
Di sebuah rumah ber dinding anyaman bambu, berdiri wanita paruh baya yang sedang minum dari gentong di teras rumahnya. Ibu Widji yang haus setelah pulang dari mencari kayu bakar untuk makan keluarganya, terdiri dari suami 5 anaknya dan ibunya. Hari ini dia beruntung mendapatkan beberapa ikan kecil yang di jual murah oleh pedagang keliling dan bisa untuk menemani nasi yang akan ia masak.
Gentong Air depan rumah
Saat akan memasuki rumah, bu Widji di kagetkan dengan panggilan dari keponakanya Anti dengan suara kerasnya.
"Lek Dji, Lek Dji...!!! (Lek bisa di artikan Bulek berarti tante atau Paklik berarti om" Panggil mbak Anti.
"Apa Ti, teriak teriak kaya ada maling saja...!" sahut bu Widji sambil menoleh sumber suara. Alisnya menyatu, bertanya tanya ada apa mereka datang bersama seorang pedagang pisang yang kotor di sana sini beserta daganganya yang diletakan sembarangan.
"Nggak ada maling, tapi ini anakmu... Ayo Mi, cepat kasih tau ibumu apa yang terjadi" ucap mbak Anti sambil mendorong pelan punggung Ami.
Setelah mereka bertiga tiba di teras rumah, Ami segera mengambil siwur (gayung yang terbuat dari cangkang kelapa) setelah di gunakan ibunya.
__ADS_1
Siwur
Dia tidak berani bersuara, lidahnya kelu membayangkan reaksi ibunya. Dengan menunduk dia mengambilkan air untuk pak pedagang pisang itu yang terlihat duduk di bebatuan depan rumahnya sambil mengibas ngibaskan capilnya (capil adalah topi yang terbuat dari anyaman bambu).
Capil atau Caping
Semua mata tertuju pada Ami, menunggu penjelasan. Taksabar dengan keheningan, mbak Anti pun berkata dengan sedikit kesal...
Memang karena tanah yang mereka tinggali adalah peninggalan nenek moyang, rumah ami dan mbak Anti bersebelahan. Hanya di pisahkan oleh j@mb@n (toilet jaman dulu)
Kamar Madi dan J@mb@n
__ADS_1
"Aaapa?! Benar itu Mi? Jadi sekarang ibu harus ganti, begitu?!" Kata ibu Widji dengan suara agak keras, dia melotot ke arah Ami membuat Ami yang sedang meletakan siwur seketika kaget tak sengaja menjatuhkan siwurnya.
Dengan tangan gemetar, segera mengambil siwur itu dan berbalik ke arah ibunya sambil menyengir kuda ke arah ibunya seperti ciri khasnya saat terpergok berbuat kesalahan.
"Buk, tak bersihin siwur dulu ya. Kotor, gak bisa di pakek" sahut Ami berkilah, berusaha mengalihkan perhatian.
Dengan gemas bu Widji menghampiri Ami dengan cepat, tanganya langsung menjewer telinga Ami setengah menarik ke arah bapak pedagang pisang sambil berucap "Enak aja, siwur buat alesan!!! Nanti batok kepalamu yang ganti tak jadikan siwur habis ini. Sekarang minta maaf yang benar sama bapak ini!!!" dengan setengah berteriak, ibu Widji lantas memaksa menekuk lutut Ami di depan Pak pedagang pisang. Membuat orang yang mendengar perkataan bu Widji bergidik ngeri membayangkanya.
"Aaduuh duh duh duh duh, sssshhhh.... saaakit, buuuuk!" Teriak Ami sambil meringis kesakitan pasrah membiarkan lututnya sedikit tergores kerikil lantas duduk bersimpuh. "Saya tadi juga sudah minta maaf sama bapak ini, saya bener gak sengaja" protes Ami ke ibunya sambil cemberut menundukan kepala.
"Benar itu pak?" tanya ibu Widji ke bapak itu.
Dengan sedikit geli, bapak pedagang pisang itu mengangguk membenarkan. "Betul bu, kelihatanya juga nduk ini sudah menyesal. Asal jangan di ulangi ya, nduk... Itu bahaya. Sekarang saya cuma minta ganti rugi untuk pisang dagangan saya yang rusak, se adanya saja bu..." ucap bapak itu tegas.
Dengan perasaan lega, ibu Widji menghela nafas sambil berkata "Maaf ya pak, kalau ada saya akan beli semua dagangan bapak. Berhubung uang kita cuma cukup buat makan, saya bayar yang rusak dan sisa yang ada di pikulan nanti saya ganti beras ya pak..." dengan was was, ibu Widji bertanya.
๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ธ
__ADS_1
Hi Riders, di sini Author mengingatkan kalian untuk selalu jaga kesehatan ya. Biar sibuk, Author menyempatkan menyelesaikan bab ini.
Semoga terhibur๐๐๐