
Rion terus berputar-putar mencari alamat Luna karena sedari tadi dia selalu nyasar dan tidak dapat menemukannya . Entah mengapa dia menjadi tak tega membangunkan gadis cantik yang tengah terlelap itu . Hingga setelah sekitar 2 jam dia menyusuri jalanan akhirnya Rion berhasil menemukannya , namun mobilnya tidak bisa masuk dan hanya bisa berhenti di depan gang saja karena gang rumah Luna terlalu sempit untuk mobil masuk .
Sesaat setelah Rion menghentikan mobilnya dia pun melihat ke sekitar yang tenyata sangatlah sepi . Kemudian dia pun melihat ke arah jam tangannya yang sudah menunjukan pukul 3 pagi . Dengan ragu Rion pun akhirnya menepuk nepuk pundak Luna untuk membangunkannya .
" Hei hei bangunlah ..., Hei "
Rion segera menjauhkan tangannya saat melihat gadis di sebelahnya itu mulai bergerak .
"Eughhh..., Hwahhh , ini dimana ? "
Gumam Luna sembari menguap dan masih setengah sadar , dia pun berusaha untuk membuka matanya dan mengumpulkan nyawanya .
" Kau sudah ada di gang rumahmu sekarang , cepat turunlah ! " Ucap Rion dengan datar .
Ucapan dari bos nya ini seketika membuat matanya terbuka lebar dan nyawanya terkumpul secara keseluruhan .
" Apa ! Di rumahku ? "
Tanya luna terkejut dan terlihat panik .
" Hemm ."
Jawab Rion hanya dengan deheman saja .
" Bagaimana bisa aku berada di sini ? A..apa tuan yang membawaku ? "
Tanya Luna dengan sedikit ragu .
" Siapa lagi.., apa kau melihat orang lain disini selain aku . "
Jawab Rion dengan malas disertai dengan ekspresi dinginnya .
Mendengar jawaban dari bos nya itu Luna pun merasa malu dan sungkan terhadapnya . Meskipun dia selalu jengkel karena Rion terus saja menyusahkannya namun untuk saat ini dia mengesampingkan sejenak rasa kesalnya itu . Luna pun jadi tak berani menatap mata pria yang ada di sebelahnya itu , dengan menunduk Luna pun akhirnya memberanikan diri untuk membuka suara nya dan mengatakan sesuatu dengan sangat pelan .
" Terimakasih tuan , saya merasa sangat tidak enak karena tuan..."
Belum selesai Luna bicara Rion pun langsung memotongnya dengan nada yang terdengar tajam .
" Tidak usah di teruskan , karena aku sama sekali tidak perduli . Dan jangan coba memikirkan hal yang mustahil hanya karena aku mengantarmu pulang . "
Mendengar itu rasa sungkan Luna pun lenyap seketika dia merasa sangat jengah dengan sikap dingin pria menyebalkan yang ada di sebelahnya ini .
" Memangnya aku akan memikirkan apa ? Dia itu benar benar pria yang tidak memiliki hati . Ingin rasanya aku mencabik - cabik wajah arogannya ini . "
Batin Luna seakan ingin berteriak meluapkan amarahnya ini .
Kemudian Luna dengan cepat meraih tas nya yang berada di jok belakang , dia mengambil ponselnya guna untuk melihat jam berapa sekarang .
" Aishhh , ibu pasti akan menghajar ku habis habisan jika aku pulang jam segini , ya ampun aku harus bagaimana . "
Gumam nya lirih namun masih bisa terdengar oleh Rion .
Luna pun menghela nafasnya dengan kasar dan dengan perlahan dia keluar dari mobil Rion dan segera pergi tanpa berkata apa pun .
Melihat Luna keluar dari mobilnya Rion pun masih tetap memasang raut wajah dingin tanpa menoleh sedikitpun ke arah asisten pribadi nya itu .
Selang beberapa detik tiba tiba Luna di kejutkan saat merasa ada yang meraih tangannya dari belakang hingga membuatnya harus membalikkan tubuhnya .
" Tuan Rion . "
Luna pun seketika membulatkan matanya saat melihat pria tampan dan tinggi yang kini telah menjadi bosnya itu sedang memegang tangannya .
" A..a..aku hanya ingin mengatakan agar jangan terlambat ke kantor besok , dan langsung ke ruangan ku ."
Ucap Rion dengan sedikit gugup namun rasa gugup itu tertutupi oleh wajah dinginnya . Hingga keduanya pun saling bertatapan.
Deg...
