan?" Tanya Sri.
"Nanti di bawa ibuk, kamu kenapa gak ikut? Kalau ikut, kamu kenyang." Ujar Ami sambil mulai mencuci pakaian yang terbengkalai seharian.
"Aku kan tadi nganter makan siang bapak, terus nemenin mbah. Mbah sakit lagi, gak bangun seharian." Lapor Sri.
Usia Mbah Jah yang memasuki 80tahun itu terlihat semakin rentan jika sakit. Dia tak mau minum jamu, apalagi obat. Hanya tidur, hingga ia rasa cukup segar baru meninggalkan kamar.
"Biarkan saja, asal kamu cek suhu badanya beberapa jam sekali. Jangan sampai kedinginan, kalau demam langsung bilang ya." Tutur Ami.
"Iya, mbak. Eh, mbak... Mas Nano sudah pulang dari siang lo. Seperti biasa, sama Mbak Tantri. Tapi sejak masuk rumah, gak kelihatan sampe sekarang. Ngapain ya mereka...? Mbak, kita intip yuk..." Ajak Sri yang penasaran.
"Hus..! Orang pacaran kok mau di intip! Daripada mikir yang aneh aneh, sana gih belajar! PR mu sudah di kerjakan semua bekum?" Tanya Ami.
"Sudah, lah! Aku bisa apa nunggu kalian pulang selain buka buku, tak tinggal main nanti Mbah kenapa-napa gimana...?" Sewot Sri.
"Bagus... Kalo gitu, sini bantu mbak bilas baju biar cepet selesai. Nanti aku ajak bikin mainan..." Ucap Ami sambil memasang senyum jahilnya.
__ADS_1
Sri menurutinya dengan wajah bertanya-tanya, memandang kakaknya. Sri tahu, senyum kakanya mengandung makna bahwa ia punya ide unik atau jahil saat ini. Tapi ia tak mau bertanya yang seperti biasanya, pasti tak mendapat jawabanya sebelum kakaknya mulai beraksi.
Setelah selesai menjemur baju, mereka pergi ke dapur mengambil minum. Hari sudah mulai gelap, Ami mulai menyalakan lampu minyak di dalam rumah. Sri masuk dan mengukur suku tubuh Mbah Jah dengan telapak tanganya.
"Tidak panas." Gumamnya lalu keluar kamar dan mendapati kakaknya membawa seutas tali dan beberapa kaleng kosong bekas cat yang di simpan sang ayah. "Itu buat apa, mbak?" Tanyanya.
"Nanti kamu tau, ikut aku. Awasi sekitar, kalau ada orang cepet kasih kode." Sahut Ami sambil berjalan keluar, menuju msepeda motor milik Tantri.
Ia lantas berjongkok di belakang motor itu, mengikatkan tali pada beberapa kaleng dan menyambungkan ke bagian plat nomor. Setelah mgencangkan ikatanya, perlahan ia meletakan kaleng-kaleng itu di atas tanah.
Sri yang tahu maksud kakaknya, menahan tawa sambil memasang telinga dan matanya. Melihat kiri kanan, waspada dengan keadaan sekitar.
Setelah selesai, Ami menatap Sri di atasnya sambil tersenyum. Tatapan mereka bertemu lalu mengangguk. Ami berdiri, dan dengan mengendap-endap mereka berjalan masuk ke pawon. Dengan cekikikan tertahan, mereka duduk di dalam sambil menunggu.
Sepeda Motor Zundapp milik Nano, duduk manis di teras depan rumah. Hanya jika tidak bersama Tantri atau akan mengunjungi orang tuanya di desa, sepeda motor itu mengeluarkan suaranya.
Selang beberapa waktu, terdengar gumam orang berbicara. "...jangan melawan apapun sama bapakmu. Ingat, masih ada aku jika benar-benar tidak kuat lagi." Suara bariton Nano terdengar tenang.
"Iya, makasih No. Kamu juga jaga diri. Aku pulang dulu." Suara Tantri menanggapi.
__ADS_1
Lalu terdengar suara standar motor di turunkan dan kunci helem terdengar samar.
"Aku pergi." Suara sendu Tantri terdengar lagi di susul suara kunci motor dan beberapa kali stater.
'Untung talinya panjang' Pikir Ami yang harap-harap cemas jika aksinya terpergok sebelum waktunya. Ia dan Sri saling berpandangan dan mengulum senyum. Sama sama membekap mulut menahan tawa.
Gas motor terdengar merdu, di susul kelontang kaleng yang memekakan telinga. Segera keduanya berlari ke pintu pawon dan mengintip keluar. Mereka tertawa tertahan sambil ber tos dengan telapak tangan.
"AAAMIIII!" Teriak Nano sambil berlari ke arah motor Tantri. Tantri yang kaget menoleh kebelakang. Wajahnya merah menahan malu. Pasalnya, di pekarangan sebelah banyak orang yang sedang mempersiapkan acara hajatan.
🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸
Hallo readers😊😊😊
Kalian semua pasti bertanya-tanya, 'benarkah kisah Ami ini nyata? Atau karangan author saja yang seperti nyata?' dan jawabnya, nyata dari keterangan beberapa teman, saudara, tetangga Ami juga Pak Soemani selama beliau masih hidup. Karena saya kenal dekat dengan mereka. Yah, masih saudara tepatnya.
Jadi yang penasaran tentang semua kisah Ami di sini, benar adanya. Mungkin hanya interaksi dengan Topo dan Kamto yang saya tidak tahu pasti. Karena hanya mendengar dari cerita Ami.
Tentang foto Ami, author pernah melihat fotonya yang di ambil tahun ´80an. Ami bilang, itu foto saat ia berusia 28 dan sudah memiliki 1 putra. Emang kaya orang Chinese😆 wajah bulat, tapi rambutnya di keriting menurut trend jaman itu😁. Kalau otor pulkam, aku tengok dan kasih fotonya ke kalian ya... Pantengin aja terus kisah Ami.
__ADS_1
Pesan Ami, 'jangan mencubit, kalau di cubit terasa sakit'. Dan jangan lupa bahagia😘