Nikmatnya Ikhlas

Nikmatnya Ikhlas
WARUNG KOPI


__ADS_3

Suasana remang dalam gubuk pinggir rel kereta api, tidak menutupi keramaian di dalamnya. Belasan orang yang memenuhi 3 bangku panjang menghadap si penjual kopi, sedangkan sebagian duduk di luar warung sambil bercengkrama. Beragam jajanan di sajikan di meja, seperti kacang goreng, kacang rebus, tebu iris, gorengan, juga nasi bungkus daun pisang dan daun jati.



Kamto masuk ke dalam warung dengan sedikit membungkukan badan, di sertai Ami. Mereka duduk sedikit ber dempetan karena ramainya pelanggan. Saat itu waktunya bubar sekolah dan pekerja pabrik, hingga warung yang biasa lenggang menjadi ramai pelanggan.


"Ngopi, mas?" Tanya si penjual.


"Kopi biasa satu, bu." Jawab Kamto, lalu bertanya pada Ami. "Kamu gak ngopi kan? Mau teh anget apa wedang jahe?"


"Aku teh manis anget aja." Jawab Ami.


"Teh manis angetnya satu, bu." Ucap Kamto pada ibu penjual kopi.


"Kopi satu, teh manis anget satu ya mas" Ulangnya. "Mau makan apa, silahkan. Ada sompil (lontong sayur), kicak cenil...?" Tanya ibu itu.


"Kamu mau makan apa, Mi?"


"Aku pingin kicak, mas..." Jawabnya.


"Kalau gitu... Kicak satu, sompil satu ya bu." Ujar Kamto pada ibu penjual kopi.


"Baik, gus" Sahutnya.

__ADS_1


"Yang di bungkus daun jati itu apa mas?" Tanya Ami. Karena yang ia tahu hanya nasi pecel yang di bungkus daun pisang.



"Itu nasi rames" Jawab Kamto.


"Mas sering mampir sini?"


"Hanya kalau tidak sama bapak, kalau nunggu bapak ya aku ngopi depan pabrik" Sahutnya. "Aku lihat bapak kamu bawa roda sepeda, apa mau ngerakit sendiri?" Tanyanya.


"Mas kan tahu sendiri, kita gak bisa beli sepeda baru. Kata bapak, hari senin sudah bisa di pake" Jawab Ami.


"Ini gus, kopi sama tehnya." Ucap ibu penjual kopi pada kamto sambil meletakan secangkir kopi yang masih panas dan satu gelas teh.


"Nanti kalau sepedamu jadi, tak boncengin mau? Sepedaku kan di pakai adik sekolah, motor di pakai bapak. Rencanaku mau beli motor baru tahun depan, uangnya masih belum cukup." Tawar Kamto.


"Tapi kalau bapak tau, gimana?" Jawab Ami, khawatir.


"Kita lewat jalan terabasan, gak bakal ada yang tahu." Nego Kamto. Dia memang sering pulang dengan melewati jalan yang berbeda, sehingga tahu jalan mana yang sekiranya sepi di lewati.


"Terserah, pokok aku gak mau sampai ada yang tau. Nanti sepedaku bisa di sita." Ucap Ami ketus. Tapi tidak membuat Kamto jera karena menurutnya, semakin kesal Ami maka semakin menggemaskan pula kelakuan gadis itu di matanya.


"Ini sompil dan kicaknya gus, ailahkan" Ucap ibu penjual kopi sambil memberikan dua pincukan kepada Kamto.

__ADS_1


"Terimakasih bu" Jawabnya sambil mengulurkan sepincuk kicak pada Ami.


Kicak



Mereka berdua melanjutkan makan sambil mengobrol ringan. Saling bercerita tentang keluarga masing-masing. Mulai hari itu, Ami dan Kamto mulai dekat dan selalu berdua walau secara diam-diam. Hanya saat Ami pergi berlatih dan pentas wayang orang yang di antar jemput kakak pererempuannya.


🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮🌸💮


Hi readers😊


Bab ini author memberi gambaran Warung Kopi jaman dulu. Ada beberapa penjelasan tentang beberapa kata di dalamnya.


Sompil berbeda dengan lontong sayur, sebetulnya. Tapi kebetulan saya menemukan foto asli dari Tulungagung. Mungkin sudah dapat di lihat kan, sompil tidak berkuah seperti lontong sayur kebanyakan.


Sompil



Kalau pincuk sendiri, sudah tahu kaaaan...


Panggilan 'gus' singkatan dari 'bagus' (cakep/ganteng) dalam bahasa daerah. Dan 'yu' singkatan dari 'ayu' (cantik) untuk perempuan. Panggilan ini umum di pakai hingga sekarang oleh sebagian orang jawa.

__ADS_1


Jika ada yang kurang jelas, bisa di tanyakan di kolom komen😊 jangan lupa bahagia😉😘


__ADS_2