Jantung keduanya pun saat ini sedang berdetak kencang . Luna yang merasa ada sesuatu yang aneh dalam dirinya saat bosnya itu menatapnya dan menggenggam tangannya. dengan secepat kilat Luna pun segera mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
" Baiklah tuan , bisakah saya pergi sekarang ? "
Ucap Luna dengan melirik ke arah tangannya seakan memberikan kode agar Rion melepaskan tangan Luna yang sedari tadi di genggam nya .
Rion yang menyadari tangannya masih memegang erat tangan Luna seketika langsung melepaskan nya dengan kasar , kemudian Luna pun segera berjalan pergi , begitu pun dengan Rion yang langsung kembali ke mobilnya .
Tanpa disadari sedari tadi terlihat seorang wanita yang memperhatikan mereka dari balik jendela rumah yang terletak di dekat gang itu .
" Cihh , dia sama saja dengan kakaknya benar benar wanita ****** ."
Ucap wanita itu dengan geram dan sangat terlihat jelas kebencian di matanya .
__________
Luna yang sudah satu jam berdiri di depan pintu rumahnya pun akhirnya mengumpulkan nyali untuk mengetuknya .
Tok...tok...tok
Ketika pintu perlahan terbuka Luna seketika langsung berlutut dengan wajah yang tertunduk sembari menjelaskan .
" Ibu tolong jangan marah , sebenarnya aku semalam banyak pekerjaan dan aku lupa mengabari ibu , dan ponselku ..."
Ucap Luna dengan cepat sembari menyatukan kedua tangannya dan memohon di bawah kaki wanita paruh baya yang tak lain adalah ibunya itu , namun belum selesai dia menjelaskan , ibunya segera menghentikan bicaranya dan menenangkannya . Hal itu membuat Luna sedikit terkejut .
" Astaga sayang mengapa kau memohon seperti ini.., ibu tau semuanya bagaimana kau bisa bilang kau bersalah padahal kau telah melakukan hal hebat "
Ucap Aida sembari membantu putrinya itu berdiri . Luna yang bingung dengan sikap ibunya itu pun meminta penjelasan pada nya .
" Apa maksud ibu ? "
Ekspresi wajah Aida yang terlihat sangat bahagia ini membuat Luna semakin tidak mengerti , karena biasanya jika Luna pulang larut tanpa mengabarinya sudah bisa di pastikan dia akan terus mengomelinya , tapi berbeda dengan apa yang di lihatnya sekarang bahkan saat dirinya pulang menjelang pagi tanpa kabar , ibunya hanya tersenyum saja sedari tadi .
Aida yang melihat raut wajah putrinya yang heran akan sikap nya ini pun hanya tersenyum dan kemudian menjelaskan semuanya .
"Seseorang menelpon ibu , dia mengatakan bahwa kau sedang mengerjakan tugas penting dengan pimpinan perusahaan GRACHINE GROUP dia juga mengatakan bahwa kau sekarang adalah asisten pribadi pimpinan . "
Tanya Luna yang sedikit terkejut setelah mendengar ucapan ibunya ini .
" Awalnya ibu mengira dia hanya orang gila yang menelpon ibu dengan iseng , karena mana mungkin kau bekerja di perusahaan sebesar itu jika mengingat pendidikan mu ."
Ucap Aida dengan penuh antusias dia menceritakan semuanya pada Luna .
" Ibu pun tidak menanggapinya hingga ada sebuah pesan masuk dan dia mengirimkan beberapa foto ."
Sambung nya yang seketika membuat Luna mengerutkan dahinya.
" Foto ? foto apa ? "
Ucap Luna yan penasaran dengan foto yang disebutkan oleh ibunya itu.
Aida pun menunjukan foto yang di kirimkan seseorang padanya .
Mata luna Seketika membulat saat melihat fotonya bersama dengan bosnya saat hendak memasuki mobil .
"Astaga ..., Ibu sangat bangga padamu . Bahkan kau sekarang bisa menjadi kaki tangan tuan muda ibu sangat tidak menyangka ."
Ucap Aida dengan terharu dan terus memeluk putrinya itu .
Luna pun hanya bisa diam dan tersenyum tipis melihat kegembiraan di wajah ibunya . Padahal dalam hatinya meronta ronta mengingat menjadi asisten Rion adalah sebuah penderitaan baginya dan bukan sebuah keajaiban . Namun dia akan tetap menutupinya dari ibunya karena tidak ingin membuatnya cemas dan Luna pun sudah cukup senang saat melihat senyuman sang ibu seperti saat ini .
Hingga sebuah teriakan seketika membuyarkan kebahagiaan yang tengah di rasakan Aida .
"Hei dasar ******..., Pergilah dari sini ! kami tidak ingin lingkungan ini tercemar karena perbuatan kotor mu itu "
Teriak seorang wanita paruh baya yang datang bersama dengan para warga .Dia adalah Bu Sally , seseorang yang mengintip Luna dan Rion dari balik jendela . Dia juga yang mengumpulkan warga dan memprovokasi nya agar mengusir Luna dan juga ibunya .
