Nikmatnya Ikhlas

Nikmatnya Ikhlas
BOLA MELAYANG


__ADS_3

Topo, adalah seorang anak kepala desa di kota tetangga. Dia tinggal di kota Tulungagung bersama pamanya. Selain lebih ramai, segi pendidikan juga selangkah lebih maju dari kota asalnya. Satu tahun lebih dia menjadi salah satu murid di SMP Katolik, sekarang memulai tahun ke-2 nya.


Anak lakilaki yang bisa di bilang cukup tampan itu selalu tampil apa adanya. Rambut yang hanya di sugar oleh jari ke belakang. Aktifitasnya yang padat kegiatan sekolah, membuatnya selalu berkeringat dan sering membasahi kepalanya.


Setelah mengikuti kegiatan olahraga, ia mengingat anak perempuan yang beberapa minggu ini selalu masuk dalam mimpinya. Warna seragam yang mencolok, tidak menutupi kecantikanya. Gadis itu selalu menonjol, bukan hanya perbedaan warna pakaianya. Percaya diri dan dewasa, seakan melekat pada tubuhnya.


Dari awal Topo melihat Ami di acara orientasi siswa, ia telah jatuh pada pesona gadis itu. Wajah halus, kulit putih gading, mata bulat dan tajam, rambut panjang sedikit ikal yang di ringkas oleh sehelai kain merah, membuat pria manapun tak berkedip melihatnya.


Sosok itu melintasi area lapangan, jauh di sisi sebrang. Tapi saat melihat anak anak yang antusias bermain sepak bola, iapun merasakan firasat yang tak bisa di jelaskan. Ia lari melintasi lapangan, tanpa menghiraukan tatapan penasaran di sekitarnya.


"AMIII, AWAAAS!" Sepontan ia berteriak keras saat bola yang terbuat dari rotan itu melayang ke arah Ami. Ia belum sampai setengah lapangan saat melihat kejadian itu. Tapi terlambat, bolapun terbang menyerempet kepala Ami dengan cepat.



DUG!


"AUW!"


"HEH! BISA GAK MAIN BOLA! DI TENDANG KE GAWANG LAWAN, BUKAN KE ORANG LAIN!" Teriak ami pada para pemain, dengan kesal. Kepalanya terasa perih dan berdenyut, sakit memang. Tapi ia meneruskan langkahnya seakan tak perduli.

__ADS_1


Topo yang tiba di samping Ami, mensejajarkan langkahnya sambil berusaha mengatur nafasnya. Mereka tak memperdulikan salah satu pemain yang meminta maaf sambil memungut bola.


"Mi, kepala kamu.., kamu gak papa..?" Tanya Topo sambil menahan nafasnya yang sedikit memburu. Amipun seketika menyentuh bagian yang terserepet bola.


"Ya sakit, tapi gak papa..." Ucapnya sambil meraba raba. Ia merasakan lengket pada jarinya dan sedikit tercium bau anyir bersamaan dengan rasa tetesan menuruni pipi hingga ke dagu. Lantas menurunkan dan melihat tanganya yang berdarah.


"DARAH..." Jantungnya seakan berhenti. Ingatan buruk berkelebat di kepalanya. Kesadaranya mulai memburam dan kakinya terasa lemas. Dengan sigap Topo menopang tubuh Ami yang limbung agar tidak jatuh.


"AMI!"


Samar Ami mendengar teriakan Topo sebelum matanya terpejam. Topo yang kaget sontak membopong (gendong ala bridal stye) tubuh mungil Ami yang tak sadarkan diri ke arah gereja yang jaraknya paling dekat.



Topo menidurkan Ami di bangku gereja paling belakang. Satu tangan menopang belakang kepala, tangan lain menekan luka di kepala Ami berusaha menghentikan pendarahan.



"Yul! Ambil kotak P3K di ruang guru! Cepat!" Teriak Topo saat melihat temanya yang berlari menyusul mereka masuk ke area gereja.

__ADS_1


"Adi sudah kesana! Tunggu sebentar, bagaimana lukanya? Tadi sepertinya dia baik-baik saja, kok malah pingsan?" Tanya Yuli. Ada beberapa anak lain yang berusaha masuk tapi di hadang oleh tangannya. "Kalian jangan masuk, bikin rame saja... Nanti di marahin Romo! Sana bubar, gak usah main lagi. Istirahat." Ucap yuli pada teman temanya.


"Dia kaget waktu lihat darahnya, langsung pucat wajahnya. E... tau-tau pingsan! Kaget aku!" Ucap Topo sambil memeriksa luka Ami.


Tampak lecet dan berdarah di kepala Ami. Topo menengadah saat mendengar samar bunyi cepat langkah kaki beberapa orang mendekat. Terlihat Gurunya bersama Adi yang membawa kotak P3K memasuki gereja.



"ADA APA INI?!"


💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸


Hi readers😊 bagaimana kabar hari ini? Author kasih cacatan seperti biasa, mungkin ada yang bertanya tanya...


Jaman dulu, ruang sekolah masih terbatas di beberapa kota. Masih belum ada ruang kesehatan, BP dan sebagainya. Hanya sebatas ruang belajar, ruang guru, dan lapangan.


Bola sepak rata-rata masih menggunakan bahan rotan, macam sepak takraw ya😅. Kalo terbentur kulit, akan sakit atau bahkan luka.


Kalau tidak salah, membopong itu bahasa Indonesianya gendong ala bridal style ya😂.

__ADS_1


Kotak P3K jaman dulu memang rata rata berbentuk seperti itu, biasanya dari kayu. Tapi kata 'Ami', yang ada di sekolahnya itu P3K peninggalan orang portugis yang membawa masuk ajaran nasrani ke kota tersebut😊. Aku cari, ternyata ada yang jual😂.


Tetap jaga kesehatan dan jangan lupa bahagia ya😘


__ADS_2