Nikmatnya Ikhlas

Nikmatnya Ikhlas
TERTULAR DEWASA


__ADS_3

Malam semakin larut saat Ami dan Nuno tiba di rumah. Sepi menyelimuti setelah mesin motor di matikan. Ami menunggu hingga Nuno memarkirkan sepeda motornya di teras rumah.


"Mas, ini uang rujaknya Bapak" Ujar Ami sambil mengulurkan uang pada Nuno.


Nuno hanya memandang uang tersebut, beberapa saat. Lalu ia mengambilnya dan memasukan ke dalam kantung keresek berisi rujak petis Ami.


"Emang kamu anggap aku siapa? Sudah minta antar, harusnya kasih upah. Bukan mengembalikan uang ku." Ujar Nuno gemas.


"Lha terus? Memangnya minta upah apa? bukan uang?" Tanya Ami polos.


Mata nuno memicing, menatap Ami tajam. 'Anak ini bener-bener polos.' Monolognya.


"Ini..." Katanya sambil sedikit membungkuk dan menempatkan sisi wajahnya tepat di depan wajah Ami.


Wajah Ami merona seketika, merasakan suatu kehangatan dalam dinginya malam. Ia paham, lalu menengok kanan dan kiri. Sekiranya aman, secepat kilat ia mencium pipi Nuno dengan mata terpejam. "Sudah." Lirihnya, sambil membuka mata secara perlahan.


Deg... 'Terlalu dekat.' Batinya.


"Untuk mengantarkanmu dengan selamat." Bisik Nuno tepat di depan wajah Ami, hanya berjarak beberapa centi. Lalu menyodorkan sisi lain wajahnya. "Satu lagi." Bisiknya lagi.


Jantung Ami mulai bertalu, telapak tanganya berkeringat. Lalu ia mencium singkat pipi itu, segera memberi jarak satu langkah kebelakang. "Lunas" Ucapnya lirih.


"Ya, untuk rujak petisnya." Ucap Nuno tersenyum lebar, menatap Ami lekat. "Satu lagi..."


Secepat kedipan mata, Nuno merengkuh tengkuk Ami. Memiringkan sedikit kepalanya, menutup mata dan memposisikan wajah mereka. Menekan kuat bibirnya pada bibir kenyal Ami, menikmati sentuhan yang hanya terjadi beberapa detik saja lalu melepaskanya.


"Untukmu yang sudah mengganggu acara mandiku" Ucap Nuno lalu meninggalkan Ami yang masih mematung.


Mata Ami terbelalak lebar, tak berani bernafas. Menatap Nuno yang berjalan santai melewati pintu samping, dan masuk kedalam rumah.


Ia berkedip dua kali, bernafas seakan barusaja menyelesaikan sesi lomba lari. Ia menyentuh bibirnya seakan tak percaya.


"Jangan bengong saja! Cepat berikan rujaknya sama Bapak! Keburu gak enak, nanti!" Teriak Nuno dari dalam rumah.

__ADS_1


"Dasar mesum!" Pekik Ami tertahan sambil menghentakan kaki, meninggalkan tempat itu. Ami berjalan cepat memasuki rumah dari pintu pawon.


"Ciyeeeee!" Sorak suara tak asing menyambut Ami. Jantung Ami serasa copot, karena menerima kejutan bertubi tubi.


Ternyata adegan tadi di saksikan oleh Sri, Asih dan Surti yang telah menunggu Ami. Sontak mereka kaget dan saling memandang tak percaya, sambil menunggu kedatangan Ami.


"Kalian membuatku kena serangan jantung!" Bentak Ami sambil memegang dadanya. Ia bergegas mengambil piring dan sendok, untuk di berikan pada Ayahnya.


"Ternyata ada yang diam-diam terhanyut sungai cinta..." Sindir Surti. Pasang mata mereka ber tiga mengikuti gerak gerik Ami, menunggu penjelasan.


Tetapi hingga Ami balik lagi ke pawon dan mengambil air minum, Ami tetap bungkam. Masih menunggu hingga segelas air putih tandas oleh Ami, yang ada hanya keheningan. Lalu Ami menatap satu persatu yang ada di situ.


"Apa? Mau tanya apa? Pengen tau apa? Kan aku sudah cerita..." Tuntut Ami pada teman dan adiknya.


"Tapi baru berapa minggu, mbak kok sudah ciuman? Dulu sama mas Kamto, apa kaya gitu juga? Enggak, kan?" Cerca Sri.


