Nikmatnya Ikhlas

Nikmatnya Ikhlas
SEPEDA KREDIT


__ADS_3

Seorang lelaki paruh baya terlihat merakit sepeda di halaman rumahnya. Lengkap sudah komponen sepeda yang ia kumpulkan selama beberapa hari kebelakang. Dan hari ini ia meminta cuti yang sangat jarang sekali ia lakukan. Ia ingat, putrinya yang satu ini tak pernah sekalipun mengeluh karena kekurangan ekonomi mereka. Bahkan ia sudah belajar mencari sedikit uang jajan sendiri, dengan ikut pentas wayang orang setiap malamya.


Hanya Ami, putrinya yang tak pernah meminta bahkan menuntut apapun yang ia inginkan. Berbanding terbalik dengan Sri, adik nya yang selalu menangis jika keinginanya tidak terpenuhi. Maka dengan susah payah sang ayah membuatkan sepeda rakitan, yang seluruh komponenya ia dapatkan secara perlahan (mencicil). Ditambah usapan cat semprot bekas yang ia bawa dari pabrik.


Hingga pada minggu sore, terbentuk lah sepeda jengki...



"Miii! Amiii!" Panggil pak Soemani, setengah berteriak. Ia tahu, anaknya sedang ada di sumur belakang.


"Ia, paaak" Sahut Ami sambil berlari kedepan rumah membawa serbet. Pasalnya, ia sedang mencuci sayur yang akan di masak ibunya.


"Sini, ini sepedamu sudah jadi. Kamu coba dulu" Ucap ayahnya saat Ami datang dari samping rumah.


"Wuuuaah!" Seru Ami melihat sepeda barunya. Ia senang sekali hingga matanya membulat, melihat sepeda birunya. "Gak kalah sama yang baru, pak!" katanya sambil mengitari sepeda itu.


"Coba dulu, nanti boncenganya juga sekalian. Bapak lihat kuat tidaknya buat boncengin ibumu" Guraunya.

__ADS_1


Ibu yang mendengarkan dari dalam rumahpun tertawa, "Memangnya Ami berani boncengin ibu? Bersepeda ke jalan besar aja dia takut... Hahahaha..." Merekapun tertawa serentak.


Sejak kejadian tabrakan dengan penjual pisang, Ami hanya beberapa kali naik sepeda sendiri dan hanya si sekitar gang rumahnya. Entah bagaimana nantinya Ami naik sepeda sendiri ke tempat kursus atau ke pasar malam yang jalurnya lebih ramai. Semua ada hal 'pertama kali'.


'Bisa buat boncengan sama mas Kamto, ni... Untung ada mas Kamto, sepertinya aku masih takut naik sepeda ke jalan besar' monolog Ami dalam hati.


Setelah beberapa kali mencoba, di pastikan sepeda Ami aman untuk di kendarai. Bahkan saudara-saudara Ami ikut senang melihatnya. Sekarang, Ami tak perlu berjalan kaki terlalu jauh ataupun mencari tumpangan orang lain lagi.


Keesokan harinya, Ami melajukan sepeda melewati jalan kecil gang pinggir rumah Kamto. Di sepanjang jalan yang ia lewati, bertemu beberapa orang tetangga dan bertegur sapa. Ia melihat binar kekaguman di mata mereka saat melihat sepeda yang ia gunakan.


Ami menjejak keras pedal sepedanya, membuatnya melaju kencang. Ia berusaha menyeimbangkan sepedanya di jalur yang sempit, di antara pepohonan. Dan jarinya bersiap untuk menarik tuas rem.


Kamto yang mendengar suara sepeda yang mendekat, segera melangkah ke samping dan nerhenti. Berharap sang empu sepeda mendahuluinya. Tapi ia di buat kaget dengan sepeda yang berhenti mendadak tepat di hadapanya.


"YEEEEE!" teriak Ami sambil turun dari sepeda.


"Astaga, ini anaaaak... Bikin orang kaget saja!" Ujar Kamto sambil menggelengkan kepala. Lalu perhatianya beralih kepada sepeda Ami.

__ADS_1


"Wuaaah, pak Soemani lihai juga bikin sepeda... Ini asli bikin sendiri, Mi?" Tanya Kamto sambil mengitari sepeda dengan perasaan kagum.


"Iya dong..." Jawab Ami bangga.


"Kalau gitu, ayo aku boncengin." Ucap Kamto sambil mengambil alih stang sepeda. Ia duduk dan melajukan sepeda setelah memastikan Ami duduk dengan nyaman.


Hari demi hari mereka jalani dengan tenang. Hubungan mereka yang tak di restui membuat keduanya mengambil jalur belakang untuk pacaran. Karena usia Ami yang kebih muda, membuat Kamto lebih protective pada Ami.


Tapi, suatu saat rahasia mereka pasti tercium oleh orang tua kedua belah pihak. Bagaimanapun, suatu hubungan tak akan berjalan dengan baik tanpa adanya restu dari orang tua.


🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮


Hi readers😊 ada salam dari Ami untuk kita semua, 'semoga selalu di beri sehat ya...' katanya.


Ia berpesan... Semua di jalani seperti air mengalir. Jika kau anggap sanggup untuk melawan arus, maka lawanlah dengan optimis. Jika terlalu berat untuk melawan, maka biarkan saja. Terima dengan ikhlas 😊


Jangan lupa bahagia😉

__ADS_1


__ADS_2