
Yahmi, teman pertama Ami di tempat kursus bu Ratna. Wanita 23 tahun, yang berperawakan tinggi ideal. Selalu berpenampilan sederhana, menyembunyikan aura kedewasaanya. Karena hidup di pinggiran kota, membuatnya minder. Berbeda dengan Ami yang mudah berteman dengan siapa saja.
Walau terkesan cuek, Ami termasuk anak yg rajin dan suka membantu. Dia bisa dekat dengan Yahmi juga karena ia membantu Yahmi saat membetulkan benang kusut pada mesin jahitnya.
Dan saat Yahmi melihat Ami pulang dengan berjalan kaki, Iapun menawarkan untuk mengantar Ami pulang. Hanya saja, Ami tak ingin merepotkan. Hanya cukup menurunkanya di perempatan jalan, sehingga ia dapat melanjutkan setengah perjalananya ke rumah yang berlainan arah dengan rumah Ami.
Sore ini, Ami ingat janji bertemu Kamto. Dan pada saat keluar dari tempat kursus, Ami segera keluar dan menunggu di luar gerbang sambil mencari sosok pemuda itu diantara banyaknya para karyawan pabrik keramik.
"Mi, aku pulang dulu ya. Nanti jangan pulang terlalu malam, gak bagus anak perawan pulang malam-malam. Besok pagi seperti biasa, kan?" Ucap Yahmi sambil menuntun sepedanya, menghampiri Ami.
"Iya, mbak. Besok aku tunggu seperti biasa, sepedaku belum jadi. Hehe..." Jawab Ami sedikit geli, ingat rangka sepeda yang belum jadi.
"Iya gak papa. Nanti hati-hati di jalan, aku duluan." Pamit Yahmi.
"Mbak juga hati-hati ya..!" Sahut Ami mengeraskan suaranya saat menatap Yahmi mulai melajukan sepedanya.
Belum hilang sosok Yahmi dari pandangan, Ami di kejutkan dengan sepasang telapak tangan lelaki yang menutup matanya. Siapa lagi, hanya Kamto yang ia kenal bekerja di situ.
__ADS_1
"Mas, jangan aneh-aneh. Kalau bapakmu liat, gimana" Itu yang keluar dari mulut Ami dan membuat Kamto sedikit kecewa. Ia berharap Ami kaget dengan ulahnya.
"Kamu kok gak kaget, tau ini aku dari mana?" Tanya Kamto sambil menarik tanganya. Ami berbalik dan memandang wajah masam Kamto dan menahan tawa.
"Kita kan janjian, lagian... Siapa lagi yang usil sama aku selain kamu, mas? Kira-kira?" Tanya Ami.
Kamto berfikir sejenak. "Em... Gak ada. Ah..., ya sudah, kita jalan. Mumpung bapak masih laporan. Aku sudah bilang mau pulang dulu. Kita lewat pinggir rel saja, Mi. Pas nanti aku tunjukin tempat ngopi banyak jajanya" Ajak kamto sambil mengandeng tangan Ami.
Mereka berdua berjalan bersama sambil bercengkrama. Ami yang suka penasaran akan sesuatu, mencoba melihat ke ujung rel kereta api. Tapi sepertinya tidak akan ada kereta yang melintas. Iapun berjalan di atas rel sambil berpegangan tangan dengan Kamto. Tinggi Ami menjadi sejajar dengan Kamto, karena letak rel lebih tinggi.
"Hati-hati, Mi... Kalau kepleset, kakimu bisa kesleo." Ucap Kamto memperingatkan.
"Apa mesti kepleset dulu, baru minta gendong? Kamu minta sekaranga juga pasti aku gendong." Ucap Kamto mengeratkan genggaman tanganya saat Ami akan jatuh.
"Woow, Aaa.." Teriak Ami saat akan jatuh ke arah berlawanan.
Saat itu juga Kamto berhenti dan menarik tangan Ami, lalu ia berbalik membelakangi Ami. Mau tak mau Ami terjatuh ke punggung Kamto dan segera menggendongnya.
__ADS_1
"Mas, aku berat.." Ucap Ami, seketika wajahnya bersemu karena malu. Reflek kakinya mengapit pinggang Kamto, takut merosot dan jatuh.
"Masih berat beras se karung, kamu itu makan apa setiap harinya? Kerupuk?" Tanya Kamto sambil melilitkan tanganya di kedua kaki Ami.
"Heh, berani menghina bapak ku? Dia yang kasih makan kita, dan tiap hari kita makan nasi!" Ketus Ami, kesal dan melupakan rasa malunya. Tanganya membelit di leher kamto, dagunya menyentuh puncak kepala pemuda itu.
Kamto hanya tertawa kecil, menikmati moment di mana Ami merasa nyaman. Berharap waktu melambat, karena perasaan hangat dan tenang. Entah sejak kapan ia merasa ingin melindungi Ami. Hanya mirip perasaan terhadap adik perempuanya, hanya ini lebih mendalam. Lebih ingin memiliki, tapi juga menjaga.
🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸
Hi readers😊 apa kabar hari ini?
Catatan bab ini, se karung beras jaman dulu masih pakai karung goni 50KG. Karena kebanyakan keluarga besar atau di desa, memiliki lumbung padi (tanam sendiri). Selain itu rumah tangga biasa membeli eceran.
Tentang Kamto masih nyambung beberapa bab lagi, dan sekali lagi maaf untuk mas Topo🤧 kamu akan terlupakan...
Tetap jaga kesehatan ya 🙏
__ADS_1