
Setelah acara pernikahan Surti, Ami seakan kehilangan semangat. Masih terngiang-ngiang kata-kata bu satirah yang menusuk relung hatinya. Dan ia tau, perasaan yang sama di alami ibundanya. Bahkan Bu Widji yang biasa kepasar sendiri, lebih memilih mengutus anak nya Nar untuk berbelanja.
Malam itu, rumah Pak Soemani sepi tanpa canda tawa. Satu persatu anggota keluarga makan tanpa bicara. Dan mereka menjalankan rutinitas masing masing seperti biasanya.
Bahkan si bungsu Sri yang biasa bersendang gurau, terlihat malas dan memilih masuk kamar neneknya. Pak Soemani yang lelah setelah seharian bekerja, minta di pijit pada istrinya. Hanya Ami yang setia dengan mesin jahitnya di ruang tamu.
Terdengar langkah kaki mendekat, dan Ami tahu siapa pemiliknya. "Masuk sini bayar lo" Celetuk Ami. Ia paling suka menjahili pemuda satu ini, mungkin karena masih terhitung kerabat jauh.
"Aku sudah bayar sama Ibumu, itu cukup untuk beli minyak berbulan-bulan" Sahut Nano memasuki ruang tamu sambil membawa beberapa bundel kertas.
"Kok banyak, Mas?" Tanya Ami heran melihat kertas yang dua kali lipat banyaknya dari biasanya.
"Aku kemaren kan seharian di rumah Surti, malam sudah lelah dan tak kuat mataku mengerjakan ini." Sahutnya sambil menata sebagian kertas di atas meja.
"Tak bantuin, mau?" Tanya Ami sambil meringkas mesin jahitnya.
"Boleh kalau kamu gak keberatan" Jawab Nuno sambil memasang senyum termanisnya.
Ami lantas duduk bersimpuh, mengambil posisi berhadapan dengan Nuno. Ia memperhatikan beberapa lembar kertas, lalu berusaha memahami artinya.
"Kamu hanya perlu membaca dan aku akan mencatatnya kedalam buku." Ucap Nano memberi arahan. Dan merekapun mulai mengerjakan bersama.
__ADS_1
Nuno bekerja di dinas perkebunan kota Blitar. Pekerjaanya mendata tanaman dan mencatatnya dalam pembukuan. Hampir setiap hari ia mengerjakannya di rumah Pak Soemani. Tak ayal, Ami dan Nuno sebetulnya sudah semakin dekat tanpa mereka sadari.
"Mas... Mas Nuno putus sama Mbak Tantri?" Tanya Ami, di sela-sela kegiatan mereka.
Nuno seketika menghentikan kegiatan menulisnya, mendongak ke arah Ami. Matanya menyipit, penuh pertimbangan. Ia tahu, siapa yang telah membocorkanya. Jeda beberapa saat, sebelum ia meneruskan tulisanya.
"Bukanya kamu sendiri yang sudah menjahilinya dengan kaleng itu? Kenapa...? Merasa bersalah?" Tanya Nuno, tenang.
"Bukan itu... Ya maaf, kalau kita selalu jahil sama Mas... Tahu nggak, mas di jadikan bahan gosip ibu-ibu sini. Mereka penasaran, siapa nanti yang bakal jadi calon istrimu. Cuma itu" Jawab Ami, merasakan wajahnya menghangat setelah sadar yang telah ia katakan.
Nano melirik Ami sekilas sambil menahan senyum. Ia tahu, Ami malu karena ia melihat semu merah pada pipi gadis itu. Nano menulis cepat nominal terakhir, lalu meletakan penanya di atas kertas. Ia menatap Ami sambil merenungkan apa yang akan ia katakan.
"Aku akan buat pengakuan sama kamu, dengar baik-baik. Aku suka sama kamu sejak kamu masih suka ambil batu bara di sepanjang rel kereta. Dan waktu kamu masih ceroboh hingga membuat seorang lelaki tua kehilangan sebagian pisang daganganya." Kenang Nuno sambil memperhatikan raut wajah kaget di wajah Ami.
"Waktu itu mas Tris pertama kali kost di sini dan bersekolah di STM sore. Aku ikut mengantar dan melihat-lihat suasana kota. Aku mengikuti gadis kecil yang berjalan lincah membawa batu bara dalam bajunya, masuk rumah yang aku ingat rumah Mbah Jah sepupu mbahku." Ceritanya pada Ami.
"Aku pikir, ingin mendekatimu jika kamu dewasa. Ternyata, aku terlambat selangkah dari Kamto. Kamu lagi mesra-mesranya sama Kamto waktu aku pertama kost di sini, kan?" Tanya Nuno.
Lidah Ami kelu, ia tak dapat mejawab. Hanya menganggukan kepala, membenarkan. Perasaanya berkecamuk, takjub dan setengah tak percaya.
"Tantri itu temanku, sudah dari SMP. Dia memang mengikutiku kemana-mana. Karena aku tahu dia suka sama aku, dan kamu pacaran sama Kamto... Ya aku terima saja dia. Tak di sangka, dia sudah di jodohkan oleh orang tuanya. Kemarin itu, dia berpamitan sambil membawa surat undangan." Sambung Nuno.
__ADS_1
Nuno dan Ami saling betpandangan dalam keheningan beberapa saat. Lalu tangan Nuno terulur, meraih telapak tangan Ami dan menggenggamnya.
"Kamu yakin gak mau ngejar Kamto lagi?" Tanya Nuno, sambil mengusap lembut telapak tangan Ami yang dingin.
Lagi-lagi, Ami hanya mampu menganggukan kepala sambil tersenyum ragu. Sesungguhnya dia grogi, rasa yang tak pernah muncul sebelumnya saat bersama Nuno.
"Kamu suka gak, sama aku?" Tanya Nuno lagi.
Ami melebarkan matanya kaget, lalu menundukan kepala. Ia menarik nafas panjang dan mengangguk samar, tapi masih terlihat jelas oleh Nuno.
"Besok aku bicara sama Bapakmu, sebelum keduluan orang lain. Boleh?" Tanya Nuno lagi dan merasa gemas melihat tingkah Ami.
Ami mendongak, menatap Nuno merekahkan senyum diantara rona pipinya sebagai jawaban. Iya.
🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸
Hi readers😊 Terjawab sudah tekateki siapa jodoh Ami😁 Author ngempet waktu ada yang komen baper perginya Topo😅 Ya, Topo memang cinta pertama Ami. Tapi bagi Nuno, Ami adalah cinta pertamanya😇.
Cerita akan semakin menarik, juga beberapa konflik. Tapi sebelunya ada sedikit catatan. yang penasaran soal batu bara. Karena awet untuk pembakaran. Ami sendiri anak yang pintar, ia tahu arang itu berguna sekali. Mubazir jika tidak di ambil, karena yang jatuh akan terbuang.
Terimakasih sudah mengikuti cerita Ami, jangan lupa bahagia😘
__ADS_1