Nikmatnya Ikhlas

Nikmatnya Ikhlas
ANAK DEWASA


__ADS_3

Hari minggu adalah hari yang paling menyenangkan bagi anak-anak. Sama halnya dengan Ami, karena bu Bardiyah libur di hari minggu, iapun bebas bekerja hari ini.


Menyenangkan rasanya dapat menghasilkan uang sendiri, ia tak perlu berebut sabun batangan lagi dengan sang kakak. Hari ini dia berencana untuk menghabiskan sendiri uang itu untuk berbelanja.


" Ayo Sri, ikut mbak ke stasiun... Boleh kan buk?" Tanya Ami sambil menggandeng tangan adiknya yang ber usia 5 tahun.


"Ya, sana... Tapi hati-hati bawa adikmu, jangan sampe ilang. Jangan beli barang gak penting, cepat pulang. Nanti sore katanya mau ke pendopo, ada tamu dari Jakarta. Kita lihat mobil bagus sambil nunggu bapak pulang kerja." sahut bu Widji.


"Mbak, aku mau lihat mobil dari Jakarta!" Pekik Sri antusias.


"Iya, iya... Nanti kita ke pendopo, sekarang temani mbak ke stasiun. Kita beli jajan, gimana...?" Bujuk Ami pada adiknya. Sri yang tak pernah merasakan belanja itu langsung melompat-lompat.


"Asiiiik...!" Teriaknya.


"Ya sudah, sana berangkat. Ini sekalian bawakan titipan pak Juki, ibu nanti mau bantu bu Bardiyah bikin jajan pesanan untuk pendopo." Kata bu Widji sambil memberikan botol kosong yang bertuliskan 'KETJAP'. "Hati-hati bawanya." pesanya.


Itu adalah kecap kuda Hankioe, yang biasa ibu pakai untuk masak. Pak Juki adalah kurir pabrik kecap tersebut, selain sebagai penjaga pintu belakang setasiun kereta di malam hari.


Kecap Kuda

__ADS_1



Kedua anak itupun berpamitan sambil mencium tangan ibunya. Mereka berjalan ke arah pintu belakang stasiun Tulungagung, yang satu jurusan dengan gang rumah mereka.


Setelah memasuki gerbang stasiun, Ami menatap bagunan kayu 2 lantai yang metupakan pos penjaga lintasan. Ia pun menunduk ke arah adiknya.


"Sri, tunggu di sini. Mbak ke atas dulu, ngasih botol ini ke pak Juki" pesannya sambil menggiring sang adik menuju batu besar. "Kamu duduk di sini, jangan kemana mana ya..." katanya yang di sahuti dengan anggukan kepala oleh Sri.


Pos Jaga



Walau Ami tau kegiatan dalam pondok yang tak patut untuk anak-anak, tapi rasa penasaranya 'dengan siapa' lebih besar dari akal sehatnya. Iapun mengintip dari celah korden yang tertutup dari dalam.


Dari keremangan cahaya pagi yang masuk, Ami melihat jelas seorang wanita yang membukuk di atas meja dengan rok menyingkap ke punggungnya. Tanganya memegang erat tepian meja dan satu kaki di naikan ke atas kursi. Atasan yang mini terlihat sengaja di pelorotkan hingga buah dadanya menyembul terhimpit meja.


Laki laki yang tak lain adalah pak Juki, dengan setelan lengkap petugas PNKA (Perusahaan Negara Kereta Api). Hanya celananya yang melorot hingga betis, bahkan dia tak mencopot topinya seakan betkata 'saya sedang bertugas'.


Raut wajah pak Juki terlihat menahan sesuatu dengan mata terpejam dan dahi mengkerut. Dia memaju mundurkan pant at nya, sambil memegang pinggang perempuan yang tak lain milik seorang kupu-kupu malam yang pernah Ami lihat di gang pinggir rel Kereta. Terdengar semakin jelas suara pekikan dan nafas memburu dari dalam, yang membuat bulu kuduk Ami merinding.

__ADS_1


Serasa cukup mengenali keduanya, Ami bergegas turun dengan dada berdegup kencang. Ia menghampiri adiknya "Ayo, dik... Kita nyebrang." Ajaknya sambil menetralkan nafas.



Mereka berjalan menyebrangi beberapa rel kereta menuju stasiun. Sat itu bertengger rangkaian kereta api yang akan berangkat ke arah kota Blitar. Mereka berjalan dengan hati-hati melintasi rel kereta, tepat di depan lokomotif menuju area dalam setasiun.


Depan stasiun Tulungagung ada beberapa penjual makanan dan toko kelontong. Selalu ramai dari pagi hingga sore hari.



💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸


Catatan:


Hi readers, maaf jika ada beberapa hal yang saya ringkas. Misal, waktu... Memang pengalaman Ami itu semua terjadi dengan singkat, kurang lebih dalam satu bulan.


Di sini dia menggambarkan, bahwa saat itu memang masih belum banyak ajaran untuk anak sekolah. Keterbatasan ruang privasi orang dewasa, juga karena keadaan mereka yang kebanyakan masih serba sederhana. Bahkan Ami sering mengetahui pergumulan orang tuanya sendiri (yang di lakukan diam diam), mungkin adiknya pun tahu. Tidak saya gambarkan ya, maaf🙏😁 bayangkan saja😂.


Tentang cerita ormas yang saya janjikan, nantikan bab berikutnya😊... Terimakasih😘

__ADS_1


__ADS_2