Nikmatnya Ikhlas

Nikmatnya Ikhlas
TURANGGA


__ADS_3

Tulungagung 1965


"MIIINGGGIIIIIIIIIIIIIIR..........!"


Dengan sepeda Turangga yang melaju kencang, anak perempuan berusia 10 tahun berteriak keras sambil menyeimbangkan stang. Kaki kiri nya di pangku di frame sepeda dan menggantung di sisi kanan, sedangkan kaki kananya menapak di pedal. Karena tidak cukup tinggi untuk duduk di sadel, maka posisi duduknya menyamping seperti wanita bangsawan yang mengendarai kuda jika menggunakan gaun. Yah..., akan terlihat feminin jika tidak mengingat laju sepedanya yang begitu kencang.


Sepeda Turangga



Dengan suara yang berisik, membuat beberapa orang di sekitar tempat itu memperhatikan sambil menggeleng kepala setengah tak percaya.


"AWAS PAAAK, AWAAS... MINGGIIIIR!"


Teriak anak itu dengan perasaan bertambah panik. Dia melihat seorang pedagang dengan membawa pikulan dari kejauhan.


Gambaran para pedagang jaman dulu.


__ADS_1


Dengan sekejap, jaraknyapun semakin dekat. Karena sepeda turangga tidak memiliki rem tangan, anak itupun kalut dan pasrah saat sepedanya hampir menabrak pedagang itu.


Suara teriakan orang sekitar pun bersautan..


"AWAS PAAAAK!", "PAK MINGGIR!", "PAK ADA SEPEDAAA...!"


Tapi sayang, si pedagang pisang itu terlambat mendongakan kepalanya. Matanya membulat, mulutnya menganga kaget. Sambil komat kamit memanjatkan doa, pedagang itu bergeser menyeimbangkan pikulanya. Dia berhasil menepi, tapi tidak dengan daganganya yang hapir memenuhi ruas jalan makadam itu.


"A,A,A,A,A,AAA!,"


'MATI AKU' dalam hati anak itu segera memejamkan mata...


Spedanyapun menyerempet satu sisi pikulan dan terpelanting, membuat tubuh kurus si pedagang jatuh di atas pisang yang sudah berantakan. Speda terguling ke sisi lain dan anak perempuan itu duduk di atasnya berhasil merubah posisi agar seminimal mungkin mendapat luka. Dengan wajah pucat, dia tetap memejamkan mata sambil mengeratkan rahang takut dengan konsekwensi apa yg dia perbuat.


Dia mendengar beberapa orang berdatangan sambil berbicara, kemungkinan besar menolong pedangang yang ditabraknya. Dengan perlahan dia membuka satu mata, mengintip keadaan sekitar. Saat melihat beberapa pasang kaki di hadapanya, matanya terbelalak kaget. Beberapa tetangga sudah berkeliling membentuk setengah lingkaran di hadapanya sambil berkacak pinggang memandangnya tajam. Dia pasrah dan segera menyengir kuda.


"Hehe... maaf..." Ucapnya sambil menangkupkan kedua telapak tanganya yang kecil itu. Ami, itu namanya. Anak ke 3 dari 5 bersaudara dari pasangan Bapak Soemany dan Ibu Widji.


"Enak aja cuma ngomong maaf, cepat berdiri bantu bapak itu bawa daganganya ke rumah. Yang lain biar kita bantu bawakan. Ceritakan sama ibumu di rumah apa yang sudah kamu perbuat!" Ucap mbak Anti sodara jauh juga tetangganya itu sambil menunjuk bapak pedagang yang sedang memunguti barang dagangan yang kocar kacir karena ulahnya.

__ADS_1


Dengan menunduk dia menghampiri pak pedagang pisang berwajah sedih yang sedang membenarkan letak pikulan. Beberapa orang yang sudah berdatangan sebagian membantu memunguti pisang yang masih utuh, sebagian lainya membantu membersihkan ceceran pisang rusak dan membuangnya. Sedangkan mbak Anti mendorong speda turangga yang sebetulnya miliknya yang di pinjam Ami untuk belajar tanpa sepengetahuanya.


"Maaf pak..." Kata Ami sambil membantu menata pisang di atas keranjang pikulan tanpa berani memandang orangnya. perasaanya berkecamuk antara takut sedih dan kasihan menjadi satu.


Pak pedagang menatap dan merasakan penyesalan anak itu hanya tersenyum pasrah, sambil memegang satu bahu anak itu berkata "Tidak apa, nduk... (sebutan umum anak perempuan di situ) apa tubuhmu ada yang luka?" tanyanya.


"Tidak." Sahut Ami singkat sambil menaruh pisang terakhir yang bisa di selamatkan.


Setelah jalan makadam itu bersih, sebagian orang pulang sambil membawa pisang yang mereka beli karena rasa kasihan. Ami, mbak Anti dan pak pedagang pisang berjalan menuju rumah pak Man (panggilan ayah Ami).


Jalan Makadam



ket: Biasanya jalan makadam terdiri dari bebatuan atau kerikil di tengah dan pasir atau tanah halus di kedua bagian sisinya. Dan orang orang akan memilih berjalan di sisi yang halus, hanya mobil atau kendaraan besar yang menggunakan sisi tengah.


🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮


Hallo readers😊 Terimakasih sebelumnya karena sudah mampir dan membaca😉 Author berusaha untuk membuat cerita yang mudah di mengerti dan sesuai gambaran masa itu. Untuk sumber foto, aku ambil acak dari mbah goggle dan facebook😁 Jangan lupa bahagia😇

__ADS_1


__ADS_2