"Yaa.., sudah cukup putri sulung mu mencemari lingkungan kami dengan anak haram nya itu , kami tidak akan menerima kelakuan anakmu lagi kali ini "
Sambung salah satu warga dengan menunjuk ke arah Aida .
__ADS_1
" Apa maksud kalian ? Memangnya apa yang anakku lakukan ? "
Tanya Aida dengan bingung dan raut wajah yang ketakutan karena melihat banyaknya warga yang sudah mengepung rumahnya itu .
" Cihhh..., Ibu dan anak sama saja , tidak usah bersandiwara dan cepat angkat kaki dari sini ! "
Ucap sally dengan lantang dan penuh penekanan .
" Aida apa kau benar benar tidak tau jika putri kesayangan mu ini pulang bersama dengan seorang pria di jam 3 pagi , Luna itu sama saja dengan Steyla , kedua putrimu itu benar benar memalukan dan sangat murahan . "
Sambung nya dengan tertawa mengejek sembari menyilangkan lengannya .
Ucapan Sally ini membuat Aida sangat geram hingga ingin menampar wanita berbisa itu namun dengan segera Luna menghentikan nya .
Sally pun hanya terkekeh dan membuang muka ketika melihat reaksi dari Aida seakan tak perduli jika ucapannya itu telah menyayat hati Aida sebagai seorang ibu . Kemudian dia beralih menatap ke arah Luna yang terlihat letih dah kurang tidur .
" Hei Luna.., wajahmu terlihat begitu lelah , sepertinya kau sangat memuaskan pria itu semalam . "
Sindir Sally dengan tersenyum sinis yang seketika membuat Luna mengepalkan kedua tangannya menahan amarah , dalam hatinya ingin sekali dia merobek mulut wanita ular itu . Namun dia berusaha untuk meredam nya dan membalas wanita ular itu dengan cara yang lebih pintar dibandingkan dengan kemarahan .
"Cukup !!! Hentikan aku diam karena mengingat usiamu . Tapi tidak lagi.., memangnya apa urusanmu ?"
Ucap Luna dengan sedikit menaikan nada bicarannya .
Sedetik kemudian dia pun mulai meredam emosi nya dan menghela nafasnya dengan kasar .
" Kau sangat perhatian padaku hingga kau repot repot menguntitku dan mencari tau semuanya benar begitu ? "
Sambungnya dengan nada bicara yang lebih santai dari sebelumnya .
"Baiklah semuanya , bu sally sudah sangat perhatian padaku hingga menguntitku setiap hari , jadi dia pasti punya buktinya bukan ? jika aku bermalam dengan seorang pria ."
Ucap Luna yang berusaha meredam kemarahan para warga yang telah termakan oleh fitnah Sally .
" Sekarang tunjukan ! "
Titah Luna kemudian dengan tatapan tajam ke arah Sally .
Ucapan Luna seketika membuat Sally kaku dan pucat seakan sekarang dia sedang menerima serangan balasan dari gadis di depannya ini .
Melihat ekspresi Sally yang sedari tadi diam seperti patung seketika para warga pun saling menatap satu sama lain hingga Luna melanjutkan bicaranya .
" Dengan sangat cepat kau mampu mengumpulkan warga dan menyimpulkan sesuatu , sekarang tunjukkanlah buktinya !"
" Jika melihat bagaimana kau berteriak , seperti nya kau sangat yakin jika aku melakukannya jadi di mana buktinya ? Kau memotret nya bukan ? "
Luna terus saja memojokkan Sally tanpa ampun , dia sudah sangat geram dengan ulahnya pada keluarganya selama ini , dia pun sudah bisa menebak bahwa Sally lah dalang di balik kemarahan warga saat ini .
Warga yang mulai mencerna setiap ucapan yang di lontarkan Luna pun akhirnya meminta pertanggungjawaban dari sang pelapor .
"Hei bu sally apa kau mengumpulkan kami kemari tanpa bukti ? "
" Iya...mana buktinya ? "
" Apakah kau hanya mengarang nya saja ?"
Sally pun semakin jengah dan merasa di permalukan saat para warga mulai mencecar nya dengan beberapa pertanyaan .
Menyadari dirinya semakin terpojok Sally pun langsung pergi begitu saja dengan raut wajah kesal .
Melihat kepergian Sally tanpa mempertanggungjawabkan ucapannya membuat para warga kesal karena merasa di permainkan .
" Astaga membuang waktu saja . "
Gumam beberapa warga dengan kesal setelah itu mereka pun beranjak pergi.
Bersambung.....
🌴🌴🌴
__ADS_1