
"Jangan pegang-pegang!" Bentak Ami pada Nuno, sabil mengibaskan tangan pada lengan Nuno yang memegang pundak Ami. Ia sedang belajar menyulam untuk mengalihkan perhatianya, agar tidak selalu teringat tentang wayang orang.
Seperti biasa, malam ini Nuno bertandang ke rumah Ami. Membawa beberapa berkas catatan dari kantor yang belum terselesaikan hari itu. Setelah pagi tadi, Nuno gundah karena tak bertemu Ami sebelum berangkat kerja. Ia merasa bersalah karena kejadian kemarin di sanggar tari.
"Maaf, Mi... Aku salah. Tapi apa kamu gak mau tanya, alasan kenapa aku harus melakukannya?" Tanya Nuno pada Ami, sendu.
"Aku tak butuh alasan, Mas. Kalau niat Mas Nuno baik, seharusnya mas bilang sama aku dulu. Apapun alasanya, pasti aku pertimbangkan." Ada nada kecewa dari ucapan Ami tersebut. Lalu Ami meletakan benda yang sedari tadi di pegangnya di atas meja, berdiri dan berjalan ke arah pawon.
Nuno hanya termenung, menyesal kesekian kali atas perbuatanya. Tapi apa daya, waktu tak dapat di putar balik. Ia hanya pasrah apapun konsekwensinya.
Ia mulai menata beberapa kertas yang ia bawa, dan mulai mengerjakan apa yang belum selesai ia kerjakan tadi di kantor. Walau pikiranya kurang fokus, ia harus tetap teliti dalam pekerjaanya.
Tak berapa lama, Ami datang membawa secangkir kopi dan sepiring gorengan. Dengan hati-hati, Ami meletakanya agak jauh dari kertas, di atas meja.
__ADS_1
Kaget, Nuno menatap dalam wajah Ami yang masih datar tak terbaca. Kegiatanya terhenti, menelisik gerak gerik Ami.
"Gorenganya sudah dingin, mas. Sisa tadi sore." Ucap Ami, lalu duduk di depan Nuno dan mulai melanjutkan sulamanya.
"Trimakasi, Mi. Aku kira, kau masih marah." Lirih Nuno, mengambil gorengan dan memakanya.
"Aku belum memberi maaf, Mas. Cuma melakukan kewajiban, itu salah satu pesan ibu kalau Mas kesini." Dingin kata Ami yang terucap, tak dapat menghangatkan suasana.
Nuno diam, kehabisan kata. Bingung, dengan apa lagi cara ia meminta maaf. Cara untuk mingikis tembok yang Ami bangun setelah pulang dari sanggar. Lalu perhatianya teralihkan pada sulaman di pangkuan Ami.
"Kamu belajar menyulam sekarang?" Tanya Nuno. Baru kali ini ia melihat Ami menyulam. "Kamu tidak menjahit lagi?" Tanyanya lagi.
"Aduh! Sssh..." Desis Ami, spontan melempar sulamanya ke atas mesin jahit di sampingnya.
Nuno yang sudah beranjang, lalu duduk di sebelah Ami. Menarik pelan tangan Ami yang terluka dan menahanya. Terlihat setetes darah mulai keluar dari kulit seputih susu, dengan cepat Nuno menyesapnya.
Mata mereka beradu. Wajah Ami menghangat, menunduk cepat. Air matanya sudah menggenang. Bukan sakit karena tusukan jarum, tapi lebih karena semua perbuatan Nuno. Masih kesal, tapi penasaran jika tak jumpa. Bergetar, jika di sentuh.
__ADS_1
Nuno mengerti, akhirnya menarik Ami pelan. Merengkuhnya dalam dekapan. Hingga isak tangis Ami yang tertahan, terdengar lirih di telinganya. Kaos bagian depan yang ia kenakan, mulai basah oleh air mata Ami.
Akhirnya Nuno menghabiskan sisa malam itu dengan menenangkan Ami. Memberi penjelasan, dan menghibur Ami dengan angan masadepan yang telah ia gambar dalam benaknya. Hidup berdua, setelah menikah...
💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮
Hi readers😊 Bab ini rada melon ya😅 Memang dari sini Ami belajar membuat beberapa sulaman, tapi katanya hanya belajar saja😆 tidak di tekuni.
Aku juga belajar menyulam strimin (kristik) dari Ami😁 Di rumah, masih ada PR gambar Jaka Tarub yang nantinya kalau jadi seperti di bawah ini😆 tapi punyaku baru separo😅.
Dan jaman dulu, mereka lebih memilih piring gelas seng (enamel blirik), karena awet. Mungkin ada sahabat reader yang punya ya😆 atau mungkin milik kakek nenek???
Jaman dulu hanya orang menengah keatas yang punya piring keramik😬 katanya...
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca, jangan lupa bahagia😉😘