Nikmatnya Ikhlas

Nikmatnya Ikhlas
PALU DAN SABIT


__ADS_3

1960


Keheningan malam yang mencekam di gegerkan dengan gedoran pintu kayu...



BRAK BRAK BRAK BRAK! suara gedoran pintu menggunakan 5 jari memekakkan telinga.


Anak laki-laki yang dari tadi menutup rapat mulut adiknya, sedang mengintip sisi jendela. Ami menutup telinga menggunakan kedua tanganya dengan mata terpejam. Di sebelahnya ada kakak perempuanya juga melakukan hal yang sama dengan tubuh gemetar.


Di sisi lain, di atas bangku kayu... Seorang ibu menutup rapat bayi yang baru berusia 2 hari, sedang menenangkanya dengan memberi ASI. Ia berusaha menutup rapat telinga anaknya sambil berayun menimang.


Mereka semua dalam satu ruangan dengan keadaan gelao gulita, berusaha tidak menimbulkan suara. Aura ketegangan dan ketakutan terasa pekat dan mencekam.


Tak lama, di luar rumah terdengar suara erang kesakitan yang tak wajar di sertai bunyi benda berat yang terjatuh. Lalu hening...


"Siapa, le...?" Bisik bu Widji sepelan mungkin, tapi masih terdengar oleh sang anak.


"Gak tau, buk. Ketutupan..." belum sempat menyelesaikan jawabanya, terdengar lagi...


BRAK BRAK BRAK BRAK! "PAK NI!, PAK NI!"


Teriak suara orang asing dari luar.


"Orangnya tidak ada di rumah, pak!" Sahut suara yang tak asing bagi mereka. Suara itu terdengar samar, mungkin jaraknya cukup jauh dari situ. "Saya dengar, pak Soemani hilang waktu rombongan PETA pergi ke prigi" Sahut orang itu lagi.

__ADS_1


"Jadi betul, dia anggota PETA?" Tanya suara asing tadi. "Tapi kenapa rumah ini tidak di tandai?". Tanyanya.


Tanda yang di cari



"Pak Ni bukan orang PETA, pak." Sahut suara yang tak lain milik pak Samijan, suami bu Bardiyah. "Dia hanya membantu membawakan barang, dan ikut sebagai kacung (pembantu)" Ucap pak Jan, berbohong.


"Bukanya keluarganya di rumah? Istri dan anaknya?" tanya orang tadi.


"Mereka tinggal di rumah adik pak Ni, karena istrinya baru saja melahirkan. Itu yang saya tahu, pak." Ucap pak Jan penuh hormat.


Hening sesaat... Lalu derap kaki beberapa orang terdengar dari kejauhan, suara sepatu salah seorang berlari mendekat dan berhenti tak jauh dari rumah.


"LAPOR PAK! SEMUA BERSIH!" Teriaknya, sepertinya suara seorang prajurit.


Sekiranya cukup aman, seorang nenek perlahan keluar dari kamar tanpa suara. Ibu dan anak di ruangan itupun serentak menatapnya. Mbah Jah membewa seikat kertas berwana kuning keemasan yang mereka tahu itu adalah dokumen ayah mereka.


Usi lantas melepas bekapan pada adiknya dan menerima dokumen yang di ulurkan sang nenek.


"Tunggu sampai pagi dan cepat bakar ini!" Bisik mbah Jah pada Usi. Usi mengkerutkan keningnya, dokumen itu adalah bukti bahwa bapaknya seorang pejuang. Ia tak rela bilukti itu di musnahkan.


"Kamu mau mereka menemukanya? Bakar, atau kita semua dalam bahaya!" Ucap mbah Jah, paham kegalauan cucunya. Akhirnya anak laki-laki itu mengangguk sambil menahan tangis. Neneknya pun kembali masuk ke kamar belakang.


Ya, semua demi nyawa mereka yang di pertaruhkan jika ada yang tahu tentang dokumen itu.

__ADS_1


Ami dan Nar akhirnya tidur sambil berpelukan dengan posisi duduk di lantai dan bersandar di di dinding. Sang ibu yang tak dapat menahan kantuk akhirnya tertidur saat matahari mulai menyingsing bersama sang bayi. Hanya Usi yang tak dapat memejamkan mata, akhirnya pergi ke Pawonan dan membakar dokumen ayahnya.


Suara berisik orang-orang di luar membangunkan se isi rumah. Bu Widji yang tahu kemungkinan apa yang terjadi di luar, tak berani bahkan mengintip sekalipun. Ami dan Nar yang merasa melayang melangkah keluar rumah. Mereka penasaran apa yang sedang terjadi.


Di ruas jalan makadam, tepat depan pekarangan rumah mereka, terlihat segerombol orang sedang sedang berusaha menutup genangan darah menggunakan pasir dan kerikil.


Ami yang syok mencium bau anyir yang menyengat dan melihat banyaknya darah, merasakan mual dan pusing seketika.


"AAAAAAA....!"


.......kembali ke masa itu........


"AAAAAAA....!"


Teriak Ami, menyadarkanya dari pingsan. Seketika ia membuka mata dan duduk mengagetkan orang sekitar. Matanya membulat ketakutan, nafasnya memburu, dadanya naik turun, jantungnya berdegup kencang dan tanganya mencengkram erat bangku kayu hingga buku jarinya memutih.


Dalam ruang gereja itu terlihat Topo, Romo dan seorang guru wanita menatap khawatir padanya.


"Kamu sudah sadar, Mi?" Tanya topo sambil menggenggam tangan pucat itu.


🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮


Hi readers😊 Mungkin ada yang bertanya, apa hubungan judul Bab ini?


Palu dan sabit adalah lambang orang orang yang membuat keributan malam itu. Maaf saya tidak berani menyebutkan, takut kena sensor karena berhubungan dengan politik😁.

__ADS_1


Maaf Fotonya cuma itu, karena membahas tentang kekejaman satu malam. Ada cerita di bab selanjutnya, sambil cari dokumen dulu ya...


Tetap jaga kesehatan, jangan lupa minum banyak air putih ya...


__ADS_2