Nikmatnya Ikhlas

Nikmatnya Ikhlas
DALAM SATU PENERANGAN


__ADS_3

1975


Usia Ami genap 20 Tahun. Tidak ada perayaan, bahkan tidak sedikitpun merasa bahagia. Dilema yang ia rasakan, menggerogoti perasaanya. Ia merasa, nafsu makanya bertambah!


'Kalau begini terus, kapan aku nikah... Ada juga badanku tambah megar!' Pikirnya, sambil menggeser letak kain yang akan ia Jahit. Ia sedang berhayal, bukan Surti yang duduk di pelaminan seminggu lagi. Tapi ia dan Kamto.



Di tengah-tengah kegiatan menjahit, terkadang angannya melayang entah kemana. Tak jarang ia memikirkan Kamto, kadang bertanya tanya kabar Topo. Tapi yang paling penting, ia mulai jenuh dengan aktifitasnya menjahit.


Dengan bantuan Mbak Ratna, ia akhirnya lulus ujian Modiste. Ia melanjutkan bekerja di toko baju gurunya itu yang membuka sebuah butik. Mbak Ratna memberinya tugas membuat baju terusan wanita, yang akan di pajang di butiknya yang kian hari semakin ramai pengunjung.


"Jangan ngelamun, nanti jarimu yang ke jahit" Sebuah suara bariton, memecah lamunanya.


Nuno Sudarno, Pemuda yang bekerja di dinas perkebunan kota tetangga. Ia adalah seorang anak dari kepala sekolah SD sebuah kecamatan di Tulungagung. Dia kost di rumah Bu Tumiyem dan meminta Bu Widji untuk menyediakan makanan setiap harinya. Dia akan menyediakan beras untuk semua anggota keluarga Ami sebagai imbalanya.


"Eh, Mas No... Mau ngerjain tugas lagi? Mas Nuno sudah makan?" Tanya Ami, sambil menjejakan kembali kakinya untuk melajukan mesin jahit.

__ADS_1


"Sudah tadi, makan bareng ibumu. Aku lihat kamu menjahit, ada pesanan? Hari ini gak di apelin Kamto apa?" Tanya Nuno penasaran.


Hampir satu tahun nuno berbaur dengan keluarga Ami yang notabenenya masih kerabat jauh Bu Widji. Dan kebiasaanya setiap sore setelah makan, ia akan mengerjakan tugas kantornya dengan membawa sebundel kertas. Ia akan menemani Ami jika bekerja hingga larut malam, karena lebih irit menggunakan penerangan.


"Kita putus, Mas. Orang tua gak ada yang kasih restu ke kita." Ucapnya sendu, menahan berat di dada yang beberapa hari ini selalu datang.


Nuno yang sedang menata kertas di atas meja, seketika terdiam dan mendongak menatap Ami. Ada perasaan kasihan dan lega datang bersamaan, mendengar berita itu. Sedikit banyak, ia juga tertarik dengan gadis yang sedang bekutat dengan mesin jahit di depanya.


"Sabar, mungkin bukan jodohmu" Ucapnya lembut sambil neneruskan kegiatanya.


"Basi." Sahut Ami ketus. Dan seperti biasa, mereka sibuk dengan kegiatan masing masing di bawah satu lampu minyak di ruang tamu.



Lain Ami, lain Tantri. Kekasihnya selama dua tahun ini. Hanya saja, tantri sudah di jodohkan oleh orang tuanya sejak beberapa bulan yang lalu. Seorang pengusaha dari kota Jakarta, beruntungnya dia. Walau begitu, mereka masih sering berdua. Sama-sama menikmati hubungan yang sudah cukup lama. Tantri dewasa, dan tidak suka banyak bicara. Sedangkan Ami...


Si empunya nama melemparkan segumpal benang kusut ke atas kertas nuno, sukses membuatnya kaget dan menatap tajam Ami.

__ADS_1


"Hahaha, satu sama. Emang enak kan, ngelamun... Tapi kerjaan kita gak bakal selesai." Celetuk Ami sambil meneruskan kembali menjahitnya.


Nuno hanya tersenyum masam, menanggapinya. Bisa-bisanya anak itu bikin guyonan, yang ia tahu bahwa perasaan gadis itu benar benar galau.


'Sudah lah... Benar kalau tidak di kerjakan, kapan selesainya...' Gumam Nano sambil mulai mencatat.


🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮


Hi readers😊 Maaf molor lagi cerita Ami😅🙏 Sengaja ngulur waktu, cari Visual yang cocok. Karena Ami sudah beranjak dewasa, ya. Dan bertemu dengan lelaki ke 3 ni😆


Katanya, jangan banyak banyak nyeritain tentang Kamto. Nanti pada baper, susah move on lagi😅


O'iya, di sini author kasih catatan sedikit. Jaman itu memang sudah ada listrik, tapi hanya beberapa rumah mewah. Dan anak kost jaman dulu kan suka ngirit😆, gak mau bayar tambahan untuk listrik.


Jaman dulu juga belum ada komputer, apalagi laptop😆. Pendataan kantor masih manual tulis, atau ketik dengan mesin tik. Tau kan, gedenya mesin tik kaya gimana😅 gk bakal di babawa juga😆.


Lanjut nanti kalo ada waktu lagi, aku kasih visualnya Ami 'kirakira' kaya gimana sampe para lelaki tertarik macam magnet😆.

__ADS_1


Terimakasih dan jangan lupa bahagia🙏😘


__ADS_2