
1972
Ujian kelas 3 SMP Katolik telah berjalan seminggu yang lalu. Ini waktunya anak-anak angkatan itu untuk menenangkan diri. Kebanyakan dari mereka akan mencari sekolah lanjutan. Tapi tidak sedikit yang pasrah karena tak punya biaya untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Sama halnya dengan Ami....
Petang itu Ami dan teman-teman bermainnya sedang menonton lomba voli antar desa. Seperti biasa, dimana 3 remaja ini berada maka di aitu pasti ada kehebohan. Ya, Ami, Surti dan Asih adalah remaja yang paling heboh menyemangati orang orang yang mereka kenal. Walau hasilnya belum tentu menang.
Salah satu pria yang bermain di situ bernama Kamto, yang terus di suarakan oleh mereka. Rumah kamto berada tepat di belakang rumah Surti. Dia salah satu pria populer di daerah tersebut. Usianya 21 Tahun, 4 Tahun lebih tua dari Ami.
Biasanya Kamto tidak mengindahkan suara berisik para supporter. Tapi entah kenapa hari itu ia tertarik dengan Ami yang terlihat tumbuh lebih tinggi, lebih dewasa. Dengan isengnya dia mengedipkan sebelah mata pada Ami, sambil tersenyum menggoda.
Ami yang kebetulan melihat tingkah Kamto, kaget dan berkedip duakali. Asih dan Surti heboh sambil menarik kedua lengan Ami.
"Lihat Mi, mas Kamto ngasih kode tu sama kita" Jerit tertahan Asih di antara riuhnya orang sekitar. "Kamu liat gak Ti?" Tanyanya.
"Iya... Kayaknya, dia suka sama kamu Mi" Timpal Surti.
__ADS_1
"Masa sih?" Sahut Ami, ragu. Mereka memang lama kenal Kamto, karena jarak rumah mereka yang berdekatan. Tapi tak sedikitpun terbesit pikiran akan perasaan suka, sebelumnya. Karena orang-orang pun tahu, pak Soemani dan pak Jan adalah musuh sejak peristiwa gestok. Pak Jan adalah bapak dari Kamto, yang berprofesi sebagai mandor di pabrik keramik.
"Gak mungkin" Sambung Ami lagi. "Kita lama kenal kok, masak dia suka ma aku... Kalau benar, bisa runyam urusanya sama bapak ku" ucap Ami pelan.
"Urusan apa sama bapakmu? Yang musuhan biar para bapak, anak lain cerita" kata Surti, menggebu. Dia bersemangat memikirkan salah satu dari mereka bisa berpacaran dengan idola kampung ini.
"Iya, Mi... Kalau memang mas Kamto suka, jalani dulu saja. Eh, kamu juga suka sama dia kan? Siapa yang gak suka sama orang ganteng kaya mas Kamto? Harus di kasih kacamata kuda!" Kata Asih.
Dan peluit tanda berakhirnya pertandinganpun berbunyi. Sebagian penonton membubarkan diri setelah mengetahui hasilnya. Ami, Asih dan Surti pergi membeli rujak buah. Tak terlalu banyak antrian, hingga giliran mereka bertiga.
"Empat, bu. Semua berapa, saya bayar dulu" Tanya Kamto kepada ibu penjual rujak.
"Semua empat Rupiah, den..." Jawab ibu itu.
__ADS_1
"Ini lima rupiah, kembalianya tambah satu bungkus lagi saja." Ucap Kamto kepada ibu yang sedang meracik rujak, sambil meletakan uang 5 Rupiah di atas tumpukan plastik. "Kalian tunggu disini, kita pulang sama sama." Sambung Kamto pada tiga gadis di depanya.
Ami yang mematung sejak tadi langsung berjongkok lemas, saking tegangnya. Tak ada yang menyangka, Kamto si pria idaman menyapa bahkan mentraktir mereka.
Asih dan Sirti yang sejak tadi menahan, terpekik kecil sambil menggoyang-goyangkan badan Ami yang masih lemas.
"Kyaaaa! Ngimpi apa aku semalam, Miiiii!" Jerit tertahan Surti, mengikuti Ami berjongkok.
"Cubit aku, cubit aku... Aku gak ngayal to? Ini beneran, kita di traktir mas Kamto?" Tanya Asih, heboh. "Wah, kita harus cerita ke orang orang" Sambungnya.
"Ya, kalian saja. Aku gak bisa ikut cerita, apalagi ke bapak ku... Bisa di jantur, jadi jambu mente nanti" Ucap Ami sambil kembali berdiri.
🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮
Hallo readers😊 apa kabar? Semoga sehat, ya... Dan yang sakit, semoga lekas sembuh🙏
Maaf yang masih nunggu mas Topo, mungkin kesananya akan kecewa😅...
__ADS_1
Mungkin ada yang bertanya, kenapa Romeo Juliet judul bab ini? Ya, bapak dari Ami dan Kamto adalah musuh bebuyutan. Sebetulnya dari sebelum kejadian gestok, mereka sudah tidak bertegur sapa karena berbeda kubu. Dan saat gestok sebetulnya pak Jan lah yang membocorkan posisi orang-orang dari kubu pak Soemani. Kan, mirip Romeo dan Juliet aja gitu😅.
Sekian dulu ya, jangan lupa bahagia😘