Nikmatnya Ikhlas

Nikmatnya Ikhlas
PDKT


__ADS_3


Derak suara sepeda menyertai keheningan dua sejoli yang sedang berboncengan. Beberapa menit setelah meninggalkan area sekolah, mereka bergelut dengan perasaan masing-masing. Hanya suara aktifitas jalan raya yang mengiringi perjalanan itu. Hingga suara Topo memecah lamunan Ami.


"Benar kamu gak merasa sakit lagi, Mi?"


Ami yang kaget, sedikit mengeratkan peganganya pada baju Topo. Desiran hangat menyenyentuh jiwa pemuda itu.


"Aku tidak apa-apa. Cuma sedikit pusing" Sahut Ami pelan, tapi masih terdengar olehnya. "Terimakasih ya, em... Mas..." Sambung Ami. Ia memang lupa akan tata krama setiap bertemu dengan Topo. Rasa kesal selalu melingkupi jika ia bertemu pemuda sombong itu.


Kali ini berbeda... Pengalaman pertama di tolong oleh pemuda itu membuat batu pada hati Ami, retak. Gadis yang keras serta mandiri itu sekarang terlihat lemah di hadapan Topo. Ia harus menghormatinya, walau hanya sekedar panggilan.


Topo yang mengerti perasaan Amipun tersenyum geli.


"Kenapa...? Berubah pikiran...? Apa setatusku sekarang naik, di matamu...? Sekalian aja kita pacaran, nanti kenalkan aku pada ibumu" Sahut topo memancing emosi Ami.


Dan umpanpun di makan.


"HA...? Jadi pacarmu...?! Bisa habis aku di musuhi penggemarmu... Jangan suka mengambil kesempatan dalam kesempitan!" sahut Ami ketus.


"Penggemar? Mana ada? Siapa, kok aku gk ngerasa...? Kesempatan harus di ambil sebelum hilang, hehe..." balas Topo. "Pegang yang erat, ada angsa di depan. Kalo tidak cepat, kaki kita nanti bertato di cium mereka". ucapnya sambil mulai mempercepat kayuhan pada sepeda. Tanpa ingin mendengar jawaban dari Ami, ia mengambil kesempatan ini untuk mendapatkan pelukan dari gadis itu.

__ADS_1



Tak jauh dari situ, Ami melihat bayangan ibunya yang sedang berbelok ke dalam pekarangan rumah.


"Pelan, mas... Rumahku di depan itu, pohon mangga sebelah kiri. Barusan ibuku yang masuk, aku turun di depan saja." Kata Ami khawatir dengan tanggapan ibunya nanti.


"Jangan, nanti aku ikut masuk sebentar. Bukankah bu guru sudah berpesan?" Sahut topo sambil memperlambat laju sepedanya. "O iya, Mi... Aku mau ngajak kamu ke pentasku di pasar malam. Kamu mau ikut? Bukankah kamu suka tari?" Tanya Topo saat mengingat informasi yang ia baca dari data Ami di masa orientasi.


"Pasar malam? Malam minggu? Wayang orang kalau tidak salah... Tapi aku malam minggu ada persiapan misa, tugas dari Romo." Kata Ami sambil turun dari sepeda.


Topo memandang sekitar pekarangan rumah Ami sambil memasang standard sepeda. "Aku tahu, aku bisa menjemputmu setelah tugasmu selesai." ujar Topo lalu kembali menatap Ami.


"Kalau kamu mau ikut, nanti sekalian aku minta ijin sama ibumu." Ucap topo sambil tersenyum.


Tampak bu Widji keluar dari dalam rumah sambil menatap cemas pada Ami.


"Mi, kenapa dahimu? Bukanya masih jam sekolah? Kamu siapa...?" Cerca ibunya sambil menatap Ami dan Topo bergantian, tanpa memberikan kesempatan Ami untuk menjawab.


"Saya Topo bu, saya kakak kelas Ami. Dahi Ami luka terkena bola. Kebetulan tadi kelas kami sedang melakukan latihan. Dan saya di tugaskan untuk mengantar Ami pulang" Jawab Topo tenang.


"Tapi cuma lecet saja to?" tanya bu Widji yang selesai memeriksa anaknya, lantas menatap topo hangat. "Terimakasih mau mengantar Ami, nak. Mari masuk, ibu bikinkan minum." Ajak bu Widji.

__ADS_1


"Terimakasih bu, tapi saya harus kembali ke sekolah. Sekalian mau menanyakan, kalau boleh malam minggu ini saya ajak Ami ke pasar malam. Saya mau mengenalkan Ami pada guru tari saya, kebetulan saya pentas di sana." Ucap Topo memberanikan diri.


"O... Kamu muridnya pak Kabul? Iya, boleh... Tapi pulangnya jangan terlalu malam. Kamu mau antar jemput dia? Kami tidak punya sepeda untuk Ami, biasanya di bonceng kakaknya." Sahut bu Widji ragu.


"Oh, tidak apa bu. Besok pagi saya mampir lagi saja, kebetulan rumah saya satu arah dari stasiun kereta ke arah sekolahan. Em... Kalau begitu saya permisi, maaf tidak bisa lama." Ucap topo sesopan mungkin.


"O, iya nak Topo... Terimakasih ya." sahut bu Widji menatap topo yang membuka standard sepedanya.


"Iya, bu... Istirahat ya, Mi... jangan buat main. Mari, bu..." Pamit topo sambil menaiki sepeda dan mulai mengayuh, menjauhi area rumah Ami.


"Main, main... emang anak kecil, main!" cibir Ami di bawah tatapan ibunya.


"Kalo sadar, cepat sana tidur! Masakan ibu mungkin sudah matang saat kamu bangun. Lain kali kalau ada bola, di tendang! Jangan di sundul!" Sahut bu Widji gemas, sambil berlalu...


Ami yang mendengarnya tertawa masam, faham sifat ibunya. Ibu yang gampang marah, tapi sayang kepada keluarga. Ia tahu, ibunya hanya bercanda.


🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮


Hi readers😊 Makasih lo... yang mau membaca cerita Ami😁 Ada salam dari beliau😉😘


Untuk catatan, pak Kabul itu pemilik sanggar tari sekaligus wayang orang. Topo, Ami dan kakak Ami (Nar) adalah murid dari sanggar tersebut.

__ADS_1


Mulai dari sini Topo dan Ami mulai dekat ya... Tapi mereka tidak pacaran😆 karena Ami mengidolakan orang lain waktu masuk sanggar 😅, walau tetap bersahabat dengan Topo.


Ingat minum air putihbyang banyak dan jangan lupa bahagia😘


__ADS_2