"Terus tadi apa maksudnya kamu ganggu acara mandinya? Kamu lihat Mas Nuno mandi, Mi?" Tanya Asih, tak tahan dengan sikap diam temanya.


Ketiganya tertawa cekikikan mendengar penjelasan Ami. "Tapi suka gak? Kalo gak suka kan kamu bisa lari. Kenapa malah diem kaya patung." Kilah Surti menyuarakan fikiranya. Dan ketiganya pun menertawakan Ami.


"Sudah, sudah! Kalian berdua kan sudah melakukan lebih dari ciuman. Kenapa juga heran? Terus kalian mau apa kesini? Bikin makanan lagi?" Tanya Ami menunjuk kedua temanya, berusaha mengubah topik.


"Kan beda... Kita berdua kan sudah sah jadi istri, lha kamu?" Protes Asih, tak terima.


"Iya, jadi lupa. Kita kesini mau bahas soal Semi. Kamu sudah tahu beritanya? Sekarang lagi ditanya sama kepala dusun." Cerita Kasih dengan nada tinggi.


Ami menatap datar kedua temanya itu. Dari tanggapan Ami, mereka yakin Ami telah mengetahui berita ini entah dari mana.


"Jadi kalian kesini cuma mau nyebar gosip itu?!" Tanya Ami ketus.


Kasih dan Surti saling memandang sejenak. Lalu Sri memegang pergelangan tangan kakaknya, meminta perhatian.


"Mbak udah tau, Mbak Semi hamil? Kok mbak diam saja?" Tanya Sri menuntut. Ami menghela nafas, menanggapinya.

__ADS_1


"Terus mau apa? Cerita ke kalian? Gunanya apa? Toh gak ada sangkut pautnya dengan kita. Kecuali kalo anak yang ia kandung itu anak saudara kita? Bukan, kan?" Jelas Ami.


"Ih, amit-amit... Gak mau kita punya sodara ipar kaya semi. Cerewet, lagak kaya ndoro (kasta tertinggi), sok cantik pula" Cibir Asih.


"Kamu tau dari siapa, Mi?" Tanya Surti penasaran. Pasalnya, baru sore tadi terungkap kebenaranya.


"Gak penting, dari siapa. Yang penting kita gk usah ikut nyebar aib orang. Kita sendiri kalau ada masalah dan jadi gunjingan kan sakit hati pasti." Dengan santai Ami merebahkan badanya di amben.


"Betul kita tidak suka, tapi juga jangan jadi pembenci. Kelak kita punya anak perempuan juga kan..? Tentunya hal seperti ini tak ingin terjadi pada anak kita. Apalagi aku masih punya adik perempuan yang harus ku jaga." Jelas Ami.


Pandanganya menerawang, menatap genting rumah yang berjejer rapi. Entah apa yang ia pikirkan. Bayangan Nuno menghiasi benaknya, membuatnya membuang nafas kasar.


Hening... Mereka bertiga mencerna dalam diam, semua perkataan Ami. Mereka pikir, Ami kesal dengan gosip yang mereka sebar. Paham, dan tidak berani lagi melontarkan kata apapun menyangkut orang lain.


"Apa ciuman dari Mas Nuno membuat otak Mbak jadi ketularan dewasa ya" Celetuk Sri polos. Membuat Ami terbebas dari lamunanya, Dan kedua teman Ami tertawa terpingkal-pingkal. Mungkin ada benarnya...


🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮


Hi Readers😊 Apa kabar?😁 semoga kalian sehat ya🙏


Bab ini tidak ada foto yang perlu di sertakan, tapi ada penjelasan sedikit. Ingat struktur rumah Ami? Sudah autho beri gambaran di Bab awal, yaitu rumah dengan dinding anyaman bambu. Maka, atap rumah pun sederhana tanpa plafon. Jika masuk ke dalam, kita akan di suguhi pemandangan sisi lain dari genting rumah😁 Hanya di atas kamar yang biasanya di beri sekat semacam anyaman bambu juga sebagai ganti plafon.


Bab sebelumnya author sertakan foto dari pohon sakura, bukan? Nah, karena bos punya bonsai pohon sakura, ini jepretan author saat bonsai berbunga. Sebetulnya cuma dokumen, karena mekar lebih awal dan saat ini bunganya sudah rontok habis😆.






Indah bukan😊 Senangnya berbagi... Dunia akan lebih indah jika semakin banyak orang yang ikhlas berbagi😇. Ingat, jangan lupa bahagia😉😘

__ADS_1


__ADS_2