
Ami membeku di dahan pohon, menatap arah belakang rumahnya. Dengan sinar temaram rembulan, samar terlihat gerakan aneh dua insan yang terlilit satu sarung. Seorang wanita yang menyender di tembok sumur, berhadapan dengan laki-laki dalam posisi berdiri.
Di antara rumah Ami dan rumah pak Kambali terdapat sumur timba. Sumur ini biasa di gunakan bersama karena airnya yang jernih dan melimpah.
Sumur Timba
'mereka melakukanya lagi, ya tuhan... Sial benar nasibku' ujar Ami dalam hati. Harusnya Ia menutup mata, tapi rasa penasaran dan kaget malah membuatnya tak berkedip.
"Ssst! Sst! Mi! Ngapain bengong?! Cepat ambil mangganya, dan turun!" Bisik Asih tak sabar.
"Ada orang ya, Mi?" Tanya Surti pelan, faham kegelisahan Ami yang tak kunjung bergerak. Ami sontak menempelkan jari telunjuk ke mulutnya yang tertutup, menandakan 'diam' sambil menganggukan kepala.
Dengan mengabaikan sejoli di sumur itu, Ami merangkak berusaha mengambil mangga satu persatu tanpa menimbulkan suara.
Usaha keras yang sangat menyiksa, mengingat terdengar samar leng u han suara... gigitan semut merah... menjaga keseimbangan badan... membuatnya beberapa kali menahan nafas.
Keringat dingin membanjiri tubuh Ami, bahkan sebelum ia memijak tanah. Bayangan kegiatan di belakang rumahnya, membuat pikiranya tak fokus hingga menggelengkan kepala.
"Kenapa, Mi? Siapa yang ada di belakang?" Tanya Surti berbisik, sambil menerima satu mangga dari Ami. Asih pun menerima satu, karena Ami hanya bisa menggapai 2 buah walau dengan waktu yang lumayan lama.
__ADS_1
"Kapok aku, gak mau keluar malam lewat belakang! Gak mau ambil buah mangga malam! Lihat, tubuhku di kerubuti semut angkrang!" Pekik Ami menekan suaranya se kecil mungkin.
Semut Angkrang
Ami mengibas-ibaskan tanganya ke lengan dan baju bagian depan. Kedua temanya yang kaget langsung membantu memberasihkan semut-semut itu.
"kamu kelamaan di atas, Mi... Emang lihat apa sih? Kita nunggu sampe pegal ni leher, nunggu kamu turun" Bisik Surti, sibuk membersihkan kepala Ami.
"Ayo, udah! Kita keluar dulu... Takut ada yang denger." Bisik Ami sambil menarik kedua pergelangan tangan temanya, meng endap endap cepat keluar halaman rumah.
"Ke cakruk (pos ronda), yuk... Kita makan di situ mangganya" Sahut Asih tak sabar.
Setelah sampai di cakruk, mereka duduk sambil menghela nafas lega. Surti dan Asih menggosokan buah mangga dengan baju mereka.
"Ayo, Mi... Cerita... Apa yang kamu lihat, tadi..?" Desak Surti penasaran.
Ami ragu, apa perlu menceritakan kejadian itu pada mereka..? Antara takut di ceritakan kembali pada orang lain, atau malah mereka lancang bertanya pada orang itu.
__ADS_1
Setelah berfikir sejenak, diapun mengambil keputusan untuk bungkam.
"Bapak ku, sepertinya mau ke sumur ambil air. Hehe..." kata Ami menunjukan cengir kudanya.
"Oowalah... Sama bapak sendiri kok takut, kita kira kamu tadi lihat gendruwo!" sahut Surti sambil menggigit buah mangganya.
Ami yang melihat temanya mulai makan mangga, mengkerutkan kening sambil menelan saliva. "Asem gak...?" tanyanya.
"Mm...nyam..., masih asem ketekmu! Hahahaha!" Kata asih, dan merekapun tertawa bersama.
Yah, mereka hanya anak sekitar 10-11 tahun. Tapi keberanian mereka patut di acungi jempol, mengingat kala itu keadaan masih sepi jika malam hari. Tapi mereka menikmatinya, yang penting happy...
๐ธ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ธ๐ฎ
Catatan:
Mungkin beberapa kata yang author jelaskan, kebanyakan orang sudah tahu. Author hanya memberi gambaran, siapa tahu ada yang lupa๐
Semut angkrang adalah jenis semut merah besar yang biasanya menghuni pohon ber buah, semacam pohon mangga. Jika kena gigitanya, terasa sakit dan panas. Bekasnya akan sedikit bengkak dan merah, jika tidak segera di obati akan menimbulkan iritasi.
Lokasi benar benar kota Tulungagung jaman dulu ya, readers... Biar sepi, tetep aman. Dekat dengan stariun Tulungagung dan Jalan antar provinsi. Bab berikutnya saya mau coba menceritakan beberapa ormas dan mohon untuk tetap positive thinking ya๐ karena kejadianya sudah lama berlalu...
__ADS_1
Banyak minum air putih dan jaga kesehatan. Jangan lupa bahagia๐๐