
Tak terasa hubungan Ami dan Kamto berjalan hingga beberapa tahun lamanya. Walau di sembunyikan, tapi sebetulnya hampir semua orang tau. Begitu pula dengan orang tua mereka. Dan akhirnya, mereka berani terang terangan jalan berdua. Sudah tidak lewat jalan sempit lagi...
Seperti pasangan pada umumnya, mereka selalu berdua jalan kemana-mana. Ami sering membuatkan bekal untuk Kamto. Kamto juga membantu Ami memenuhi kebutuhan praktik kursus modistenya.
Mereka sibuk merajut cinta hingga lupa pentingnya restu orang tua. Hingga Ami beranjak dewasa, dan Kamto sudah pada usia siap menikah. Peran orang tua pun menguat, dimana mereka selalu di beri nasihat di setiap ada kesempatan.
Hingga kebal dengan kata-kata pedas yang terlontar dari ayah ibu mereka mengenai pasangan masing-masing. Bahkan, keluarga Kamto berusaha menjodohkannya dengan teman sang adik Semi.
Semi sendiri yang usianya satu tahun di atas Ami adalah bunga desa yang suka cari perhatian. Dia selalu ingin di pandang lebih tinggi dari sainganya yaitu Ami.
Semi sendiri tahu jika Ami pacaran dengan kakanya, dan ia tak suka itu. Itu sebabnya Semi sering kali mengajak temanya Siti, main ke rumah sepulang sekolah.
Semi bersekolah di SMA 1 Tulungagung bersama Siti. Jika di nilai dari kecantikan, jelas Ami masih jauh lebih cantik dari mereka. Tapi mereka tidak sependapat, karena Ami anak orang tak punya. Mereka sudah terbiasa memakai bedak dan gincu, sedangkan Ami hanya menggunakan bedak bayi yang harganya jauh lebih murah dari kosmetik lain.
Gincu
__ADS_1
Pak Soemani benar-benar marah dengan diamnya Ami jika di singgung masalah Kamto.
"DIA ITU ANAK PENGKHIANAT! SAMPAI KAPANPUN, AKU TIDAK MERESTUI!" Ucap pak Soemani dengan nada keras. Mungkin saudara mereka yang tinggal di kiri kanan rumah bisa mendengar jelas.
Ami hanya bisa menangis sambil berjalan ke arah sumur. Di sana, Ami melampiaskanya dengan mencuci semua pakaian kotor yang akan di cuci oleh ibunya sore ini.
Mbah Jah yang merasa simpati, menyusul Ami dan duduk di kursi kayu di belakang rumah. Ia memperhatikan Ami sambil memakan kinang.
"Tapi kita pacaran sudah lama, mbah... Kita sudah sama-sama suka. Lama-lama nanti kita jadi perjaka dan perawan tua!" Sahut Ami dengan suara serak.
"Iya, tapi restu orang tua itu penting dalam membina rumah tangga. Kamu gk kasian sama ibumu, yang selalu jadi penengah. Heeeh, nanti malam ada perang kasur lagi..." celetuk mbah Jah saat ingat kebiasaan menantunya itu jika marah.
__ADS_1
"Perang kasur apa, mbah?" Tanya Ami, berhenti menangis. Pikiranya ter alihkan dan fokus pada kata-kata mbah Jah.
"Perang di atas kasur, mungkin kamu sudah tahu..." Ucap mbah Jah sambil tersenyum jahil memperlihatkan giginya yang merah oleh Kinang.
Mengingatnya, wajah Amipun merah merona. Dia cepat-cepat meneruskan kegiatan mencucinya. Melupakan rasa sedihnya.
Tamnpa mereka sadari, ada seorang pemuda melihat dan mendengarkan mereka dari balik jendela.
🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮
Hallo readers😇 Terimakasih atas kesabaran kalian menunggu cerita Ami🙏
Agar tidak terlalu fokus pada tokoh pria, author beri informasi dahulu jika Ami memang banyak yang suka. Dan saat usia belia, seperti remaja pada umumnya... Ami juga 'mengagumi', 'menyukai', 'mendambkan' beberapa pria. Bahkan jika itu hanya berpapasan.
Tapi semua bukan cinta, juga bukan kasih sayang. Ami juga belum dewasa. Tapi ada saatnya Ami dewasa, saya akan ceritakan😊
__ADS_1
Ingat ya, jangan lupa bahagia😉😘