
Tak terasa Ami sudah 3bulan ini bergabung dengan grup wayang orang pak Kabul. Dia selalu rajin mengikuti latihan yang di adakan satu minggu 3X, di lingkungan gedung kesenian Aroem Daloe.
Hubungan Topo dengan Ami pun semakin dekat, tidak seperti awal mereka bertemu. Topo selalu menjemput dan mengantar Ami kemanapun dan kapanpun ia pergi. Tak terkecuali pada malam hari.
Topo juga yang mendukung dan mendorong semangat Ami untuk pentas. Ia tahu, Ami punya bakat di sini. Selain itu, Ami juda mendapat dukungan dari kakaknya Nar dan sang guru pak Akabul. Hingga kemampuannya meningkat pesat.
Dan malam ini adalah malam dimana Ami di beri peran penting yaitu sebagai Abimanyu. Sebelumnya peran Ami hanya sebatas peran pendamping (tari cakil), karena harus mempelajari tarian dan dialog peran masing masing pemain.
Abimanyu (wanita)
Topo yang berperan menjadi batara kresna, ikut merias dan membenahi kostum yang di pakai Ami. Ah, pasangan ini seperti sudah lama menjadi sejoli... Sangat serasi.
"Ingat, Mi... Jangan lupa dialog. Nanti aku bantu dari balik layar. Konsentrasi saja sebagai Abimanyu." Pesan topo pada Ami saat membantu memasangkan keris.
"Iya, aku ingat. Cerewetmu kaya ibuku saja..." Cibir Ami sambil mencebik, kesal.
"Aku cuma mengingatkan, kalau dulu kamu jadi cakil kan tidak banyak dialog." Sahut Topo, halus.
Tari Cakil
__ADS_1
"Iya, mas Po... sendiko dawuh (saya laksanakan)" ucap ami sambil memperagakan adegan hormat (membungkuk) seorang abdi dalam wayang orang.
Po, atau 'apa' adalah panggilan khas Ami kepada Topo. Masih tersisa rasa jengkel Ami dengan sifat arogan Topo, pada siapa saja. Lahir dengan sendok perak, Topo tak bisa mengubah sikapnya yang suka mengatur. Tapi semua itu tertutup oleh sikap dan rasa sayang topo pada Ami.
Tapi malam itu, tak ada satupun yang menyadari bahwa salah satu keris telah tertukar. Keris yang Topo pakaikan kepada Ami adalah pusaka pak Kabul yang di siapkan untuk di mandikan. Cerobohnya si empu yang lupa telah meletakan sebarangan, di atas meja. Dan pak Kabul saat itu sedang pergi memenuhi panggilan alam.
Saat pentas berlangsung, terjadi geger setelah Ami berhasil mencabut keris dari sarungnya. Angin tibatiba bertiup kencang, terdengar bunyi sambaran petir tanpa terlihat adanya mendung.
Semua orang yang hadir, kaget! Suasana yang tadinya hangat menjadi tegang dan penonton ikut kebingungan. Tak terkecuali para anggota grup wayang orang di balik layar.
Kejadian itu terjadi sangat cepat... Ami yang mematung dengan posisi mengangacungkan keris ke atas, mencoba untuk bergerak walaupun tak berhasil. Pak Kabul datang setelah Topo gagal menurunkan tangan Ami.
Dengan membaca mantra (entah apa), pak Kabul meraup wajah Ami serta merebut paksa si keris lantas memasukan kembali ke sarungnya. Seketika itu Ami jatuh tak bertenaga. Topo yang siap di belakang Ami, menopang dan memapah Ami menuju tirai panggung yang di sambut teman-teman mereka.
"Mohon maaf pengunjung sekalian, ada sedikit kesalahan teknis. Untuk menutup acara, kami tampilkan tari remong dari anggota tercantik kita. Pentas minggu depan akan kami adakan dengan tema yang sama, Widoretno Larung. Terimakasih." Ucap pak Kabul, lantas membungkuk hormat.
Tari Remong
__ADS_1
Hiruk pikuk dalam tenda, sedikit berkurang dengan keluarnya penari remong ke atas panggung. Pak Kabul masuk sambil membawa keris, mencari sosok Ami yang ternyata sesang di kerumuni muridnya yang lain.
"Bubar semua, hari ini sampai di sini. Langsung pulang ke rumah, dan pertemuan selanjutnya seperti biasa di Aroem Daloe." Ucap pak Kabul sebari berjalan menghampiri Ami dan Topo.
Ami terlihat sedikit pucat, tapi bisa menguasai diri. Sedangkan Topo tetlihat cemas memaksa Ami terus minum air yang ia bawa.
"Bisa kembung Ami nanti, kalau kau terus menyuruhnya minum." Celetuk pak Kabul. "Bagaimana perasaanmu, Mi? Sebelum cuci muka dan pulang, saya harus pastikan kamu tidak terluka." Ucap pak kabul pada Ami.
"Sudah baikan, pak. Saya tidak terluka. Cuma sedikit lemas. Boleh saya langsung pulang saja? Nanti saya cuci muka di rumah saja." Ucap Ami memelas.
"Biar saya antar ya, pak!" Serobot Topo.
"Halah, kamu... Cari kesempatan!" kata pak Kabul pada Topo. "Iya, kamu langsung istirahat setelahnya. Kalau ada apa, cepat cari saya." pesan pak Kabul pada Ami yang di jawab dengan Anggukan.
🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮
Hallo readers😊 Terimakasih sudah membaca Nikmatnya Ikhlas😁
Sedikit catatan bab ini, foto yang saya ambil adalah foto masa sekarang ya... macam ni
Bukan dokumentasi lawas seperti foto di bab sebelumnya😁.
__ADS_1
Sekian dulu karena dingin jari saya😆 semoga sehat semua ya🙏 amin...