
Ngobrol dulu yuk....
Author mentok cari beberapa info di sini😂 ada beberapa cerita nara sumber, dan berusaha author cari info tempatnya... Nihil!
Harusnya ada cerita tentang grup Wayang Orang di kota Tulungagung tehun tersebut. Tapi waktu author ubek-ubek semua media hasilnya... Zero! 😔
Wayang orang sendiri adalah seni tari yang menceritakan tentang pewayangan atau, wayang yang di perankan oleh manusia.
Kata 'Ami', memang tahun itu ada beberapa grup wayang orang yang tersohor di tanah Jawa. Yang terbukti ada jejaknya di beberapa media. Tapi yang ia ikuti hanya grup pentas kecil yang di adakan di pasar malam seminggu sekali.
Pasar malam jaman dulu, tidak seperi yang kita bayangkan ya... Ada permainan kincir angin dan lempar gelang.
Jaman itu kata 'Ami', kalau pasar malam cuma bersisi beberapa penjual baju dan makanan di pinggir tanah lapang. Sedangkan tengah lapangan biasanya ada pertunjukan seni tari, ketoprak (bukan makanan lo ya), wayang orang, jaranan (kuda lumping versi jawa timur), juga layar tancap.
__ADS_1
Ketoprak
Jaranan
Layar Tancap
Tapi walau anak-anak jaman itu masih kurang luas pendidikanya, masih banyak gadis yang tetap menjaga kesucianya hingga dewasa. Seperti halnya Ami. Memang, tak sedikit yang menikah muda. Bukan hanya rasa 'penasaran' yang berujung 'isi duluan', juga banyak faktor perjodohan.
Siti Nurbaya itu salah satu novel juga ya, sebetulnya kebanyakan perjodohan di lakukan antar teman orabg tua sejoli yang tak ingin anak mereka bertemu debgan jodoh yang tidak di inginkan oleh orangvtua mereka. Termasuk juga Ami😅. Nanti ada ceritanya di belakang, sabar ya...
__ADS_1
Selanjutnya author juga tidak akan membahas satu persatu keluarga Ami, hanya menceritakan perjalanan hidupnya saja. Tapi akan saya beri gambaran di sini.
Yang penasaran sama Nar, kakaknya Ami... Setelah kejadian itu, mereka putus. Untungnya Nar juga belum pernah berhubungan badan, hingga bertemu dengan suaminya yang usianya jauh lebih dewasa.
Usi, kakak sulung Ami yang terlebih dahulu lulus STM dan bekerja di kota Semarang (termasuk metro politan waktu itu) juga menikah debgan orang asli kota tersebut. Dia sempat marah dengan Ami. Keluarga istrinya yang beragama nasrani, mengajaknya bergabung dan mengajak adiknya Ami yang di ketahui bersekolah di SMP Katolik. Tapi Ami menolaknya.
Adik perempuan Ami bernama Sri, nanti juga akan sedikit saya ceritakan juga di novel ini. Sedangkan Kus, adik bungsu mereka yang di angkat menjadi anak oleh Tantenya Ami baru bertemu kakak nya waktu dia pertama masuk sekolah.
Lalu, masih ingat 'siluet berdiri di belakang rumah' Bab DUA PASANG KAKI? Ini nanti ada hubunganya sama Bab 'entah ke berapa'. Jadi, saksi dari pergumulan orang yang bukan pasanganya itu ada seseorang selain Ami😆.
Ada beberapa cerita Ami waktu kecil yang saya skipp, saya ringkas di sini. Dia pernah ikut 'langsir' atau memindahkan kepala kereta dari jalur aktif ke jalur mati. Dia juga sering ambil arang di sekitar rel kereta, untuk bahan bakar ibunya memasak. Jaman dulu, lokomotif uap berbahan bakar batu bara, kayu dan minyak yang kadang sisanya ber ceceran di area rel kereta sekitar stasiun. Beberapa kali melihat penampakan 'genderuwo' di atas pohon sawo atau beringin. Juga paling takut dengan ulat dari pohon kedondong dan alpukat, kalo lewat area pohon ini maka dia ambil persiapan seperti akan mengikuti lomba lari jarak pendek😂.
Aku kasih bocoran ni... Dewasanya Ami nanti menikah, punya anak dan di khianati oleh Casanova 😅. Tapi dia akan dertemu pangeran ber mobil mewah (bukan kuda putih lagi😁) yang sangat sangat sangat mencintainya😇.
Alurnya ceritanya, jangan tanya😂 Nano-nano. Kita akan mengupas beberapa rahasia masa orde baru🤫 Pelan pelan nanti aku ceritakan😊.
Tetap jaga kesehatan ya, readers🙏 Semoga kita selalu di beri kesehatan, amin...
__ADS_1