Nikmatnya Ikhlas

Nikmatnya Ikhlas
SINAR REMBULAN


__ADS_3

Kamto, pemuda ber usia 21 tahun dengan bentuk badan proposional. Kulit berwarna senada dengan iris mata, coklat cerah. Hidung mancung, bibir tipis yang seksi menguatkan daya tarik pemuda itu. Dewasa, adalah kata pertama yang ada di benak orang orang saat pertama kali bertemu denganya.


Ami, hanya remaja tanggung. Dia baru saja menyelesaikan ujian Sekolah Menengah Pertamanya minggu kemarin. Tak terlintas di benaknya bahwa laki laki yang menjadi primadona desanya berusaha mendekatinya. Tapi ia tak tahu bahwa pertumbuhan fisiknya mampu membuat para bujang di wilayah itu selalu meliriknya.


Ami tumbuh dengan cepat, memiliki fisik yang cukup bagi gadis seusianya. Tidak gemuk, juga tidak kurus. Walau jauh dari kata anggun, gadis itu memiliki paras yang cantik. Kulit yang jauh lebih cerah dari teman-teman sebayanya, karena kuatnya gen dari keluarga bapak Soemani. Kekuranganya hanya satu, hidung yang tidak terlalu mancung. Dulu, ada yang bilang, hidungnya mungil semungil fisiknya. Rambut hitam panjang dan bergelombang menjadi nilai tambahan, dia selalu mengikatnya dengan kain atau sapu tangan.


Malam yang hangat, tak dapat menghangatkan tangan Ami yang dingin. Rasa grogi menguat, saat menatap kepergian kedua temanya malam itu. Disampingnya berdiri menjulang, mas Kamto yang selalu jadi idola. Hanya saja, saat ini berbeda. Sang idola berusaha mendekatinya.


"Mi..." Panggil Kamto ragu, dia mengulurkan tangan ingin menyentuh tangan kecil Ami. Gagal. Ami tersentak dan menjaga jarak dengan Kamto, satu meter lebih. Dan telapak tanganya menggenggam di balik punggung bawahnya.


"Eh, mas... Aku harus pulang, tidak di antar juga tak apa. Aku biasa sendiri kok, makasih rujaknya ya. Daaah..." Kata Ami cepat lalu berbalik dan melangkah, tapi urung karena merasakan pergelangan tangan kananya di genggam seseorang.



"Jangan pergi dulu, aku mau ngomong sama kamu" Kata Kamto.


Ami yang merasa serba salah hanya terdiam. Ingin rasanya menghindar, tapi hati kecilnya berteriak senang. Termasuk beruntung bersentuhan dengan sang idola, apalagi di genggam tanganya. 'Wah, yang beruntung bukan hanya Asih, aku juga ternyata... Aduh, kok degdegan gini gimana...' monolog Ami dalam hati.

__ADS_1


"ya...?" Sahut Ami, tenggorokanya tercekat membuat suaranya terasa aneh.


"Bisa ngadep sini?" Tanya Kamto, tersenyum miring. Ia geli merasakan tingkah Ami yang sedikit aneh, tangan kecil yang ia genggam terasa dingin dan berkeringat.


Perlahan, Ami membalikan badanya. Tapi wajahnya menunduk seakan enggan menatap lawan bicara. Kamto melepaskan genggamanya, detik itu juga rasa kecewa menerpa Ami. 'Hanya sebentar ternyata' ucapnya dalam hati.


Kamto sedikit mencondongkan tubuh ke arah Ami, karena ia lebih tinggi. Jemari Kamto berpindah ke dagu Ami dan mengankatnya hingga ia dapat menatap sepasang mata bulat gadis itu.


Mata Ami melebar karena kaget, dan jantungnya berdegup kencang. Ia tak berani bernafas. Kejadianya sangat cepat.



cup...



Satu ciuman mendarat di bibir Ami. Dengan mata sama-sama terbuka lebar, mereka terkesima dengan sentuhan lembut dan ekspresi kaget wajah masing-masing.

__ADS_1


"Mulai sekarang, kita pacaran. Kamu mau, kan?" Ucap Kamto.


Itu bukan ajakan, bukan pula tawaran. Ami hanya pasrah dan sedikit mengangguk, karena dagunya masih di pegang Kamto. Seketika itu pula senyum lebar menghiasi wajah pemuda itu, melepaskan dagu sang gadis dan kembali menegakkan punggung.


"Bagus, sekarang aku antar kamu sampe gang belakang" Ucap Kamto, antusias. Ia tak menyembunyikan nada senang dalam suaranya. Tanganya meraih telapak tangan Ami yang wajahnya kembali menunduk karena malu. Merekapun mulai berjalan bergandengan.


'Aku di cium..! AKU DI CIUM!' Teriak Ami dalam hati.


🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮


Hi readers 😊


Hari ini author sengaja meluangkan sedikit waktu yang terbatas😆 untuk memenuhi janji😁 terimakasih yang sudah setia membaca cerita Ami, dan salam peluk hangat darinya😉


Semoga kita di beri sehat selalu, amin....


Jangan lupa bahagia😘

__ADS_1


__ADS_2