
Seperti hari hari biasanya, ini waktunya Ami untuk pergi ke sanggar tari, berlatih wayang orang. Dan Ami sudah siap pergi dengan penampilan cantik dan sederhananya.
Saat keluar rumah sambil menuntun sepedanya, Ami di hadang Nuno. Nuno menaiki motornya menutupi jalan Ami yang akan keluar rumah. Ami sudah menduga karena sejak dari dalam, ami sudah mendengar bisingnya suara motor nuno.
"Mau ke sanggar?" Tanya Nuno tanpa basa basi.
"Iya, mas." Jawab Ami.
"Kembalikan sepedamu, aku antar sekalian ada perlu sama Pak Kabul" Ucap Nuno pada Ami yang di jawab anggukan oleh gadis itu.
...~~...
Riuhnya suasana sanggar tari, tidak dapat menghangatkan aura di sebuah ruangan tepat di belakangnya. Ruangan ber ukuran 3 X 5 m2 itu hening mencekam setelah Nuno menyampaikan maksud kedatanganya.
"Jadi kamu tidak akan menari lagi, begitu Mi?" Tanya Pak Kabul, menatap Ami tajam.
Ami yang sedari tadi hanya diam, tersentak kaget dengan pertanyaan guru pembimbing sekaligus pemilik sanggar tari dan wayang orang di tempat ia bekerja. Ami berusaha bangun dari keterkejutanya.
"I-iya pak, mas Nuno sudah melamar saya. Saya harus patuh apa kata mas Nuno..." Jawab Ami, sedikit ragu.
Nuno yang duduk di sebelah Ami, meremas pelan tangan yang ada di genggamanya. Keringat dingin terasa dalam genggamanya.Ia tahu, Ami kaget dan gugup dengan apa yang ia katakan pada gurunya itu.
__ADS_1
Nuno sengaja tidak memberitahu Ami jika ia memberhentikan Ami dalam pentas. Jika di beritahu, jelas Ami akan menolak. Dan ia tak ingin ada penolakan.
"Saya akan mulai bertanggung jawab penuh pada Ami mulai sekarang, pak. Mohon restu dan dukunganya saja." Ucap Nuno sambil mengulas senyum.
Pak Kabul menatap intens kedua insan di depanya, menelisik wajah Ami yang hanya tertunduk sambil menggigiti bibirnya. Menatap Nuno, bergantian. Lalu menghembuskan nafas berat, seraya berdiri di ikuti Nuno dan Ami.
"Baiklah, jika ini kemauan kalian. Aku tak bisa menahan, walau sangat di sayangkan. Gajimu bulan ini, nanti akan ku titipkan pada kakakmu. Jika kamu ingin kembali, pintu selalu terbuka. Aku hanya bisa mendo'akan semoga lancar, dan jangan lupa undangan pernikahan kalian." Ucap Pak kabul sambil tersenyum.
"Terimakasih, Pak." sahut Nuno sambil mengulurkan telapak telapak tangan yang di jabat oleh Pak Kabul. Lalu menghadap Ami.
"Kamu bicara dulu dengan Pak Guru, aku tunggu di depan" Ucap Nuno pada Ami yang di beri anggukan tanda setuju. Dengan mengangguk sekilas pada Pak Kabul, Nuno pun berjalan keluar dari kantor.
Hening seaat setelah sepeninggalan Nuno, Ami hanya menunduk dan tak tahu harus berkata apa. Sakit sekali hatinya saat mendengar Nuno meminta ijin pengunduran diri Ami, tanpa adanya musyawarah. Air mata yang sejak tadi di tahan, akhirnya jatuh tak terbendung.
Ami hanya menahan tangis sampai sesenggukan, air mata tak hentinya mengalir jatuh. Kemeja lusuh Pak Kabul hingga basah di bagian dada yang tertempel pada wajah Ami.
"Sudah, jangan nangis lagi. Bapak tahu kamu berat melepaskanya, tapi jodohmu lebih penting sekarang. Ikuti apa katanya, bagaimanapun dia calon kepala keluarga. Kalau kamu kangen, Bapak masih di sini siap menyambutmu. Semoga kalian bahagia, ya"
Tutur Pak Kabul pada Ami sambil menepuk-nepuk pelan punggung Ami yang masih bergetar. Seakan ada batu yang menggenjal di dadanya, tapi ia tahan. Tak ingin melihat muridnya yang akan pergi itu bertambah sedih.
Setelah dapat mengendalikan diri, Ami melangkah mundur perlahan menarik diri sambil menghapus air matanya. Setelah mengurai pelukanya, Pak Kabul menatap Ami dan menarik kedua sudut bibirnya.
__ADS_1
Keduanya saling menatap sambil tersenyum. Lalu ami mengulurkan tangan kanan, mengambil telapak tangan Pak Kabul yang sepontan terulur pada Ami. Ami menempelkan punggung tangan Pak kabul pada dahinya.
"Ami pamit, Pak. Semoga bapak selalu sehat dan di beri panjang umur." Pamit Ami dengan suara sedikit parau.
"Iya, nduk. Jaga diri baik-baik." Pesan Pak Kabul pada Ami sambil menepuk nepuk pelan bahu Ami. Lalu dengan berat, Amipun melangkah pergi.
Dengan mata memerah, lelaki paruh baya itu menatap kepergian murid terbaiknya. Banyak kenangan yang telah ter ukir dalam ingatan, membu dadanya bertambah sesak. Tak terasa, bulir air mata jatuh dari pelupuk matanya yg terpejam.
🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸
Hi readers😊 jumpa lagi (akhirnya, kata yang menanti😅) dan terimakasih untuk semua yang telah mengikuti kisah Ami, ya😘
Rada nyesek dan dilema saat mengawali konflik, di antara kesibukan author😅. Tapi berkat dukungan kalian, author satu ni berusaha cari waktu (sambil nyempil di belakang😆) nyempatin ngetik. Tapi karena tidak ada topik yang membutuhkan sisipan foto, ini ada beberapa foto Tulungagung tempo doeloe yang ada di berkas author😊
Jangan di klik kata '...se more...' nya😆 itu sengaja di potong sama author karena kata-katanya sedikit tidak baik🤔.
__ADS_1
🙄 Yah, kira-kira begitulah 😁 Jika ada yang di tanyakan, silahkan ketik di kolom komen🙏 Terimakasih dan jangan lupa bahagia😉