
Dalam angan semua pedagang, pasti menginginkan laba pada daganganya. Tetapi tidak dengan pak penjual pisang ini. Dia tidak mau memanfaatkan kesempatan dengan merugikan orang lain, tak terkecuali pada bu Widji.
"Itu saja cukup, bu. Mungkin juga saya tidak berkeliling lagi karena sudah dapat beras dari ibu. Namanya kita kena musibah, maka rugi juga di tanggung bersama" Ujar pak pedagang pisang.
Bu Widji yang tersentuh dengan ucapan bapak itupun lantas mengambil uang dan sekantung beras dalam Tenggok. Dengan segera memberikan kepada pak pedagang pisang dan berkata "Adanya cuma ini pak, untuk mengganti pisang yang terbuang dan rusak karena ulah anak saya. Bapak bisa meletakan sisa pisang rusak ke dalam tenggok."
Tenggok
"Baik bu, terimakasih" ucap pak pedagang pisang sambil menerima pemberian bu Widji. Setelah meletakan semua pisang sedikit kusam dalam Tenggok, bapak itupun berpamitan. "Mari bu, saya pulang dulu." lantas menoleh ke arah Ami yang sedari tadi menundukan kepala "lain kali naik sepeda hati hati, nduk..." dan pedagang pisang itupun memikul daganganya dan melangkah pergi.
Ami yang sedari tadi melamun, kaget dan menatap sedih kepergian pak pedagang pisang. Memang, penyesalan selalu berada di belakang (kalo di depan namanya DP😁). lantas Ami perlahan menoleh ke arah ibunya yang sedari tadi menatapnya tajam. 'Ah, seandainya tatapan bisa membunuh maka aku sudah mati' ucap Ami dalam hati.
"Lihat apa?! Cepat cuci siwurnya dan bantu ibu masak!" Bentak bu Widji, sambil membopong tenggok dan bersiap masuk rumah. "Iya..., kamu apa sudah minta maaf juga sama mbak Anti? Sudah kamu periksa sepedanya, apa ada yang rusak?" tanya bu Widji baru teringat ketidak beradaan keponakanya Anti, yang kemungkinan langsung masuk rumahnya setelah meletakan sepeda.
__ADS_1
Ami terdiam dan berfikir sejenak, "Belum bu, Ami masih takut mbak Anti marah. Tapi kalau spedanya sudah ku periksa tadi gak ada yang lecet, cuma kotor kena debu dan pasir" sahut Ami lemah.
"Ya kalo kotor, nanti kamu lap sampe bersih!" ucap ibu Widji geram, sambil berlalu.
Setelah mencuci siwur dan ngembalikanya ke atas gentong, Ami lantas mengelap bersih sepeda mbak Anti. Dia yang mengingat pesan ibunya, segera berlari ke arah pawon (dapur jaman dulu yang menggunakan media kayu sebagai bahan bakar) setelah selesai mencuci tangaan.
Pawon
Amben
"Masih berani tanya?! Ya buat lauk! Tapi cuma kamu yang makan lauk pisang nanti, sampai pisang-pisang itu habis!" Ketus bu Widji yang sontak membuat mata Ami membulat kaget.
__ADS_1
"Lah, kok gitu? Apa enak pisang kok buat lauk? mending makan nasi aja, pisangnya buat cuci mulut". Sahut Ami.
"Lah, kok pake nabrak pisang? Apa gk nabrak ayam tetangga aja?" Ucap bu Widji menirukan gaya bicara anaknya. "Biar kamu makan pake lauk ayam kan? Lagian, cuci mulut kok pake pisang... Air sama sabun kan lebih bersih" Sahut sang ibu.
Ami mendengus kesal, mengerti jika ibunya tak bisa di bantah. Itu konsekwensi dari menabrak pedagang pisang tadi. Sempat terlintas ide jahil di benaknya membayangkan ayam tetangga yang sering buang kotoran di teras rumahnya. Terkikik geli dengan pikiranya, dia segera membantu ibunya meniup api dengan songsong (benda yang terbuat dari bambu dengan lubang di tengahnya yang berfungsi untuk meniup).
🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮
Hi riders, Taiwan dingin saat ini😁 semoga kita di beri kesehatan selalu, amin...🙏
Terimakasih untuk saran dan kritikan, sangat berguna untuk saya yang banyak lupa tentang pelajaran Bahasa Indonesia😂 yang telah saya tinggalkan 18 tahun yang lalu... Juga maaf kalau ada typo☺, bisa di komen kalau tidak keberatan😅🙏. Tapi selalu saya berusaha yang terbaik, semampu saya😊.
Untuk bab selanjutnya, ada unsur dewasa. Maaf, hanya sedikit... Tapi terlalu lucu untuk di lewatkan😂 jadi sebelumnya saya mohon maaf jika agak kurang sopan😁. Terimakasih😘
__ADS_1