Nikmatnya Ikhlas

Nikmatnya Ikhlas
JALANI SAJA


__ADS_3

1968


Setelah lulus SD, Ami mencari sekolah lanjutan. Sayangnya, sekolah negeri yang ia dambakan memberikan beban uang gedung sebesar Rp 17.000,- yang tidak sanggup mereka bayar.


Akhirnya pak Soemany dan bu Widji mendaftarkan anaknya ke SMP Katolik setempat dengan beban biaya SPP per bulan.


Satu minggu setelah masa orientasi, Ami di panggil oleh romo untuk membantu persiapan misa di gereja yang terletak tepat di belakang bangunan sekolah. Romo tahu kesulitan orang tua Ami, ia juga prihatin melihat pakaian yang Ami kenakan ke sekolah.


Karena seragam SMP terlalu mahal untuk di beli, orang tua Ami menggantinya dengan seragam drill milik pak Soemany yang di kecilkan dan di beri pewarna. Jelas perbedaan warna dan bahan yang mencolok, walau senada.


Seragam Drill



Tapi semua itu tidak menyurutkan semangat Ami untuk sekolah, bahkan ia tetap bekerja membantu bu Bardiyah setelah pulang sekolah. Ini yang membuat Romo kagum, salut dan tertarik dengan kepribadian Ami.


"Ami, maukah kamu membantu kami menyiapkan acara misa? Saya tahu, agamamu Islam. Ini hanya rutinitas persiapan. Setelah ini, kau boleh pulang" Kata Romo, terdengar halus dan menenangkan.


"Apa saya perlu di babtis untuk melakukanya, Romo?" tanya Ami, Ragu. Ia pernah melihat orang orang yang di beri komini saat misa, untuk pembaptisan.


Komini


__ADS_1


"Tidak, jika hatimu tidak menginginkan. Kami hanya menawarkan keringanan. Dengan membantu kami, maka biaya sekolah tiap bulan akan di hapus. Bagaimana..., kamu mau? Tanya romo menawarkan.


Tentu saja Ami senang... Selain meringankan beban orang tuanya, ia dapat menyisihkan sedikit uang penghasilan dari membantu bu Bardiyah. Tapi... Mungkin... 'hari-hariku akan semakin sibuk' pikirnya.


"Misa gereja hanya ada di hari sabtu dan minggu, mungkin waktu bermainmu yang terganggu" Ucap Romo masih dengan nada halusnya.


"Oh... Tidak masalah, romo. Saya lebih suka main di malam hari..." setelah mengucapkan itu, Ami lantas tersadar ada yang salah dengan ucapanya.


"Em... Maksud saya, main petak umpet lebih seru kalau di malam hari. Hehe..." Ralatnya, sambil menahan malu. Ia khawatir Romo berprasangka buruk padanya, yang hanya di balas dengan senyum penuh maklum dari Romo.


Saat itu pula pintu gereja terbuka, masuklah anak laki-laki membawa sabak (papan tulis kecil). Matanya menelisik mencari sesuatu dalam ruangan.


Sabak



"Selamat sore, Romo." Sapa Topo, matanya melirik Ami cepat.


"Sore, topo. Tuhan memberkati" Sahut Romo sambil menepuk halus puncak kepala anak itu dengan telapak tanganya.


"Romo, boleh pinjam Ami sebentar? Saya ada perlu, mendesak." Tanya Topo, sambil tersenyum lebar sambil menatap Ami tajam.


"Pinjam-pinjam, memangnya barang!" serobot Ami, sewot.

__ADS_1


Romo yang merasa geli dengan kedua anak itu, hanya tersenyum simpul dan mengangguk.


"Urusan saya sudah selesai dengan Ami." Ucapnya pada Topo sambil berpaling kepada Ami "Ingat, besok sabtu dan minggu ya. Jangan lupa beritahukan ibu bapakmu." Kata romo sambil memegang bahu Ami sekilas, lalu beranjak pergi meninggalkan mereka.


"Perlu apa sama aku, cepet! Aku mau pulang! Sudah sore." Ketus Ami pada Topo. Topo adalah kakak kelas Ami yang bertugas membimbing kelas Ami saat Orientasi. Sikapnya yang sok, membuat Ami selalu ketus padanya.


"Galak bener... Aku cuma mau tanya, apa kamu lihat grip (alat tulis) ku? Seingatku... Kemarin yang terakhir keluar kelas itu kamu, tapi hari ini aku cari seluruh ruangan tapi gak ketemu." Sahut Topo.


Grip



Sebetulnya, itu hanya alasan Topo untuk mendekati Ami. Dia selalu penasaran pada sosok cantik Ami yang tak dapat di tutupi oleh seragam berwarna aneh yang ia kenakan. Topo tahu, dimana gripnya terjatuh. Dia sengaja memancing Ami untuk ikut mencari.


"Paling juga jatuh di kelas! Kalau cari yang bener... Jangan sembarangan menuduh..." Sahut Ami ketus, sambil berjalan mendahului topo. Dia paling tidak suka jika di tuduh mengambil barang orang lain, walau tidak sengaja. 'Miskin selalu jadi alasan seseorang menjadi tertuduh' pikirnya.


Sayangnya, senyum manis Topo tak terlihat oleh Ami.


🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮


Hi Readers😊 Bab ini rada nyantai ya...


Ada satu bab bersisi catatan setelah ini, karena author mentok cari beberapa info😂

__ADS_1


Lanjut dulu yuk, jangan lupa bahagia😘


__ADS_2