
Dua minggu berlalu, setelah kejadian di sanggar tari. Kini Ami telah menerima, jika memang harus begitu. Walau terkadang ada rasa rindu, saat mengingat gerakan halus yang ia hafal. Diam-diam ia memperagakanya sesekali di dalam kamar.
Ia ingat akan janji Nuno pada ayahnya, tentang perihal lamaran yang akan melibatkan orang tua kedua belah pihak. Dan ia bertanya-tanya, apa itu mungkin? Mengingat nama besar keluarga Sudarno, Ami merasa sanksi.
Entahlah, 'serahkan pada yang di atas' pesan Mbah Jah. Itu yang ia ingat saat merasa berat akan suatu masalah. Setelah membuang nafas berat, Ami keluar dari kamar.
"Pas! Kamu di rumah, Mi... Belikan bapak Rujak Petis, ya" Titah Pak Soemani pada anaknya.
Rujak Petis
"Sekarang, Pak?" Tanya Ami, mengamati Ayahnya yang sedang memperbaiki sepeda Ami.
"Tahun depan!" Jawabnya.
Ami menghela nafas, "Naik sepeda siapa?" tanyanya lagi.
"Sepeda Pak Bani (rumahnya di desa tetangga)"
Sahut Pak Soemani tanpa menoleh.
Ami mulai jengah, "Pedes gak? Cabe berapa?" Lagi, Ami bertanya sambil masuk kamar untuk mengambil uang.
"Boleh kalo sekilo..." Jawab Pak Soemani, santai.
Merasa kesal, Ami berdiri mematung di samping Ayahnya. Berkacak pinggang, menumpukan berat badannya pada satu kaki. Matanya menyipit, bibirnya mengatup geram.
Pak Soemani yang merasakan hawa dingin di tengkuknya, mendongakan kepala dan menyengir menunjukan barisan gigi putihnya yang masih utuh.
"Kamu kan pintar, kok masih nanya." Ujar pak Soemani.
__ADS_1
"Paling tidak, Bapak kasih jawaban yang masuk akal" Dalih Ami, menghentakan kaki lalu berjalan pergi.
"Lah, kamu gak naik sepeda Bapak?" Tanya Ayahnya.
"Bapak kan tau, aku gak bisa naik kuda (Turangga). Aku bisanya naik Jengki." Jawabnya sambil lalu, yang mendapatkan gelengan kepala sebagai tanggapan.
Ami akhirnya mencoba mencari Nuno. Ia tahu, Nuno sudah pulang sejak beberapa waktu lalu. Ritualnya saat pulang adalah mandi dan mencuci baju, itu yang Ami tahu.
Dengan dua ketukan, Ami membuka pintu samping rumah Bu Tumiyem secara perlahan. "Mas No..?" Panggilnya ragu. Ujung matanya sempat melihat motor yang di parkir di teras rumah.
"Aku di belakang Mi..." Terdengar teriakan dari arah kamar mandi. "Sebentar, aku pakai baju dulu" Sambungnya.
Wajah Ami bersemu merah, membayangkan Nuno bertelanjang dada. Ia pernah melihatnya, walaupun jarang sekali. Nuno lebih sering memakai kaos saat di rumah, dan rangkap kemeja saat keluar rumah.
Tak lama, pintu kamar mandi terbuka. Nuno keluar dengan berkalung handuk kecil dengan rambut masih tampak basah. Ia membawa ember seng berisi baju yang sudah di cuci.
Ember Seng
"Mas ada waktu..?" Tanya Ami.
Nuno yang heran, menatap Ami sesaat. "Ada perlu...? Ngomong aja, jangan ragu." Ujar Nuno, mengembalikan seng ember ke dalam kamar mandi. Ia menggosok rambutnya dengan handuk, sambil berjalan ke arah kamar dengan mata terpaku pada Ami.
"Bapak nyuruh aku beli rujak petis, tapi sepedaku sedang di perbaiki..." Ucap Ami ragu, suaranya kian mengecil.
Nuno yang paham, langsung mengambil kunci motor. "Tunggu sebentar." Ucapnya, menghilang di telan pintu kamar.
Tak berapa lama, Nuno telah mengganti sendal jepitnya dengan sepatu kanvas. Kemeja lengan panjang menutupi kaos tipis yang ia kenakan, tanpa terkancing.
Ami yang kagum dengan penampilan Nuno, terpaku sejenak. Matanya melebar, tak berkedip. Lidahnya kelu, tak mampu berkata.
__ADS_1
Nuno menatap Ami heran, sebelum menyadari ada apa dengan gadis itu. Setelah mengerti, sudut bibir Nuno terangkat. Dengan tatapan jail, Nuno menarik tangan Ami mendekat.
Ami terkesiap dan mencoba menjaga jarak. Ia apun menahan nafas, mendorong dada Nuno dengan telapak tangannya. Namun salah, karena ia langsung merasakan dada bidang pemuda itu yang sedikit keras. Membuat jantung Ami berdetak semakin kencang dan kuat.
"Kenapa? Kagum? Grogi? Gemeteran, lihat orang ganteng?" Tanya Nuno, pempertahankan pergelangan tangan Ami yang menyentuh dadanya.
Seketika Ami tersadar dan terdiam, kakinya lantas mengijak kuat kaki Nuno. Sepontan pegangan tangan Nuno terlepas.
"Au au... sssshhhh..., Sakit lo dek!" Desis Nuno, sengaja mencari perhatian Ami. Tidak sakit, memang. Tapi ini kesempatan untuk mencari perhatian lebih dari Ami.
"Gak usah cari kesempatan, Mas! Niat nganter, cepetan... Kalo gak, aku jalan kaki saja!" Acuh Ami sambil keluar dari rumah Bu
Nuno mengekor sambil berjalan pincang, sedikit menyeret satu kakinya. Ami berbalik, memasang wajah jengkel sambil menggeram. Iapun memasang senyum lebar menggelengkan kepala sambil berjalan biasa, mendahului Ami.
"Inget ya, Mi... Gak ada yang geratis. Pulang nanti aku minta upah!" Ucapnya.
🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮
Hi readers😊 apa kabar? Author ingin mengingatkan dulu, banyak minum air putih hangat ya😉 Untuk melancarkan peredaran darah😊.
Masih ingatkah sepeda Turangga di bab sebelumnya? Turangga dalam bahasa jawa, artinya kuda. Tahukah perbedaan dengan sepeda jengki? Ini fotonya.
Sepeda Turangga
Sepeda Jengki
Ya, bagian pipa. Dan Ami pernah mengalami kecelakaan menaiki sepeda turangga, hingga saat ini Ia tak berani menaikinya lagi😁.
__ADS_1
Sampai sini Ami mengingatkan kita, agar ikhlas akan segala perbuatan. Maka hidup akan lebih indah😇 Jangan lupa bahagia😉😘