
Galau...
Itu yang Ami rasakan pada malam hari ini. Karena lelah menangis, ia tidur siang hingga sore hari. Biasanya minggu malam, ia pentas di pasar sore. Tapi tidak lagi setelah kejadian pagi tadi.
Ia berjalan ke arah gang belakang. Di sanalah rumah sahabatnya berada. Jalan yang lengang dan penerangan yang minim, sedikit mencekam. Abaikan rasa merinding, karena hawa dingin walau tak ber angin.
Ragu, Ami menuju rumah Surti. Belum sampai mengetuk, pintu terbuka mengagetkannya. Seorang pemuda bersarung dan memakai peci, berdiri menatap Ami. Anang, tetangga, teman, sekaligus suami Surti akhirnya tersenyum pada Ami setelah sadar dari rasa terkejutnya.
"Mau cari Surti, ya Mi? Ada tu, lagi di belakang sama Asih." Sedikit memiringkan kepala, Anang berteriak "Tiiii! Ada Ami cari kamu!"
"Ya!?" Sahut suara dari belakang rumah. Suara gaduh teklek (bangkiak) Surti terdengar semakin jelas, Amipun segera berjalan ke arah samping rumah. "AMI!" Teriaknya.
Teklek/Bangkiyak
Surti segera memeluk Ami senang, sambil melompat-lompat kecil. Seperti teman lama yang bertahun-tahun tak berjumpa. Hingga Ami sempoyongan menahan tubuh Surti yang tidak langsing.
"Sudah, sudah... Kaya yang gak ketemu lama, baru minggu kemarin seharian nunggu acara kita, Ti... Ya sudah, aku berangkat ke masjid dulu." Pamit Anang, lalu melangkah pergi setelah menutup kembali pintu rumah.
"Tumben di rumah, Mi? Gak pentas...? apa kamu sakit?" Cerca sahabatnya itu sambil meraba dahi Ami, mengkerutkan kening. "Gak panas..." Gumamnya.
"Tiii!, ajak Ami kesini..! Masak aku di tinggal sendiri...!" Protes suara Asih dari belakang rumah.
"Yuk mi, kita lagi bikin klepon. Kebetulan ada kelapa parut dari Bu Bardiyah, di kasih ke ibuku." Oceh Surti sambil menyeret lengan sahabatnya, ke belakang rumah.
__ADS_1
Klepon
Rumah keluarga Surti memang bersebelahan dan ada yang saling membelakangi. Belakang rumah mereka, cukup luas. Disana terdapat sumur timba dan bangunan kecil, semacam dapur umum. Di dalamnya sudah ada lampu temaram sebagai penerangan.
"Sini Mi, ada cenil yang sudah matang. Tinggal di kasih kelapa parut itu, gula aren masih di panci." Ucap Asih sambil sibuk meraup klepon dari air mendidih, dan setengah di lempar ke tampah (nyiru) yang berisi parutan kelapa di meja sampingnya.
"Wah, gak salah aku kesini... Hehe..." Ucap Ami sambil mulai melumuri cenil dengan kelapa parut.
"Tapi kamu belum jawab aku, Mi. Kamu gak pentas? Apa pak kabul libur hari ini?" Tuntut Surti sambil mengambil sendok dan panci berisi gula aren cair.
Hening sejenak. Ami berfikir, sambil mengambil satu cenil yang sudah di beri gula aren oleh Surti. menatapnya beberapa detik, lalu mencicipinya di bawah tatapan kedua temanya.
Cenil
Tak terasa, sambil cerita, sedikit berdebat, sampai habis cenil yang tak seberapa banyak oleh mereka bertiga. Mereka sependapat, Nuno egois.
Setelah matang semua kelepon, Surti membawa sepiring kecil klepon untuk Anang yang baru pulang dari masjid. Ami dan Asih masih asik dengan obrolan mereka.
"Tau gak, Mi... Kabarnya, Semi sedang hamil." Bisik Asih tertahan, sambil melirik ke arah pintu. Ami yang mendengarnya kaget mendengarnya, seakan tak percaya.
"Ibuku yang bilang, Semi kalau pagi muntah-muntah. Tiga hari ini pakai daster, kamu tahu sendiri kalau dia selalu jaga penampilan" Bisik Asih, agak keras karena emosi.
__ADS_1
"Hamil sama siapa?" Tanya Ami, sepontan.
"Gak ada yang tahu, dia gak mau ngaku. Bu Satirah sampai gak berani keluar, takut di tanya sama kita-kita. Hahaha..." Tawa Asih menggema di ruangan itu.
"Hus! Jangan gitu, sih... Kasian keluarga bereka, kalau itu memang benar. Kira-kira, mas Kamto tahu gak ya..." Lirih Ami dengan sendu.
"Kamu masih suka sama Kamto, Mi? Aku dengar ibunya nyinyir di pernikahanku. Kalau aku tahu, langsung tak tendang." Sahut Surti dari arah pintu, sarat emosi.
"Iya, Mi. Kena karma, dia itu. Dengernya, mau jodohin Semi sama mas Nuno. Mereka kan gak akrab, ya Mi..?" Tanya Asih sambil mengambil sebiji klepon, lalu memakanya.
"Mas Nuno sudah ngelamar aku kok" Jawab Ami, malu-malu. Sontak mengagetkan ke dua sahabatnya.
"APA?!" ucap mereka berdua, serempak.
"Yang bener? Kapan? Gimana ceritanya?" Cerca Asih, melupakan kelepon yang sudah ia ambil dan meletakanya sembarangan.
Amipun bercerita tentang pagi dimana Nuno meminta restu kepada Pak Soemani. Mereka ber tiga memang selalu ramai jika sudah bertemu. Cerita demi cerita menghiasi malam itu. Malam di mana Ami harus melupakan kegemaranya pada seni tari. Ia bersyukur masih memiliki sahabat yang mampu menopang semangatnya.
🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸
Hi Readers😊 mataku tetasa seperti teh hijau yang baru di seduh😆 Author luangkan waktu malam hari, percobaan. Ternyata malah lebih lambat karena menahan kantuk😅.
Bab ini cobaan untuk yang menunaikan ibadah puasa😅 Author do'akan, semoga ibadah puasanya lancar yaaaa😁
Cerita tentang hamilnya Semi memang bikin heboh waktu itu. Ami bilang, Semi memang suka main dalam arti pergi-pergi. Entah jalan ataupun belanja. Dan selalu pulang pergi sendiri. Teman Semi tidak ada yang tahu siapa teman laki-laki, atau bahkan kenalannya sekalipun.
__ADS_1
Teklek atau bangkiyak adalah sandal kayu yang sering di pakai oleh orang jaman dulu. Bahkan sekarang pun masih ada beberapa yang pakai teklek. Sandal ini, katanya... Lebih aman untuk di pakai di daerah basah atau licin, seperti dapur dan kamar mandi.
Pesan Ami, tetap jaga kesehatan. Banyak minum air putih, makan sayur dan buah. Selalu memakai masker jika bepergian. Daaaan, jangan lupa bahagia😉😘