Nikmatnya Ikhlas

Nikmatnya Ikhlas
TANTANGAN


__ADS_3

Esok adalah hari pernikahan Surti. Dan malam ini, hampir sebagian besar tetangga dan saudara berkumpul di rumah Surti untuk membatu acara Kenduri atau Kenduren. Para lelaki berkumpul di dalam rumah untuk acara Do'a, dan perempuan membantu menyiapkan hidangannya.



Sama dengan keluarga Bu Widji dan ke 3 putrinya, ikut berbaur bersama mereka. Karena sang tuan rumah sudah menyewa tukang masak, maka mereka yang datang hanya perlu membantu menyiapkan hal kecil lainya.


Dan seperti biasa ibu-ibu jika sudah berkumpul, tak luput dari gibahnya. Mereka saling bertukar cerita dari hal sekecil semut gula, hingga sebesar rumah Pak Bupati pun mereka bicarakan.


"Iya, jeng... Saya lihat sendiri waktu mau ngurus surat di Catatan Sipil. Sebelah utara akan di jadikan kebun binatang kecil, sepertinya. Sudah di bangun kandang besar, bisa di lihat dari luar pagar. Mungkin karena sebentar lagi Pak Soenardi mantu putri ragilnya." Ceriata Bu Satirah, Ibunda Kamto dengan antusias.


"O, iya... Dapat calon besan dari Surabaya, to? Ya nggak kaget, mereka ketemu kuliah sampai lulus sarjana. Tresno jalaran soko kulino (Cinta timbul karena terbiasa)". Sahut Bu Sulami, yang masih kerabat jauh Bu Widji.


"Iya, Jeng Sul... Mangkanya, Kamto saya suruh antar jemput Semi sekolah. Biar dia dekat dengan teman-teman adiknya. Mematahkan isu, kalau anak saya pacaran sama anak sini yang gak tahu asal usulnya" Ucap Bu Satirah tanpa mengalihkan pandanganya dari bawang yang ia kupas.


"Hus! Hati-hati kalau bicara, Bu Rah. Kita semua tahu, siapa yang Ibu maksud! Jangan suka menjelekan anak orang lain, njenengan sendiri punya anak gadis yang perlu di jaga." Cerca Anti yang risih dengan ucapan Bu Satirah.

__ADS_1


"Loh, saya bicara fakta yang terlihat. Keluarga kalian tidak punya riwayat keturunan Cina, kenapa dia sendiri yang kaya orang cina! Makanya, saya dulu sudah bilang... Jangan melahirkan di Rumah Sakit, mentang-mentang geratis. Kalau ketukar..." Bu Satirah belum sempat meneruskan ceritanya, terdengar suara keras dari dalam rumah...


"Ibu-Ibu, apa nasi berkat nya sudah siap? Bisa minta tolong sebagian di bawa masuk? Bapak-Bapak sudah hampir selesai acaranya." Ucap Widi, kakak perempuan Surti. Dia mendengar ucapan Bu Satirah yang terkenal biang gosipnya itu, tapi ini sudah terlalu.


"Sudah. Ayo cah, pelan-pelan di bawa ke dalam." Dengan suara tercekat menahan emosi, Bu Widji berujar pada ketiga putrinya.


Semua mata tertuju pada beberapa orang di semping mereka, tempat menata hidangan. Di sana terlihat Bu Widji semakin menundukan kepala, sambil meneruskan menutup semua berkat dengan daun pisang.



"Nah, nanti giliran siapa lagi yang jadi ratu semalam... Hampir semua gadis di daerah kita sudah berumah tangga sepertinya." Ujar Bu Sulami berusaha mencairkan suasana.


"Saya sering lihat, Dik Nano boncengan sama perempuan ya Mbak Menik. Apa adik iparmu itu sudah tunangan?" Lagi-lagi, Bu Satirah yang antusias dengan gosip.


Menik yang dari tadi hanya diam mengiris wortel, menoleh pada Bu Satirah dan tersenyum pasrah. Ini yang ia takutkan, tersangkut dengan obrolan tak bermanfaat.

__ADS_1


"Tidak, Buk Rah. Kata Mas Tris, Nano kemarin baru putus dengan pacarnya. Tantri sudah di pinang terlebih dahulu oleh orang Jakarta." Jawab Menik, lalu melanjutkan mengiris wortel dengan hati-hati. Berusaha terlihat sibuk.


"Loh... Ternyata kepala sekolah Bandung kalah cepat sama orang Jakarta ya. Nah, kira-kira siapa calon selanjutnya ya. Gadis di wilayah kita kan gak kalah cantik. Asal... Mas Nano gak salah pilih kasta saja ya. Gak mungkin dia mau pacaran sama anak orang miskin, kan..." Ucap Bu Satirah sambil melirik Bu Widji yang terus menunduk dan akhirnya pergi karena tugasnya telah selesai. Lagi, kata-kata itu terlontar bagai sembilu ke arah Bu Widji.


Semua saudara dan tetangga tahu perihal putusnya hubungan Ami dengan Kamto, yang berimbas kepada perilaku Ami yang semakin jarang keluar rumah.


Sedangkan sang gadis sedang membantu memberikan berkat yang di bawa kakaknya, kepada bapak bapak di dalam. Walaupun samar, suara Bu Satirah masih terdengar jelas olehnya. Sambil menahan sesak dadanya, membayangkan sang ibu yang menangis diam-diam di belakang. Di bawah tatapan saudaranya, Ami menanam benih dendam.


🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸


Hi readers😊 di sini Ami cerita, momen itu gak pernah beliau lupakan sampai sekarang. Memang setelah itu, ibunda dari Ami pamit pulang dan beralasan tidak enak badan untuk tidak kembali untuk membantu. Hanya suami dan putra putrinya yang mewakilkan. Ke 3 bersaudara tahu bahwa ibu mereka terluka hatinya, tapi apa daya jika semua ucapan itu benar? Mereka hanya orang miskin saat itu.


Tapi Ami berusaha merubah nasib dari sini. Penasaran kah? Ikuti terus, biarpun kadang author bolos ya😆


Terimakasih, dan jangan lupa bahagia😘

__ADS_1


__ADS_2